Perdana Menteri Irlandia Bela Pelatih Timnas di Tengah Perselisihan dengan Israel soal Gaza
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin menolak kecaman Federasi Sepak Bola Israel terhadap pelatih Heimir Hallgrímsson terkait pernyataannya soal Gaza.
- Kontroversi ini memicu seruan boikot dari lebih dari 160 atlet Irlandia dan memaksa dua laga Nations League dipindahkan ke venue netral.
- Kasus ini menyoroti dilema federasi olahraga dalam menyeimbangkan tekanan politik dan sanksi kompetisi internasional.

Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin secara terbuka membela pelatih tim nasional sepak bola negaranya, Heimir Hallgrímsson, setelah Federasi Sepak Bola Israel menuduhnya melakukan “kebodohan, ketidaktahuan, dan kemunafikan” terkait komentar tentang perang di Gaza. Dukungan itu disampaikan Martin saat berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB, menandai eskalasi diplomatik yang jarang terjadi di dunia olahraga.
“Pernyataan itu tidak dapat diterima dan harus ditarik,” ujar Martin kepada wartawan, seperti dikutip media internasional. Ia menegaskan bahwa Israel tidak bisa terus menyangkal apa yang telah diketahui dan dipahami dunia. Pernyataan Hallgrímsson yang memicu kemarahan muncul sebelum dua pertandingan Nations League melawan Israel, ketika ia mengatakan, “Kami tidak bermain dengan genosida, kami bermain melawan genosida. Kami bermain melawan Israel, bukan dengan Israel.”
Martin menilai komentar pelatih asal Islandia itu mencerminkan keprihatinan mendalam atas skala kematian dan kehancuran di Gaza, seraya merujuk pada pernyataan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Dukungan ini mempertegas posisi Irlandia yang sejak lama dikenal sebagai pendukung kuat perjuangan Palestina, sejalan dengan sejarah panjang negara itu di bawah kekuasaan Inggris. Dublin secara resmi mengakui negara Palestina pada 2024 bersama Spanyol dan Norwegia, serta berulang kali mengkritik operasi militer Israel di Gaza.
Hallgrímsson, yang sedang bersiap untuk pertandingan melawan Kosovo, menyampaikan terima kasih atas dukungan Martin. Ia mengakui bahwa pernyataannya di konferensi pers sebelumnya telah mengalihkan perhatian dari laga penting melawan Kosovo. “Mungkin dari sudut pandang kepemimpinan, tidak bijak bagi saya menarik perhatian seperti ini. Tapi untuk menjawab pertanyaan, kami berterima kasih atas semua dukungan yang kami terima. Ini masa yang sulit bagi kami,” ujarnya.
Perselisihan ini terjadi di tengah gelombang protes di Irlandia. Sejumlah pengunjuk rasa berkumpul di luar hotel tim di Dublin pada Senin, dan demonstrasi lanjutan direncanakan menjelang pertandingan. Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) pada November lalu meloloskan mosi yang meminta UEFA menskors Israel dari kompetisi internasional. Namun FAI menyatakan tidak punya banyak pilihan selain memenuhi jadwal, atau menghadapi sanksi olahraga dan finansial.
Dua pertandingan yang dijadwalkan pada 27 September dan 4 Oktober terpaksa dipindahkan ke lokasi netral. Laga kandang Irlandia pada 4 Oktober dipindah dari Stadion Aviva, Dublin, ke Backa Topola, Serbia, karena kekhawatiran gangguan keamanan. Sementara laga 27 September, yang secara resmi merupakan kandang Israel, akan digelar di Debrecen, Hungaria.
“Kami tidak bermain dengan genosida, kami bermain melawan genosida. Kami bermain melawan Israel, bukan dengan Israel.” — Heimir Hallgrímsson, pelatih timnas Irlandia
Israel menolak keras tuduhan bahwa tindakannya di Gaza merupakan genosida. Menurut data resmi Israel, serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan 1.221 orang dan menyandera 251 orang, 44 di antaranya sudah tewas. Israel kemudian melancarkan operasi balasan besar-besaran yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan 73.919 orang dan membuat hampir seluruh penduduk mengungsi setidaknya sekali. Angka dari lembaga yang beroperasi di bawah Hamas itu umumnya dianggap dapat diandalkan oleh lembaga internasional.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana isu geopolitik dapat merembes ke lapangan hijau. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan pendukung setia Palestina, Indonesia kerap menghadapi dilema serupa ketika harus berkompetisi di ajang internasional yang melibatkan Israel. PSSI dan pemerintah berulang kali menolak berhadapan dengan Israel, bahkan rela kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Tekanan publik di dalam negeri biasanya jauh lebih besar daripada perhitungan sanksi olahraga, sehingga setiap federasi dituntut cermat membaca sentimen domestik dan risiko diplomatik.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah laga-laga ini akan berjalan tanpa gangguan, tetapi seberapa jauh federasi olahraga dapat mempertahankan netralitas ketika konflik geopolitik menuntut sikap. Jika UEFA dan FIFA tetap bergeming, gelombang protes di Irlandia bisa menjadi preseden bagi negara lain untuk menempuh jalur serupa—atau justru memicu perpecahan baru di sepak bola Eropa.



