Ferry Terbakar di Perairan Bali: 114 Penumpang Dievakuasi, Insiden Kedua dalam Sepekan
Baca dalam 60 detik
- Kapal penumpang rute BaliโLombok terbakar pada Selasa dini hari, memicu evakuasi 114 orang oleh kapal TNI AL dan kapal lain.
- Ini merupakan insiden kebakaran kapal kedua dalam sepekan terakhir, menyusul tragedi di perairan Jawa yang menewaskan lima orang.
- Rentetan kecelakaan laut ini kembali menyoroti lemahnya standar keselamatan pelayaran di Indonesia, yang menuntut perbaikan regulasi dan pengawasan.

MATARAM โ Sebuah kapal feri yang tengah berlayar dari Bali menuju Lombok terbakar pada Selasa (11/8) dini hari, memaksa evakuasi lebih dari seratus penumpang. Kapal perang TNI Angkatan Laut dan sejumlah kapal lain dikerahkan untuk menjemput para penumpang yang selamat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, namun insiden ini menjadi yang kedua dalam kurun waktu kurang dari sepekan.
Menurut manifes, setidaknya 114 orang berada di atas kapal saat api mulai berkobar. Muhamad Hariyadi, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram, membenarkan bahwa jumlah penumpang masih diverifikasi. Evakuasi dilakukan dengan melibatkan tiga armada berbeda, termasuk kapal milik TNI AL dan satu kapal feri lain. Helikopter juga diterjunkan untuk melakukan pengawasan dari udara.
"Hingga saat ini, kami belum menerima laporan adanya korban jiwa," ujar Hariyadi kepada Metro TV. "Kami telah mendekati kapal dan memastikan seluruh penumpang sudah tidak berada di atas kapal." Pernyataan ini memberikan sedikit kelegaan di tengah ketegangan, namun juga memunculkan pertanyaan besar: mengapa kecelakaan laut sejenis terus berulang di Indonesia?
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah kebakaran kapal di perairan Jawa yang merenggut lima nyawa. Sebelumnya, pada bulan lalu, sebuah kapal yang mengangkut lebih dari 70 orang tenggelam di dekat Selayar, Sulawesi Selatan. Empat jenazah ditemukan, sementara 14 lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang. Data ini menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: kecelakaan laut di Indonesia bukan lagi sekadar risiko, melainkan sebuah krisis keselamatan yang berulang.
Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau, sangat bergantung pada transportasi laut. Namun, standar keselamatan yang longgar dan cuaca yang tidak menentu kerap menjadi biang keladi. Para pengamat menilai, regulasi yang ada belum diimplementasikan secara ketat di lapangan. Banyak kapal beroperasi tanpa memenuhi persyaratan keselamatan dasar, seperti ketersediaan jaket pelampung yang memadai, prosedur evakuasi yang jelas, dan pemeriksaan berkala yang menyeluruh.
Konteks Indonesia menjadi krusial di sini. Sebagai negara kepulauan, transportasi laut adalah urat nadi perekonomian dan mobilitas warga. Namun, insiden beruntun ini menunjukkan bahwa keselamatan penumpang masih menjadi isu yang terabaikan. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sebenarnya telah mengeluarkan berbagai regulasi, seperti kewajiban sertifikasi keselamatan dan inspeksi rutin. Namun, implementasi di lapangan sering kali terkendala oleh minimnya pengawasan dan lemahnya penegakan hukum.
Para ahli keselamatan pelayaran mendesak adanya audit menyeluruh terhadap seluruh armada kapal penumpang, terutama yang melayani rute padat seperti BaliโLombok. Mereka juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas Badan SAR dan koordinasi antarinstansi dalam penanganan darurat. "Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan respons setelah kecelakaan terjadi. Pencegahan harus menjadi prioritas utama," kata seorang analis transportasi yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah rentetan tragedi ini menjadi titik balik bagi perbaikan standar keselamatan pelayaran Indonesia? Atau justru akan terus berulang, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban? Publik menunggu langkah konkret dari pemerintah, bukan sekadar janji. Sementara itu, evakuasi hari ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik keindahan destinasi wisata, ada risiko yang harus dikelola dengan serius.



