Guardiola Nyaris Latih Italia: Maldini Ungkap Alasan Sebenarnya Batal
Baca dalam 60 detik
- Negosiasi rahasia antara FIGC dan Guardiola nyaris membuahkan kesepakatan, dengan pelatih asal Spanyol itu bahkan telah menyusun formasi untuk timnas.
- Maldini membantah isu gaji €20 juta per musim; Guardiola justru bersedia dibayar lebih rendah dari pendahulunya, namun kelelahan menjadi penghalang utama.
- Kegagalan ini membuka jalan bagi Andrea Pirlo, dan mengungkap dinamika internal FIGC yang penuh intrik.

Paolo Maldini, mantan direktur teknis FIGC, membongkar fakta mengejutkan: Pep Guardiola hampir saja menjadi pelatih tim nasional Italia. Dalam wawancara eksklusif dengan Corriere della Sera, Maldini mengungkapkan bahwa Guardiola bahkan telah menyusun formasi dan menganalisis tim muda Italia sebelum akhirnya memutuskan mundur karena kelelahan.
Maldini, yang menjabat sebagai direktur teknis selama periode singkat, menceritakan bagaimana ia bersama penasihat Leonardo mengunjungi Guardiola di Barcelona. Pertemuan yang berlangsung sehari penuh itu menggambarkan ketertarikan serius Guardiola terhadap proyek Italia. “Dia sangat tergoda. Dia hampir menerima. Dia bahkan mulai menuliskan formasi di atas kertas,” ujar Maldini, seperti dikutip Football Italia.
Kabar yang beredar sebelumnya menyebut Guardiola meminta gaji €20 juta per musim. Namun, Maldini dengan tegas membantahnya. “Sama sekali tidak. Uang bukan masalah. Pep berkata jelas: beri saya satu euro lebih sedikit dari pelatih sebelumnya, saya oke,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus meluruskan spekulasi yang selama ini mengaitkan batalnya kesepakatan dengan faktor finansial.
Lantas, apa yang sebenarnya menghalangi? Menurut Maldini, jawabannya adalah kelelahan. “Guardiola baru saja melewati 10 tahun melelahkan di Premier League. Dia menjalani operasi punggung, dia ingin istirahat,” jelasnya. Meski begitu, diskusi berjalan serius hingga mereka mempelajari skuad dari level U-17 ke atas. “Kami mempelajari skuad dari U-17 ke atas,” tambahnya.
Kegagalan ini akhirnya membawa Andrea Pirlo duduk di kursi pelatih Italia. Maldini menegaskan bahwa Presiden FIGC, Giovanni Malagò, mengetahui setiap langkah proses negosiasi. “Malagò tahu segalanya, kami memberitahunya langkah demi langkah,” ungkapnya. Pengakuan ini sekaligus menyoroti dinamika internal federasi yang mungkin tidak selalu harmonis.
Kisah ini menarik untuk dicermati, terutama bagi pengamat sepak bola Indonesia. Ketertarikan Guardiola pada tim nasional menunjukkan bahwa pelatih top dunia mulai melirik tantangan di level internasional, sebuah tren yang mungkin berdampak pada pasar pelatih di Asia, termasuk Indonesia. Jika Guardiola saja bisa hampir menangani tim sebesar Italia, bukan tidak mungkin pelatih-pelatih elite akan lebih terbuka terhadap proyek-proyek ambisius di kawasan lain.
Maldini juga mengisyaratkan adanya ketegangan dengan Malagò, yang mungkin memengaruhi proses pengambilan keputusan. Meski tidak merinci secara gamblang, pernyataan “Malagò tahu segalanya” bisa dibaca sebagai upaya untuk menegaskan transparansi, atau justru menyiratkan adanya perbedaan visi. Ke depannya, publik Italia tentu bertanya-tanya: akankah Guardiola suatu hari nanti menukangi Gli Azzurri, atau apakah peluang itu telah hilang selamanya?



