Depay vs Corinthians: Kontrak Diputus Sepihak, Bintang Belanda Siap Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Memphis Depay menuduh Corinthians mengingkari kesepakatan perpanjangan kontrak yang telah disetujui, memicu perseteruan publik.
- Keputusan klub Brasil itu didasari alasan finansial, namun Depay menilai tindakan tersebut tidak dapat diterima dan akan merespons secara hukum.
- Kontrak Depay berakhir setelah ia mencetak 20 gol dalam 79 laga dan mempersembahkan dua trofi, kini masa depannya menjadi sorotan.

Perseteruan antara Memphis Depay dan Corinthians memanas setelah penyerang asal Belanda itu menuduh klub Brasil tersebut melakukan pelanggaran kesepakatan terkait perpanjangan kontrak yang batal. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, Depay mengaku kecewa dan menyebut perilaku manajemen klub "tidak dapat diterima", seraya berjanji akan berbicara lebih terbuka dalam beberapa hari ke depan.
Depay, yang pernah memperkuat Manchester United dan Barcelona, bergabung dengan Corinthians pada 2024 dengan kontrak dua tahun. Namun, menurut pemain berusia 32 tahun itu, pihak klub telah menyetujui perpanjangan kontrak secara eksplisit—mulai dari presiden klub hingga departemen olahraga, hukum, dan keuangan—sebelum tiba-tiba menarik kembali tawaran tersebut. "Beberapa orang memutuskan untuk mengingkari komitmen ini," tulis Depay, yang merasa dipaksa bereaksi keras demi melindungi kepentingannya.
Di sisi lain, Corinthians membantah tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak memperpanjang kontrak Depay murni didasari pertimbangan finansial. Dalam pernyataan resminya, klub yang bermarkas di Sao Paulo itu menegaskan bahwa komitmen sebesar itu tidak sejalan dengan keseimbangan keuangan yang harus dijaga demi keberlanjutan institusi. "Kami menyadari ini keputusan sulit, tetapi mutlak diperlukan untuk masa depan Corinthians," demikian bunyi pernyataan klub. Presiden klub, Osmar Stabile, dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan lebih lanjut.
Kontribusi Depay selama membela Corinthians tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia mencatatkan 20 gol dalam 79 penampilan dan mengantarkan timnya meraih gelar Copa do Brasil 2025 serta Supercopa do Brasil tahun ini. Namun, performa impresif itu tidak cukup untuk meyakinkan manajemen yang tengah berhemat. Corinthians saat ini bercokol di peringkat ketujuh Serie A Brasil, posisi yang jauh dari ekspektasi, sehingga tekanan finansial menjadi alasan yang masuk akal di tengah krisis ekonomi klub-klub Amerika Selatan.
Bagi pengamat sepak bola, kasus ini menyoroti dinamika kontrak pemain bintang di liga yang secara historis sering menghadapi gejolak keuangan. Depay, yang juga merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Belanda, gagal mencetak gol dalam tiga penampilannya di Piala Dunia 2026 saat Belanda tersingkir di babak 32 besar. Kini, dengan status bebas transfer, ia menjadi incaran potensial bagi klub-klub Eropa maupun Asia yang membutuhkan pengalaman dan ketajaman di lini depan.
Di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati mengingat Liga 1 yang semakin kompetitif dan kerap mendatangkan pemain asing berprofil tinggi. Meski Depay mungkin di luar jangkauan finansial klub-klub lokal, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kontrak yang transparan dan saling menguntungkan antara pemain dan klub. Federasi sepak bola nasional juga bisa mengambil pelajaran tentang mekanisme penyelesaian sengketa kontrak yang adil, sebagaimana yang tengah diuji di Brasil.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Depay akan benar-benar membawa kasus ini ke ranah hukum atau cukup dengan kecaman publik. Dengan konferensi pers yang dijadwalkan, publik menantikan bukti-bukti yang diajukan Depay. Sementara itu, Corinthians harus siap menghadapi gelombang kritik dari suporter yang kecewa kehilangan salah satu bintang terbesarnya. Satu hal yang pasti: perseteruan ini belum berakhir, dan dampaknya bisa terasa hingga bursa transfer berikutnya.



