Latihan Timnas di STIK Jakarta: Taktik Rahasia Herdman dan Larangan Foto yang Bikin Heboh
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menggelar sesi latihan tertutup di Stadion STIK Jakarta menjelang laga perdana FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Singapura.
- Larangan pengambilan gambar oleh penghuni asrama STIK mencuat, memicu spekulasi publik soal kerahasiaan taktik yang diterapkan John Herdman.
- PSSI menegaskan kebutuhan peralatan analitik modern menjadi alasan utama pemilihan lokasi, yang berimplikasi pada persiapan tim di turnamen.

Timnas Indonesia memilih Stadion Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) di Jakarta Selatan sebagai markas latihan menjelang pertandingan pembuka FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Singapura, Jumat (25/9/2026) malam WIB. Keputusan ini menandai pergeseran kebiasaan, karena sebelumnya skuad Garuda selalu berlatih di area kompleks Gelora Bung Karno. Sesi pada Kamis (24/9/2026) itu berlangsung tertutup, dengan pengamanan ketat yang bahkan melarang penghuni asrama STIK mengabadikan momen melalui ponsel.
Insiden kecil terjadi ketika sejumlah penghuni asrama mencoba merekam aktivitas latihan dari kejauhan. Petugas keamanan sigap menegur dengan nada tegas, "Hei, itu jangan ada foto, jangan ada video," sambil menunjuk ke arah gedung asrama. Larangan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut sumber internal, sterilisasi area menjadi krusial untuk mencegah kebocoran taktik yang tengah dimatangkan John Herdman, pelatih anyar Timnas Indonesia.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkapkan bahwa Herdman mengajukan permintaan spesifik: lapangan yang sepenuhnya didedikasikan untuk persiapan taktik, lengkap dengan perangkat teknologi yang tidak bisa dipindahkan begitu saja. "Mungkin Coach John Herdman ada permintaan lapangan yang bisa digunakan untuk taktikal. Dia akan taruh alat-alat di lapangan latihan yang tidak bisa diangkat dan dipasang begitu saja," ujar Erick. PSSI bergerak cepat meluluskan permintaan tersebut, menyadari bahwa waktu logistik yang terbuang dapat mengganggu ritme persiapan di tengah jadwal turnamen yang padat.
Pemilihan STIK sebagai basis latihan juga memberikan keuntungan berupa kerahasiaan. Berada di dalam kompleks kepolisian, area tersebut relatif steril dari pantauan lawan maupun kerumunan penggemar. Hal ini memungkinkan Herdman dan stafnya merancang skema permainan tanpa risiko bocor. Sebelumnya, latihan di sekitar Gelora Bung Karno sering kali terbuka untuk publik, sehingga taktik tertentu bisa terlihat oleh siapa pun. Kini, dengan pengamanan berlapis, Timnas Indonesia dapat fokus pada detail teknis yang menjadi ciri khas pelatih asal Inggris itu.
Bagi publik sepak bola nasional, keputusan ini memicu diskusi tentang sejauh mana modernisasi pendekatan taktik diperlukan. Herdman dikenal sebagai pelatih yang mengandalkan data dan analisis mendalam, termasuk penggunaan perangkat pelacak gerak serta sistem video yang memerlukan instalasi khusus. Kebutuhan akan lapangan yang tidak digunakan tim lain menjadi konsekuensi logis. Jika alat-alat tersebut harus dipasang ulang setiap sesi, waktu persiapan bisa terpotong hingga 60 menit—sesuatu yang tidak ideal dalam turnamen singkat seperti ASEAN Cup.
"Kepastian jadwal dan ketersediaan lapangan yang tidak berbagi dengan pihak lain menjadi krusial," ujar Erick Thohir menegaskan.
Dari sisi kompetisi, laga melawan Singapura akan menjadi tolok ukur awal efektivitas metode Herdman. The Lions bukan lawan yang bisa diremehkan, terlebih mereka juga tengah membangun skuad dengan pendekatan serupa. Publik Indonesia tentu berharap strategi tertutup ini berbuah kemenangan, bukan sekadar formalitas. Namun, jika hasilnya kurang memuaskan, tekanan terhadap PSSI dan Herdman diprediksi meningkat, terutama terkait transparansi dan akses media.
Ke depan, model latihan tertutup di kompleks kepolisian bisa menjadi preseden bagi timnas kelompok umur atau bahkan klub-klub Liga 1 yang ingin meningkatkan kerahasiaan taktik. Pertanyaannya, apakah pendekatan ini akan diadopsi secara luas, atau justru menimbulkan jarak antara tim dan suporter yang selama ini menjadi kekuatan sepak bola Indonesia? Hanya performa di lapangan yang mampu menjawabnya.



