Dana Hijau £233 Juta Ludes dalam 6 Jam, Petani Inggris Kecewa Berat
Baca dalam 60 detik
- Program insentif pertanian berkelanjutan (SFI) senilai £233 juta habis dalam waktu kurang dari enam jam setelah dibuka, meninggalkan ribuan petani tanpa akses pendanaan.
- Kelompok tani dan lingkungan menilai mekanisme 'siapa cepat dia dapat' tidak adil dan menuntut alokasi anggaran yang lebih besar serta sistem pendaftaran yang lebih pasti.
- Pemerintah Inggris berjanji membuka peluang pendanaan lagi pada 2027, namun para petani meragukan komitmen tersebut mengingat tekanan arus kas yang mendesak.

Hanya dalam waktu kurang dari enam jam, anggaran sebesar £233 juta (sekitar Rp4,8 triliun) untuk skema pertanian ramah lingkungan di Inggris habis diserbu pendaftar. Program Sustainable Farming Incentive (SFI) yang dibuka pukul 10.00 BST, Selasa (14/10/2025), ditutup pukul 15.48 BST karena kuota dana telah terpakai seluruhnya, meninggalkan ribuan petani yang gagal mendapatkan akses.
Skema pasca-Brexit ini dirancang untuk menggantikan subsidi Uni Eropa dengan pembayaran bagi petani yang mengelola lahan secara berkelanjutan, seperti menanam pagar hidup, membuat jalur bunga liar, dan menjaga kesehatan tanah. Namun, mekanisme pendaftaran yang menggunakan prinsip first come, first served menuai kritik tajam. National Farmers' Union (NFU) menuntut penjelasan pemerintah mengapa jendela pendaftaran dibuka dan ditutup begitu cepat, sementara banyak petani telah kehilangan potensi pendapatan.
"Kami membutuhkan kejelasan dan urgensi dari pemerintah," ujar Wakil Presiden NFU, Robyn Munt, seperti dikutip BBC. Ia menambahkan bahwa lonjakan permintaan ini tidak mengejutkan karena tekanan arus kas yang dihadapi petani dan produsen pangan semakin berat. "Mereka mencari kepastian untuk tahun depan, dan skema ini adalah salah satu dari sedikit opsi yang tersedia," tegasnya.
Vicki Hird, pimpinan bidang pertanian di Wildlife Trusts, menyamakan perebutan dana ini dengan "perburuan tiket konser Oasis" yang lebih parah. Menurutnya, anggaran yang disediakan sudah terlalu lama tidak memadai. "Treasury harus menyadari hal ini dan mengalokasikan dana yang jauh lebih besar untuk memastikan ketahanan iklim dalam pertanian pada anggaran berikutnya," ujarnya.
Kritik juga datang dari Nature Friendly Farming Network (NFFN). Martin Lines, petani tanaman pangan dari Cambridgeshire yang memimpin NFFN, menilai sistem SFI dengan jendela pendaftaran yang hanya beberapa jam tidak layak. "Kami perlu menemukan cara yang lebih baik berdasarkan perjanjian pertanian utuh yang berkelanjutan, bukan pintu yang menutup pada hari pertama karena uangnya sudah habis," katanya. Ia menekankan bahwa setelah bertahun-tahun cuaca ekstrem, banyak petani mengandalkan dana ini untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.
"Ini bukan sekadar soal uang, tetapi tentang masa depan pertanian Inggris yang berkelanjutan. Sistem yang ada saat ini hanya menguntungkan mereka yang memiliki akses cepat, bukan yang paling membutuhkan." — Martin Lines, NFFN
Pemerintah Inggris melalui Department for Environment, Food and Rural Affairs (Defra) menyatakan akan memberikan informasi lebih lanjut tentang peluang pendanaan 2027 "segera". Juru bicara Defra menjelaskan bahwa tahun ini petani kecil dan pendatang baru diprioritaskan melalui jendela khusus pada musim panas. "Menteri juga menambah £20 juta dari dana awal £50 juta yang diumumkan perdana menteri pada Agustus," ujarnya. Menteri Pertanian Stephen Morgan menambahkan bahwa SFI dirancang lebih sederhana dan petani "merespons dengan antusias".
Konteks Indonesia
Perebutan dana hijau di Inggris ini menjadi cermin bagi Indonesia yang tengah mengembangkan skema pembayaran jasa lingkungan (PJL) dan dana karbon. Jika mekanisme pendaftaran tidak dirancang inklusif, petani kecil dan komunitas adat berisiko tersingkir oleh korporasi besar yang memiliki kapasitas administratif lebih baik. Pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa program seperti Perhutanan Sosial dan pendanaan iklim tidak berubah menjadi ajang "siapa cepat dia dapat" yang mengabaikan prinsip keadilan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pemerintah Inggris akan mereformasi total sistem SFI menjadi perjanjian jangka panjang yang lebih pasti, atau justru membiarkan petani terus bergantung pada jendela pendaftaran yang sempit. Tanpa perbaikan mendasar, ketahanan pangan dan target iklim Inggris bisa menjadi taruhan.



