FIGC Pilih Mantan Atlet Anggar sebagai Kepala Delegasi Timnas Italia, Gantikan Buffon
Baca dalam 60 detik
- Diana Bianchedi, peraih dua emas Olimpiade, ditunjuk sebagai kepala delegasi baru Timnas Italia, menggantikan Gianluigi Buffon yang mundur setelah kekalahan di play-off Piala Dunia.
- Penunjukan ini menandai pergeseran budaya di FIGC, membawa figur dari luar sepak bola dengan latar belakang manajemen olahraga dan Olimpiade.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya mengintegrasikan sepak bola Italia ke dalam ekosistem olahraga nasional yang lebih luas, dengan harapan meningkatkan sinergi dan prestasi.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi menunjuk Diana Bianchedi sebagai kepala delegasi baru untuk tim nasional, menggantikan Gianluigi Buffon yang mengundurkan diri setelah kekalahan dramatis dari Bosnia dan Herzegovina pada play-off Piala Dunia akhir Maret lalu. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden FIGC, Giovanni Malagò, dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Minggu (13/4).
Bianchedi bukanlah nama yang akrab di dunia sepak bola. Berbeda dengan pendahulunya—Buffon, Gianluca Vialli, dan Gigi Riva—yang semuanya legenda lapangan hijau, Bianchedi datang dari dunia anggar. Ia adalah peraih dua medali emas Olimpiade pada 1992 dan 2000, serta memiliki karier panjang di Komite Olimpiade Italia (CONI). Pada 2001, ia menjadi eksekutif termuda dan wanita pertama yang diangkat di CONI, dan pada 2025 ia menjabat sebagai wakil presiden komite tersebut.
Latar belakang akademisnya pun impresif: gelar di bidang kedokteran dan bedah, plus master di bidang manajemen olahraga. Ia juga berperan penting dalam keberhasilan tuan rumah Olimpiade Roma 2024 dan Milan-Cortina 2026. Kombinasi ini membuat Malagò menyebut penunjukan ini sebagai "revolusi budaya" bagi sepak bola Italia.
"Sepak bola tidak lagi boleh dipandang sebagai entitas yang terpisah," ujar Malagò. "Diana memiliki prestise dan kredibilitas internasional, juara Olimpiade ganda, CV yang penuh spesialisasi, gelar kedokteran, master manajemen olahraga, peran puncak di Milano-Cortina, dan wakil presiden CONI." Ia menambahkan, "Menjadi wakil presiden CONI sekaligus wajah institusional timnas Italia seperti menempatkan sepak bola kembali di pusat percakapan 360 derajat dengan olahraga lainnya."
Keputusan ini memicu diskusi luas di Italia. Sebagian pengamat menilai langkah ini berani dan segar, membawa perspektif baru yang bisa memperkuat sinergi antara federasi sepak bola dan dunia olahraga nasional. Namun, tak sedikit yang mempertanyakan apakah sosok tanpa pengalaman sepak bola mampu memahami dinamika tim dan tekanan publik yang menyertainya. Tugas kepala delegasi bukan sekadar seremonial; ia menjadi penghubung antara tim, federasi, dan pemerintah, serta bertanggung jawab atas logistik dan diplomasi olahraga.
Bagi Indonesia, langkah FIGC ini bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah upaya PSSI melakukan transformasi sepak bola nasional, penunjukan figur dari luar sepak bola—seperti Bianchedi—menunjukkan bahwa pengelolaan olahraga modern membutuhkan profesionalisme lintas bidang. Di Indonesia, sinergi antara Kemenpora, KOI, dan federasi olahraga seringkali masih berjalan sendiri-sendiri. Model Italia ini bisa menginspirasi bagaimana membangun ekosistem olahraga yang terintegrasi, di mana sepak bola tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari gerakan olahraga nasional yang lebih besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Bianchedi mampu membawa perubahan nyata bagi performa timnas Italia yang tengah dalam masa transisi? Atau justru keputusan ini akan menjadi kontroversi baru di tengah tekanan publik yang tinggi? Yang jelas, langkah ini menegaskan bahwa FIGC berani keluar dari zona nyaman, sebuah sikap yang mungkin perlu ditiru oleh federasi sepak bola di negara lain, termasuk Indonesia.



