Eko Yuli Irawan Bidik Asian Games Keenam di Usia 37 Tahun: Rekor atau Perpisahan?
Baca dalam 60 detik
- Eko Yuli Irawan, 37 tahun, diproyeksikan tampil di Asian Games 2026, menjadikannya atlet angkat besi dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah Indonesia.
- Setelah gagal total di Hangzhou 2023, peluang Eko untuk kembali ke podium terbuka lebar di kelas 65 kg, namun persaingan dengan lifter muda seperti Rizki Juniansyah semakin ketat.
- Keikutsertaan Eko di Aichi-Nagoya tidak hanya menentukan warisannya, tetapi juga menjadi tolak ukur regenerasi angkat besi Indonesia menuju Olimpiade 2028.

Lifter senior Indonesia, Eko Yuli Irawan, kembali masuk dalam skuad angkat besi yang disiapkan untuk Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Jika benar-benar turun, ini akan menjadi penampilan keenamnya di pesta olahraga terbesar Asia โ sebuah pencapaian yang belum pernah diraih atlet angkat besi Indonesia sebelumnya. Di usianya yang menginjak 37 tahun, keputusan ini memicu pertanyaan besar: akankah Eko menutup karier dengan gemilang, atau justru menjadi saksi bisu peralihan generasi?
Berdasarkan daftar atlet yang dikonfirmasi, Eko diproyeksikan turun di kelas 65 kilogram putra, dua dekade setelah debutnya di Doha, Qatar, pada 2006. Saat itu, ia masih berusia 17 tahun dan tampil di kelas 56 kg, finis di peringkat keenam dengan total angkatan 271 kg. Sejak 2010, Eko selalu membawa pulang medali: perunggu di Guangzhou (311 kg), perunggu lagi di Incheon (308 kg), hingga emas di Jakarta-Palembang 2018 (311 kg). Namun, di Hangzhou 2022, ia gagal total โ tidak berhasil mencatatkan total angkatan setelah tiga kali gagal di clean and jerk.
Kegagalan di Hangzhou menjadi titik balik. Banyak yang meragukan kemampuan Eko untuk kembali bersaing di level tertinggi, apalagi dengan usia yang tak lagi muda. Namun, masuknya Eko ke dalam tim untuk Aichi-Nagoya menunjukkan bahwa para pelatih masih percaya pada pengalaman dan konsistensinya. "Eko punya jam terbang luar biasa. Mental juaranya tidak perlu diragukan," ujar seorang sumber internal PB PABSI yang enggan disebutkan namanya. Meski begitu, persaingan internal semakin ketat: Rizki Juniansyah, yang kini turun di kelas 85 kg, dan Rahmat Erwin Abdullah di 75 kg, adalah generasi baru yang siap merebut panggung.
Bagi Indonesia, kehadiran Eko bukan sekadar soal prestasi. Ia adalah simbol ketahanan dan dedikasi di tengah gencarnya regenerasi atlet. Namun, di balik itu, ada risiko: jika Eko gagal lagi seperti di Hangzhou, publik bisa mempertanyakan kebijakan seleksi yang masih mengandalkan nama besar. Di sisi lain, pengalamannya bisa menjadi mentor bagi lifter muda seperti Ricko Saputra (60 kg) dan Luluk Diana Tri Wijayana (49 kg) yang baru pertama kali merasakan atmosfer Asian Games.
Keputusan final akan diumumkan dalam beberapa bulan mendatang, setelah melalui serangkaian uji coba dan evaluasi. Pertanyaannya, apakah Eko mampu membuktikan bahwa usia hanyalah angka? Atau justru ini menjadi ajang perpisahan yang manis sebelum ia pensiun dan beralih menjadi pelatih? Yang jelas, Aichi-Nagoya akan menjadi panggung penentu warisan Eko Yuli Irawan dalam sejarah olahraga Indonesia.



