Mark Doyle, Jurnalis Legendaris BBC yang Meliput Genosida Rwanda, Tutup Usia di 67 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Mark Doyle, mantan koresponden BBC untuk Afrika, meninggal dunia pada usia 67 tahun setelah sakit singkat.
- Doyle dikenal karena liputan konflik Rwanda 1994, Sierra Leone, dan Liberia, yang memberinya penghargaan PBB.
- Kepergiannya menyisakan pertanyaan tentang keberlanjutan jurnalisme konflik di era digital yang serba cepat.

Jurnalis veteran BBC, Mark Doyle, meninggal dunia pada Selasa (22/09/2026) setelah menderita sakit singkat. Pria berusia 67 tahun itu dikenal luas karena liputan mendalam dari berbagai zona konflik di Afrika selama dekade 1990-an dan 2000-an, terutama genosida Rwanda pada 1994.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh BBC, memicu gelombang penghormatan dari kolega dan publik. Paul Danahar, editor luar negeri BBC, menyebut Doyle sebagai "figur legendaris" dan "reporter brilian, berani, serta penuh empati". Senada, presenter Jeremy Vine menulis di media sosial, "Reporter hebat. Sangat dihormati."
Mark Lowen, presenter dan koresponden BBC News, mengenang pengalamannya bekerja bersama Doyle di Rwanda dan Kongo. "Saya memproduseri Mark saat masih berusia 24 tahun, seorang pemula di BBC, untuk liputan perang Kongo dan penambangan ilegal. Pada 1994, dunia bergantung pada laporannya tentang genosida Rwanda. Dia tak kenal takut, cerdas, dan baik hati," tulis Lowen di platform X.
Karier Doyle di BBC dimulai pada 1986. Tujuh tahun kemudian, ia ditugaskan sebagai koresponden Afrika Selatan, tepat sebelum negara itu mengakhiri apartheid. Dari 1997 hingga 2002, ia menjadi koresponden Afrika Barat dan melaporkan perang saudara Sierra Leone yang brutal. Puncak kariernya adalah sebagai koresponden World Affairs BBC hingga pensiun pada 2015.
Rekan sejawatnya, Fergal Keane, yang juga koresponden BBC untuk Afrika, memuji dedikasi Doyle di Rwanda. "Dia bertahan lebih lama dari kami semua. Mereka yang berada di tempat mengerikan itu akan tahu apa yang Mark Doyle berikan untuk kebenaran dan BBC," ujarnya kepada BBC.
"Apakah saya melihat momen akhir hidup seseorang, saya tidak bisa memastikan. Yang jelas, saya melihat orang-orang yang baru saja dibunuh dan menyaksikan serangan massal. Saat berada di truk militer Prancis yang mengevakuasi warga, saya melihat seseorang diserang dengan obeng. Seluruh situasi sangat menakutkanโterutama bagi orang Rwanda, tapi juga bagi saya, meski saya di samping tentara Prancis."
โ Mark Doyle, dalam wawancara dengan Frontline.
Bagi industri media di Indonesia, sosok Doyle menjadi rujukan tentang pentingnya liputan konflik yang berimbang dan berani. Di tengah banjir informasi digital, prinsip jurnalisme verifikasi dan empati yang ia pegang relevan untuk diadopsi media nasional. Kiprahnya juga mengingatkan bahwa liputan dari daerah konflik sering kali menjadi sumber utama pemahaman global tentang krisis kemanusiaan.
Meski tidak ada kaitan langsung dengan Indonesia, warisan Doyle menyoroti peran koresponden perang dalam membentuk opini publik internasional. Media Indonesia yang mulai mengurangi liputan luar negeri karena tekanan ekonomi dapat belajar dari komitmen Doyle terhadap isu-isu global. Pertanyaannya, mampukah generasi jurnalis berikutnya mempertahankan standar keberanian dan kedalaman liputan seperti yang ditunjukkan Mark Doyle?



