El Niño Super Panas: Proyeksi 451.000 Kematian Berlebih, Indonesia di Zona Paling Rentan
Baca dalam 60 detik
- Laporan terbaru Climate Impact Lab memperkirakan lebih dari 451.000 kematian tambahan akibat panas ekstrem El Niño hingga Februari 2027, dengan Indonesia masuk lima negara paling terdampak.
- Tingkat panas El Niño saat ini telah melampaui rekor historis dan para ilmuwan menyebutnya sebagai 'postcard from our future' yang menggambarkan kondisi iklim 20 tahun mendatang.
- Pemerintah dan lembaga kesehatan didesak memperkuat sistem peringatan dini, pusat pendinginan, dan perlindungan pekerja luar ruang untuk menekan angka kematian.

Gelombang panas ekstrem yang dibawa El Niño super tahun ini diproyeksikan menyebabkan lebih dari 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia hingga Februari 2027, menurut laporan terbaru Climate Impact Lab. Indonesia termasuk dalam lima negara tropis dengan beban kematian tertinggi, bersama Nigeria, Sudan, India, dan Brasil.
Angka tersebut belum termasuk kematian akibat kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang biasa menyertai fenomena El Niño. Laporan ini menggunakan metode peer-review yang menganalisis hubungan bulanan antara suhu dan kematian akibat panas di 24.378 wilayah global, dengan basis data kematian rata-rata bulanan periode 1996–2025.
Prof Michael Greenstone, salah satu penulis laporan dari University of Chicago, menegaskan bahwa angka 451.000 bukan sekadar statistik. "Itu terdiri dari orang tua, anak-anak, kakek-nenek, tetangga, pekerja, dan orang-orang yang merawat keluarga," ujarnya. Ia menambahkan bahwa estimasi ini dapat memandu langkah mitigasi di tingkat regional, seperti perbaikan prakiraan cuaca panas, penyediaan pusat pendinginan, penambahan tenaga medis, dan perlindungan bagi pekerja luar ruang.
El Niño tahun ini telah memecahkan rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk fenomena tersebut, beberapa bulan sebelum puncaknya. Para ilmuwan menyebutnya "mind-blowing" dan "Godzilla-level". Prof Friederike Otto dari Imperial College London mengingatkan bahwa peristiwa ini terjadi di atas sistem iklim yang sudah lebih panas akibat ulah manusia. "El Niño datang dan pergi, tetapi selama kita terus membakar bahan bakar fosil, ia akan terjadi pada baseline yang semakin panas, membuat komunitas semakin sulit beradaptasi," katanya.
Dr Tamma Carleton dari University of California, Berkeley, menekankan pentingnya tindakan darurat saat ini. "Peningkatan respons darurat dan penargetan upaya yang lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini. Namun 20 tahun dari sekarang, kita tidak ingin berada dalam keadaan darurat terus-menerus," ujarnya. Ia mendesak mobilisasi sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi alat yang akan menyelamatkan nyawa di masa depan.
Dampak El Niño juga merambah ketahanan pangan. World Food Programme pada Agustus memperingatkan bahwa fenomena ini dapat mendorong sekitar 50 juta orang ke dalam kelaparan akut dan menaikkan harga pangan. Sejarah mencatat El Niño besar pada 1877–1878 menyebabkan lebih dari 50 juta kematian akibat kekeringan dan kelaparan, dengan India, Brasil, dan Tiongkok sebagai wilayah terparah.
Bagi Indonesia, posisi sebagai salah satu negara paling terdampak menuntut perhatian serius. Sebagai negara tropis dengan populasi besar dan sektor pertanian yang bergantung pada pola musim, kombinasi panas ekstrem, kekeringan, dan gangguan pasokan pangan dapat memicu krisis kesehatan dan ekonomi. Pemerintah perlu mempercepat adaptasi, termasuk memperkuat sistem peringatan dini, menyiapkan fasilitas kesehatan untuk lonjakan kasus heat stress, dan melindungi petani serta pekerja informal dari paparan panas berlebih.
Laporan ini akan diajukan ke jurnal peer-review, tetapi Greenstone menilai menahan publikasi akan tidak bertanggung jawab mengingat urgensi situasi. Ia berharap proyeksi kematian akibat panas dapat memicu tindakan pencegahan seperti halnya prakiraan gagal panen yang telah lebih dulu digunakan untuk peringatan dini.
Dengan El Niño yang diprediksi terus meningkatkan suhu hingga pertengahan 2027, pertanyaannya kini bukan lagi apakah dampak ini akan terjadi, melainkan seberapa siap Indonesia dan negara-negara rentan lain melindungi warganya dari panas yang mematikan.



