Kisah Penggemar Inggris yang Terinspirasi Klub Brasil: Nama Jonny Butcher di Jersey Coritiba
Baca dalam 60 detik
- Coritiba, klub Serie A Brasil, menampilkan nama penggemar asal Inggris Jonny Butcher di seragam mereka untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit neuron motorik (MND).
- Butcher, yang didiagnosis ALS pada Februari lalu, memiliki ikatan emosional dengan klub Brasil tersebut melalui istrinya yang berasal dari Curitiba.
- Aksi ini menyoroti kekuatan solidaritas dalam olahraga, menginspirasi banyak pihak, termasuk di Indonesia, untuk lebih peduli terhadap penyakit langka.

Dalam laga Serie A Brasil akhir pekan lalu, Coritiba tidak hanya bermain untuk tiga poin, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan yang mendalam. Saat para pemain memasuki lapangan melawan Chapecoense, jersey mereka tidak menampilkan sponsor utama, melainkan nama Jonny Butcher, seorang penggemar asal Norwich, Inggris, yang sedang berjuang melawan amyotrophic lateral sclerosis (ALS), salah satu bentuk penyakit neuron motorik (MND).
Butcher, 29 tahun, didiagnosis mengidap ALS pada Februari lalu. Penyakit ini menyerang sistem saraf, merusak sel-sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang, sehingga menyebabkan otot melemah dan akhirnya berhenti berfungsi. Hingga saat ini, belum ada obat yang mampu menyembuhkan kondisi tersebut.
Kisah Butcher dengan Coritiba bermula dari cinta. Pada Maret 2023, ia bertemu Ana Clara, wanita asal Curitiba, melalui aplikasi kencan Kristen. Kunjungannya ke Brasil beberapa bulan kemudian membuatnya jatuh cinta pada kota tersebut. Kebetulan, Norwich City, klub yang ia dukung sejak kecil, menjalin kemitraan strategis dengan Coritiba pada 2022, sehingga pilihan untuk mengikuti klub Brasil itu terasa natural. Pasangan ini menikah pada 2024, namun diagnosis Butcher mengubah segalanya.
Butcher sempat membuat daftar keinginan yang ingin ia wujudkan selagi masih mampu, termasuk menonton pertandingan Coritiba di Stadion Couto Pereira bersama iparnya. Namun, kesulitan bernapas dan hilangnya mobilitas membuat impian itu sulit terwujud. Mendengar kisahnya, Coritiba pun mengambil inisiatif untuk memberikan penghormatan. Selain menampilkan nama Butcher di bagian depan jersey, tim juga menuliskan pesan: "Kekuatanmu menginspirasi kami. Kami berdiri bersama." Desain jersey juga disertai bunga matahari, simbol internasional untuk kesadaran akan disabilitas yang tidak terlihat.
Setelah lagu kebangsaan Brasil berkumandang, para pemain berfoto dengan spanduk bertuliskan nama Butcher dan tanda tangan dari penggemar, pemain, serta staf. Ana Clara, yang menyaksikan momen tersebut dari Inggris, mengaku terharu. "Kami duduk di sana menyaksikan semuanya dari Inggris, benar-benar kewalahan dan sulit percaya ini terjadi," ujarnya. "Melihat nama Jonny di dalam Couto Pereira, dikelilingi ribuan orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya tetapi memilih untuk mendukungnya, sangat emosional."
Coritiba menyatakan bahwa sebagian jersey akan dikirim ke keluarga Butcher dan sebuah institusi yang memberikan bantuan bagi penderita penyakit langka, termasuk MND. "Tadi malam Jonny berkata dia berharap bisa menjabat tangan setiap orang dan memberi tahu mereka secara pribadi apa artinya ini baginya," tambah Ana Clara. "Kami mungkin tidak akan pernah bisa mengungkapkan rasa terima kasih kami dengan layak, tetapi kami harap mereka tahu bahwa ini adalah sesuatu yang akan kami bawa seumur hidup."
Kisah ini tidak hanya menyentuh hati para penggemar sepak bola di Brasil dan Inggris, tetapi juga relevan bagi Indonesia. Di tengah minimnya kesadaran tentang penyakit langka seperti ALS, aksi Coritiba menjadi contoh bagaimana klub olahraga dapat memanfaatkan platform mereka untuk menyuarakan isu kesehatan. Di Indonesia, dukungan terhadap penderita penyakit langka masih terbatas, dan kisah ini bisa menjadi pengingat akan pentingnya empati dan solidaritas.
Ke depan, pertanyaannya adalah: akankah aksi serupa diikuti oleh klub-klub lain, termasuk di Indonesia? Dengan semakin banyaknya kisah inspiratif seperti ini, harapannya kesadaran publik terhadap penyakit langka akan meningkat, dan para penderita tidak lagi merasa sendirian dalam perjuangan mereka.



