AI Mengubah Cara Gen Z Menjalin Relasi: Dampaknya Tak Terlihat tapi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Survei menunjukkan hampir dua pertiga remaja pengguna chatbot memanfaatkannya untuk mencari teman atau nasihat, menandakan pergeseran pola interaksi sosial.
- Para ahli memperingatkan bahwa ketergantungan pada AI untuk dukungan emosional dapat mengikis keterampilan interpersonal dan meningkatkan kesepian, meski pengguna tetap aktif bersosialisasi.
- Fenomena ini berpotensi mengubah dinamika hubungan di Indonesia, di mana nilai gotong royong dan kedekatan personal menjadi fondasi sosial yang perlu dijaga.

Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan anak muda, sebuah fenomena baru muncul: chatbot tidak lagi sekadar alat bantu tugas, tetapi telah menjadi 'lem perekat sosial' yang mengisi celah-celah hubungan interpersonal. Alice Lassman, penulis buku tentang AI dan intimasi, mengungkapkan bahwa banyak Generasi Z yang secara emosional bergantung pada AI, bahkan tanpa mereka sadari. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna langsung, tetapi juga mengubah cara kita semua berinteraksi, termasuk mereka yang tidak pernah menyentuh AI.
Lassman, dalam wawancaranya dengan puluhan orang berusia 20-an dan 30-an di Amerika Serikat dan Eropa, menemukan bahwa mayoritas pengguna chatbot tetap memiliki kehidupan sosial yang aktif. Namun, AI mulai menjadi 'perancah' dalam pengambilan keputusan penting, seperti mendorong perpisahan atau meredakan konflik yang dianggap tidak layak diperpanjang. Seorang pemuda 21 tahun di Jerman, Lavish Daksh, bahkan mengaku bahwa AI membantunya berpikir lebih jernih, tetapi ia juga ingin menghilangkan emosi sepenuhnya dari hubungannya.
Fenomena ini menciptakan apa yang oleh para ekonom disebut sebagai 'eksternalitas negatif'โbiaya tersembunyi yang tidak ditanggung oleh pengguna, melainkan oleh hubungan-hubungan di sekitarnya. Ketika seseorang memilih untuk bercerita kepada chatbot daripada kepada teman, secara perlahan ia menarik diri dari interaksi manusiawi. Mike Jeffcoat, psikoterapis dengan pengalaman 14 tahun, mengakui bahwa ia lebih nyaman berbagi emosi yang menantang dengan AI daripada dengan teman-temannya. Ia bertanya, "Siapa yang bisa jujur, menampung, dan kompeten menghadapi isi alam bawah sadar yang membingungkan?"
Intimasi, menurut Lassman, dibangun melalui paparan berulangโsentuhan, perasaan, ide, dan kepercayaan. Setiap kali chatbot menggantikan peran 'aku mengerti kamu' atau 'keputusan ini paling mewakili dirimu', makna kata-kata itu menjadi sedikit terdevaluasi. Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir dua pertiga remaja yang menggunakan chatbot menggunakannya untuk mencari persahabatan atau nasihat. Namun, penggunaan AI yang intensif sering dianggap tabu; seorang wanita 34 tahun mengaku takut pasangannya akan 'ketakutan' jika tahu seberapa sering ia menggunakan Claude, dan setelah putus, ia menciptakan versi AI dari mantannya untuk memahami perpisahan tersebut.
Di Indonesia, di mana nilai kebersamaan dan gotong royong masih dijunjung tinggi, fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius. Apakah kita akan membiarkan AI mengikis keintiman yang selama ini menjadi perekat sosial? Para ahli mengingatkan bahwa meskipun AI dapat membantu merencanakan kencan atau memberikan kata-kata dukungan, ia tidak dapat menggantikan kehadiran fisik dan empati manusia. Generasi muda Indonesia, yang akrab dengan teknologi, perlu bijak memilah kapan harus berinteraksi dengan manusia dan kapan dengan mesin.
Lassman menutup tulisannya dengan refleksi: "Saya tidak menggunakan Claude untuk kehidupan pribadi saya. Tapi seperti kebanyakan Gen Z, saya lebih rentan terhadap godaannya daripada yang saya kira." Ia mengibaratkan ponsel sebagai bagian dari tubuhnya, sebuah ekstensi dari otak yang tersimpan di saku. Namun, ia mengingatkan bahwa persahabatan kita mungkin akan menderita karenanya. Pertanyaannya kini: akankah kita membiarkan AI menjadi pengganti, atau justru menjadi alat untuk memperkuat hubungan yang lebih manusiawi?



