Maldini Buka Suara: De Rossi dan Grosso Kandidat Sebenarnya Pelatih Italia, Bukan Pirlo
Baca dalam 60 detik
- Maldini mengungkap dua kandidat pelatih Italia yang batal karena larangan mengambil juru taktik dari klub Serie A.
- Keputusan FIGC memilih Pirlo menjadi pemicu mundurnya Maldini dari posisi direktur teknis.
- Kasus ini menyoroti dinamika politik sepak bola Italia yang bisa menjadi pelajaran bagi pengelolaan timnas di negara lain, termasuk Indonesia.

Paolo Maldini, legenda AC Milan, mengungkapkan bahwa sebenarnya ada dua kandidat muda Italia yang lebih diinginkannya untuk menukangi tim nasional, selain Andrea Pirlo. Namun, rencana tersebut gagal total karena aturan internal Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang melarang perekrutan pelatih dari klub Serie A.
Dalam wawancara eksklusif dengan Corriere della Sera, pria yang sempat menjabat sebagai direktur teknis FIGC pada 2018-2019 ini membongkar detail di balik layar pemilihan pelatih Italia. Ia menyebut nama Daniele De Rossi dan Fabio Grosso, dua sosok yang sama-sama pernah menjadi juara dunia bersama Gli Azzurri pada 2006. Menurut Maldini, ketiganya—termasuk Pirlo—adalah kandidat yang memenuhi kriteria: pelatih muda dengan rekam jejak di tim nasional.
"Kami menginginkan pelatih muda yang punya sejarah dengan tim nasional. Ada tiga nama," ujar Maldini. Namun, Presiden FIGC saat itu, Giovanni Malagò, menolak mentah-mentah karena adanya kesepakatan politik dengan klub-klub Serie A. "Menurut perjanjian yang mengantarkan saya terpilih, dengan dukungan semua klub kecuali Lazio, kami tidak boleh menyentuh pelatih yang masih terikat kontrak dengan klub Serie A," jelasnya.
Kebuntuan ini memaksa FIGC beralih ke Pirlo, yang saat itu belum memiliki pengalaman melatih tim senior. Keputusan tersebut menjadi pemicu utama mundurnya Maldini dari jabatannya. Ia merasa tidak bisa bekerja dalam lingkungan yang membatasi ruang geraknya, terutama ketika kepentingan politik klub lebih diutamakan daripada kepentingan tim nasional.
Kisah ini menggarisbawahi betapa rumitnya hubungan antara federasi dan klub di Italia. Aturan yang dibuat untuk menjaga stabilitas kompetisi domestik justru menjadi bumerang bagi pengembangan tim nasional. Di satu sisi, klub berhak melindungi aset mereka; di sisi lain, tim nasional membutuhkan pelatih terbaik yang tersedia. Konflik kepentingan semacam ini bukan hal baru di dunia sepak bola, tetapi kasus Italia menunjukkan bagaimana hal itu bisa menggagalkan rencana yang sudah matang.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan. PSSI sering kali menghadapi dilema serupa ketika ingin merekrut pelatih yang masih terikat kontrak dengan klub lokal. Meskipun regulasi di Indonesia tidak seketat di Italia, dinamika politik antara federasi dan klub tetap menjadi tantangan. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya komunikasi dan kesepakatan yang jelas antara semua pemangku kepentingan, agar kepentingan tim nasional tidak dikorbankan demi kepentingan sesaat klub.
"Kami ingin pelatih muda yang punya sejarah dengan tim nasional. Ada tiga nama." — Paolo Maldini
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah FIGC akan merevisi aturan tersebut agar lebih fleksibel? Atau apakah kasus ini akan menjadi pelajaran bagi federasi lain untuk tidak mengulangi kesalahan serupa? Yang jelas, pengakuan Maldini membuka tabir gelap di balik keputusan yang selama ini dianggap kontroversial.



