Riset: Penyelam Scuba Kerap Merusak Terumbu Karang Tanpa Sadar, Ini Temuannya
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 732 penyelam di Indonesia dan Filipina mengungkap kontak dengan karang terjadi rata-rata setiap empat menit, dengan 40% di antaranya menyebabkan kerusakan.
- Mayoritas penyelam menilai kemampuan mereka di atas rata-rata, namun kenyataannya mereka meremehkan frekuensi sentuhan hingga lima kali lipat, mencerminkan efek Dunning-Kruger.
- Temuan ini menekankan perlunya pelatihan buoyancy, pengelolaan kelompok kecil, dan sertifikasi ekowisata seperti Green Fins untuk menekan dampak negatif.

Setiap tahun, jutaan wisatawan menyelam untuk menikmati keindahan terumbu karang, namun sebuah riset terbaru mengungkap bahwa aktivitas yang tampak ramah lingkungan ini justru menyimpan ancaman tersembunyi: para penyelam, tanpa disadari, kerap menyentuh dan merusak karang yang mereka kagumi. Studi yang melibatkan 732 penyelam di Indonesia dan Filipina ini menemukan bahwa kontak dengan terumbu karang terjadi rata-rata setiap empat menit, dan lebih dari 40 persen kontak tersebut meninggalkan kerusakan yang terlihat, seperti karang patah atau tertutup sedimen.
Temuan ini menjadi ironi di tengah gencarnya promosi ekowisata bahari. Penyelaman scuba memang membawa cuan bagi masyarakat pesisir dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem laut. Namun, di balik manfaat ekonomi itu, interaksi langsung wisatawan dengan karang yang rapuh menambah tekanan yang sudah berat akibat perubahan iklim dan polusi. Para peneliti yang juga penyelam profesional ini mengamati bahwa bahkan mereka yang paling peduli lingkungan pun bisa menjadi bagian dari masalah, tanpa pernah menyadarinya.
Survei yang dilakukan setelah penyelaman menunjukkan kesenjangan mencolok antara persepsi dan realitas. Sekitar 69 persen responden menilai kemampuan mereka menghindari kontak yang disengaja berada di atas rata-rata, dan 86 persen merasa sangat baik dalam menghindari kontak tidak sengaja. Namun, pengamatan langsung membuktikan sebaliknya: para penyelam meremehkan frekuensi sentuhan mereka hampir lima kali lipat. Bahkan, mereka yang paling sering menyentuh karang justru paling percaya diri, sebuah pola yang mirip dengan efek Dunning-Kruger dalam psikologi.
Fenomena ini diperparah oleh penularan sosial. Ketika satu penyelam menyentuh karang, penyelam lain di sekitarnya cenderung meniru, menciptakan norma yang merugikan. Selain itu, momen kemunculan satwa karismatik seperti hiu, penyu, atau pari manta justru meningkatkan risiko kontak, karena penyelam teralihkan perhatiannya. "Momen yang paling menginspirasi orang untuk mencintai terumbu karang justru bisa membuat terumbu karang itu sendiri berada dalam kondisi paling rentan," tulis para peneliti dalam laporannya.
Bagi Indonesia, yang memiliki segitiga terumbu karang dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, temuan ini menjadi alarm. Destinasi seperti Raja Ampat, Bunaken, dan Wakatobi mengandalkan keindahan bawah laut sebagai daya tarik utama. Namun, tanpa pengelolaan yang ketat, justru wisatawan yang datang untuk mengagumi bisa menjadi perusak. Peneliti menyarankan kelompok penyelaman yang lebih kecil, pengaturan jarak aman saat melihat satwa, serta peran aktif instruktur dalam memberi contoh perilaku yang baik.
Kabar baiknya, dampak ini bisa dikurangi. Pelatihan pengendalian daya apung yang lebih baik, pengarahan sebelum menyelam yang jelas, serta evaluasi setelah penyelaman terbukti efektif. Penggunaan aksesori seperti kamera bawah air, muck stick, dan sarung tangan juga meningkatkan risiko kontak, sehingga beberapa lokasi sudah membatasinya. Sertifikasi ekowisata seperti Green Fins menunjukkan hasil positif, dengan pusat penyelaman bersertifikat memiliki lebih sedikit kontak yang disengaja.
Namun, sertifikasi saja tidak cukup. Perubahan norma dan ekspektasi di industri penyelaman secara luas diperlukan. Memahami psikologi penyelam menjadi kunci untuk memastikan wisata terumbu karang benar-benar mendukung konservasi. Pertanyaannya, mampukah industri dan wisatawan berbenah sebelum keindahan yang mereka cintai itu sirna selamanya?



