Menerobos Zona Senja: Ular Laut Terekam Menyelam 245 Meter, Rekor Terdalam yang Mengubah Asumsi Sains
Baca dalam 60 detik
- Rekaman ROV di lepas pantai Australia Barat menangkap ular laut jenis Hydrophis berenang di kedalaman 245 meter, melampaui rekor sebelumnya yang hanya 133 meter.
- Temuan ini menantang asumsi biologis bahwa ular laut, yang bernapas dengan paru-paru, tidak mampu menyelam melebihi 100 meter karena keterbatasan oksigen dan tekanan.
- Perilaku mencari makan di dasar laut dalam mengindikasikan adanya sumber pakan baru di zona mesopelagik, membuka peluang riset ekologi ular laut di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Indonesia.

Seekor ular laut terekam menyelam hingga kedalaman 245 meter di perairan lepas pantai Australia Barat, sebuah rekor baru yang memaksa para ilmuwan meninjau ulang batas kemampuan fisiologis reptil laut tersebut. Rekaman yang diambil oleh kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh (ROV) pada 2014 ini menunjukkan bahwa ular laut, yang selama ini dianggap penghuni perairan dangkal, mampu menjelajah zona mesopelagik yang gelap dan bertekanan tinggi.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Austral Ecology pada 2019 ini berawal dari pengamatan insidental oleh industri minyak dan gas. ROV yang dioperasikan untuk inspeksi infrastruktur bawah laut di Browse Basin, North West Shelf, Australia, merekam seekor ular dari genus Hydrophis pada kedalaman 245 meter. Hampir tiga tahun kemudian, pada 2017, perangkat serupa kembali menangkap gambar ular laut di lokasi yang sama, kali ini pada kedalaman 239 meter. Dua titik data ini, meskipun terpisah waktu, memberikan indikasi kuat bahwa penyelaman dalam bukanlah peristiwa kebetulan.
Sebelumnya, rekor penyelaman terdalam ular laut tercatat hanya 133 meter. Para ahli selama ini meyakini bahwa ular laut, sebagai reptil yang bernapas dengan paru-paru, memiliki keterbatasan alami untuk menyelam lebih dari 50 hingga 100 meter. Logikanya sederhana: semakin dalam menyelam, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke permukaan guna mengambil napas, sehingga risiko kehabisan oksigen menjadi sangat besar. Namun, temuan di Browse Basin ini menunjukkan bahwa ular laut ternyata mampu menembus batas yang selama ini dianggap sebagai tembok biologis.
Yang lebih menarik, rekaman tahun 2017 memperlihatkan ular tersebut berenang dekat dasar laut berpasir dan berulang kali memasukkan kepalanya ke dalam lubang-lubang di sedimen. Perilaku ini diinterpretasikan oleh peneliti sebagai aktivitas mencari makan aktif, bukan sekadar terseret arus. Jenna Crowe-Riddell, peneliti utama dari University of Adelaide, menyatakan bahwa ular tersebut kemungkinan memburu ikan kecil atau invertebrata yang bersembunyi di dasar laut. Namun, bagaimana ular mendeteksi mangsa dalam kondisi minim cahaya di kedalaman tersebut masih menjadi misteri, mengingat ular laut umumnya mengandalkan penglihatan dan indra kimiawi di perairan dangkal.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi langsung. Perairan Nusantara, yang berada di jantung segitiga terumbu karang dunia, merupakan habitat bagi berbagai spesies ular laut. Jika ular laut mampu menyelam hingga kedalaman 245 meter, maka potensi sebaran vertikal mereka di perairan Indonesia bisa jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Hal ini berimplikasi pada pengelolaan wilayah laut dalam, terutama dalam konteks konservasi dan penilaian dampak aktivitas industri seperti perikanan dan pertambangan minyak. Data dari ROV yang digunakan untuk keperluan komersial, seperti yang terjadi di Australia, bisa menjadi sumber informasi berharga bagi peneliti Indonesia untuk memetakan keanekaragaman hayati laut dalam yang selama ini terabaikan.
Temuan ini juga menggarisbawahi keterbatasan metode survei konvensional yang hanya menjangkau perairan dangkal. Keberadaan ular laut di zona mesopelagik membuka pertanyaan baru tentang adaptasi fisiologis mereka terhadap suhu rendah dan tekanan tinggi. Peneliti memperkirakan bahwa laut dalam mungkin menyediakan sumber makanan yang belum diperhitungkan sebelumnya, yang bisa menjelaskan mengapa ular laut bersedia menanggung risiko energetik yang besar. Namun, dua rekaman ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ular laut hidup permanen di kedalaman tersebut; penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami pola migrasi vertikal dan preferensi habitat mereka.
Ke depan, kolaborasi antara industri, akademisi, dan lembaga riset menjadi kunci untuk mengungkap misteri kehidupan laut dalam. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap memanfaatkan teknologi serupa untuk mengeksplorasi kekayaan hayati laut dalamnya yang masih belum banyak diketahui? Dengan luas perairan yang mencapai dua pertiga wilayah Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan konservasi dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.



