Patrik Schick, Satu-satunya Konstanta di Bayer Leverkusen yang Terus Mencetak Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Patrik Schick menjadi pemain yang bertahan di tengah eksodus besar-besaran Bayer Leverkusen, dan tetap produktif dengan mencetak gol di empat laga pembuka Bundesliga 2026/27.
- Penyerang asal Ceko itu telah melampaui Dimitar Berbatov sebagai pencetak gol non-Jerman terbanyak untuk Leverkusen dengan 84 gol, dan hanya Harry Kane yang lebih sering mencetak gol sejak 2020.
- Konsistensi Schick di tengah pergantian pelatih dan skuad menjadi barometer peluang Leverkusen bersaing di papan atas, sekaligus daya tarik tersendiri bagi penggemar sepak bola di Indonesia yang mengikuti Bundesliga.

Patrik Schick menorehkan rekor pribadi di Bundesliga 2026/27 dengan menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di empat pertandingan pembuka, sekaligus menegaskan posisinya sebagai penyerang paling konsisten di Bayer Leverkusen saat klub itu mengalami perombakan besar-besaran.
Pemain berusia 30 tahun itu kini memuncaki daftar top skor sementara dengan empat gol, menyamai torehan sejumlah nama beken. Namun yang membedakannya, Schick melakukannya di tengah badai perubahan: Leverkusen kehilangan sederet pilar seperti Florian Wirtz, Granit Xhaka, Jeremie Frimpong, Jonathan Tah, dan pelatih Xabi Alonso pada musim panas 2025. Belum lagi kepergian Alejandro Grimaldo setahun kemudian, serta pergantian pelatih dari Erik ten Hag ke Carles Martínez.
Di tengah ketidakpastian itu, Schick justru tampil sebagai jangkar. Ia mencetak gol ke gawang Elversberg pada laga pembuka, meski Leverkusen takluk 2-3. Pekan berikutnya, ia ikut merobek gawang Union Berlin dalam kemenangan 4-0. Dua gol berikutnya krusial: penyama kedudukan dari bangku cadangan saat melawan Augsburg, dan gol pembuka kemenangan 2-0 atas RB Leipzig—klub yang sempat ia bela pada 2019/20.
Pencapaian teranyar itu mengukuhkan namanya di buku sejarah Leverkusen. Gol ke gawang Leipzig membuat totalnya menjadi 84 gol di Bundesliga, melewati rekor Dimitar Berbatov sebagai pemain non-Jerman paling subur. Ia juga telah menjebol gawang 26 dari 27 tim yang pernah dihadapinya di liga, dengan Hamburg menjadi satu-satunya pengecualian.
"Tentu menyenangkan bisa mencetak gol. Saya senang bisa kembali menemukan ritme. Tapi yang terpenting adalah kemenangan tim. Pada akhirnya, siapa yang mencetak gol tidak jadi soal," ujar Schick usai laga melawan Leipzig, seperti dikutip dari laman resmi Bundesliga.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menyiratkan peran barunya. Di skuad yang kini dihuni banyak pemain muda, Schick menjelma menjadi senior yang tidak hanya mencetak gol, tetapi juga menjaga stabilitas ruang ganti. Pelatih Carles Martínez tengah menerapkan gaya permainan baru, dan kehadiran penyerang senior seperti Schick mempercepat adaptasi tim.
Bagi publik sepak bola Indonesia, konsistensi Schick di Bundesliga menawarkan narasi yang jarang ditemui: seorang pemain yang bertahan di satu klub selama lebih dari lima tahun di era transfer yang serba cepat. Leverkusen sendiri merupakan salah satu klub Jerman dengan basis penggemar yang tumbuh di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berkat penampilan mereka di kompetisi Eropa dan keberadaan pemain-pemain Asia seperti Piero Hincapié (Ekuador) dan eks pemain Jepang. Kehadiran Schick sebagai ikon stabilitas bisa memperkuat daya tarik Bundesliga di pasar Indonesia yang sedang bergairah menyambut musim baru.
Meski demikian, tantangan belum usai. Leverkusen masih berjuang menemukan keseimbangan setelah ditinggal banyak bintang. Pertanyaan besarnya: seberapa jauh ketajaman Schick mampu mengangkat Leverkusen kembali ke papan atas? Jika ia terus mencetak gol, bukan tidak mungkin Die Werkself kembali menantang Bayern Munich dan Borussia Dortmund. Namun jika cedera—yang sempat membuatnya absen 284 hari pada 2022/23—kembali menghantui, Leverkusen bisa kehilangan ujung tombak andalannya. Publik Bundesliga, termasuk penggemar di Indonesia, akan menantikan apakah rekor empat gol beruntun ini menjadi awal kebangkitan atau sekadar kilau sementara di tengah transisi.



