Maldini Bongkar Kisah di Balik Gagalnya Pirlo Menjadi Pelatih Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini mengungkap bahwa penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih Timnas Italia batal bukan karena masalah hukum, melainkan karena tekanan opini publik dan intervensi presiden FIGC.
- Maldini menyebut Pirlo bersedia melepas kerja samanya dengan perusahaan taruhan Rusia, Fonbet, namun tetap digagalkan oleh Giovanni Malagò yang mengambil alih keputusan pelatih.
- Kegagalan ini memicu pengunduran diri Maldini dari jabatan direktur teknis FIGC hanya setelah 17 hari, menyoroti konflik internal dalam federasi sepak bola Italia.

Paolo Maldini, legenda AC Milan, membongkar kisah di balik gagalnya Andrea Pirlo ditunjuk sebagai pelatih Timnas Italia. Dalam wawancara eksklusif dengan Corriere della Sera, ia menegaskan bahwa tidak ada hambatan hukum yang berarti jika federasi sepak bola Italia (FIGC) benar-benar menginginkan Pirlo. Justru, menurutnya, keputusan tersebut digagalkan oleh opini publik dan intervensi presiden FIGC, Giovanni Malagò.
Maldini, yang sempat menjabat sebagai direktur teknis FIGC, mengungkapkan bahwa ia telah mencoba membujuk Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola untuk mengambil alih kursi pelatih, namun gagal. Ia kemudian mengarahkan pilihan kepada Pirlo, rekan setimnya di Milan, yang kini melatih Dubai United di Uni Emirat Arab. Namun, rencana ini langsung menuai penolakan dari berbagai kalangan, termasuk sebagian internal FIGC.
Kontroversi utama adalah status Pirlo sebagai duta global Fonbet, perusahaan taruhan asal Rusia. Hal ini memicu pertanyaan moral dan etika, serta kekhawatiran akan adanya pelanggaran hukum. Namun, Maldini bersikeras bahwa kekhawatiran tersebut berlebihan. "Tidak ada yang secara hukum menghalangi Andrea menjadi pelatih tim nasional," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Pirlo bersedia mengakhiri hubungannya dengan Fonbet, tetapi opini publik telah "melakukan tugasnya" dan membuat segalanya menjadi rumit.
Maldini juga menyoroti peran Malagò dalam pembatalan ini. Menurutnya, Malagò menelepon dirinya dan Leonardo, direktur teknis lainnya, untuk menyatakan bahwa Pirlo tidak bisa lagi menjadi kandidat. "Dia berkata, 'Mulai hari ini, pelatih adalah urusanku. Mulai hari ini, aturan berubah, aku yang memutuskan pelatih dan kalian mendukungnya'," kenang Maldini. Pernyataan ini dianggapnya tidak dapat diterima, sehingga ia memilih mengundurkan diri setelah hanya 17 hari menjabat, meskipun kontraknya belum resmi dimulai.
Kisah ini menarik untuk disimak, terutama bagi pengamat sepak bola Indonesia. Federasi sepak bola Indonesia (PSSI) juga pernah menghadapi dinamika serupa dalam pemilihan pelatih timnas. Tekanan publik dan intervensi internal sering kali menjadi faktor penentu, seperti yang terjadi pada kasus Pirlo. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan teknis di level tertinggi tidak pernah lepas dari politik dan opini publik.
Maldini juga menyinggung soal kode etik dan dekrit martabat yang dikeluarkan FIGC untuk menghalangi Pirlo. Menurutnya, semua itu hanyalah alasan untuk menutupi keputusan yang sebenarnya diambil atas dasar pertimbangan non-teknis. "Jika ada keinginan tulus untuk menjadikannya pelatih, tidak akan ada hambatan hukum," tegasnya.
Pengunduran diri Maldini menjadi sorotan besar di Italia. Banyak yang menilai bahwa kepergiannya adalah kehilangan besar bagi FIGC, mengingat reputasinya sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa. Namun, Maldini menegaskan bahwa ia tidak bisa bekerja dalam lingkungan yang tidak mempercayainya. "Saya terbiasa dengan cara kerja yang berbeda. Tidak ada lagi kepercayaan yang kami butuhkan untuk menjalankan tugas besar ini," pungkasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana FIGC akan menangani proses seleksi pelatih berikutnya. Apakah mereka akan lebih transparan dan melibatkan semua pihak, atau justru semakin tertutup? Kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa dalam sepak bola modern, keputusan di atas kertas sering kali berbenturan dengan realitas politik dan opini publik.



