Newcastle Incar Hojbjerg: Jawaban Kepemimpinan di Tengah Darurat Skuad
Baca dalam 60 detik
- The Magpies dikabarkan siap mengajukan tawaran untuk gelandang Marseille, Pierre-Emile Hojbjerg, di tengah eksodus besar-besaran pemain inti.
- Kehadiran pemain Denmark itu dinilai bisa menggantikan peran Bruno Guimaraes yang hampir pasti hengkang ke Arsenal, sekaligus mengisi kekosongan kepemimpinan setelah ditinggal Kieran Trippier.
- Jika transfer ini terwujud, Hojbjerg diprediksi menjadi figur kunci di lini tengah Newcastle di bawah arahan pelatih baru Matthias Jaissle, mirip seperti peran Trippier pada era Eddie Howe.

Newcastle United tengah mempertimbangkan langkah berani untuk mendatangkan gelandang berpengalaman Marseille, Pierre-Emile Hojbjerg, di tengah gejolak besar yang melanda skuad musim panas ini. Langkah ini dinilai sebagai upaya manajemen untuk mengembalikan keseimbangan tim setelah ditinggal sejumlah pemain kunci, termasuk kapten Kieran Trippier dan dua gelandang utama.
Kabar ini pertama kali diungkapkan oleh jurnalis Daily Mail, Craig Hope, yang menyebut Newcastle serius mengincar pemain berusia 31 tahun tersebut. Kehadiran Hojbjerg diharapkan mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Bruno Guimaraes, yang dikabarkan hampir pasti pindah ke Arsenal dengan nilai transfer mencapai ยฃ75 juta. Sebelumnya, Sandro Tonali juga telah dilego ke Tottenham Hotspur dengan banderol ยฃ100 juta, membuat lini tengah The Magpies nyaris kehilangan seluruh kreator utamanya.
Selain masalah teknis di lapangan, Newcastle juga menghadapi krisis kepemimpinan. Kepergian Trippier ke Wolverhampton Wanderers pada usia 35 tahun menjadi pukulan telak, mengingat perannya sebagai kapten dan panutan sejak bergabung pada Januari 2022. Selama membela Newcastle, Trippier sukses mempersembahkan gelar Carabao Cup dan membawa tim menembus dua musim Liga Champions. Kini, manajemen baru yang dipimpin pelatih Matthias Jaissle dan direktur teknis Ross Wilson dituntut untuk segera mencari pengganti yang setara.
Hojbjerg, yang pernah memperkuat Tottenham Hotspur sebelum pindah ke Marseille, dinilai memiliki profil yang cocok untuk mengisi peran tersebut. Musim lalu di Ligue 1, ia tampil impresif dengan memenangkan rata-rata 4,1 duel dan melakukan 5 recoveries per pertandingan. Akurasi umpannya mencapai 90 persen, dengan 82,1 sentuhan bola per laga, menjadikannya pusat permainan Marseille di bawah asuhan Roberto De Zerbi. Analis Bradley Robson bahkan menyebut data permainan Hojbjerg "mirip dengan Rodri", gelandang Manchester City yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Keputusan Newcastle untuk mengincar pemain senior seperti Hojbjerg bukan tanpa alasan. Selain pengalamannya di Premier League, ia juga dikenal sebagai pemimpin yang tenang dan pekerja keras. Mantan gelandang timnas Denmark, Morten Bisgaard, bahkan menyebutnya sebagai "monster" karena ketangguhannya di lini tengah. Dengan gaya bermain agresif yang diterapkan Jaissle, kehadiran Hojbjerg diyakini bisa menjadi perekat yang menyatukan para pemain muda seperti Sean Steur dan Aladji Bamba.
Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan besar: apakah Hojbjerg mampu menggantikan peran Guimaraes yang lebih ofensif? Meski bukan tipikal gelandang serang, kehadirannya justru bisa memberikan keseimbangan yang dibutuhkan Newcastle. Dengan pengalaman dan ketenangannya, ia bisa menjadi mentor bagi pemain muda, sekaligus menjadi jembatan antara lini belakang dan depan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub-klub besar Eropa beradaptasi dengan dinamika transfer yang cepat. Newcastle, yang baru saja berganti pelatih, harus bergerak cerdas di bursa transfer agar tidak tertinggal dari rival-rivalnya. Jika transfer Hojbjerg terwujud, ini akan menjadi sinyal bahwa Newcastle serius membangun fondasi jangka panjang, meski harus merelakan beberapa pemain bintangnya.
Yang jelas, langkah Newcastle ini akan menjadi ujian bagi Jaissle dalam meramu tim. Apakah ia mampu mengulang kesuksesan Eddie Howe yang berhasil membangun Newcastle dari keterpurukan? Atau justru sebaliknya, keputusan ini akan menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: musim depan akan menjadi musim yang penuh tantangan bagi The Magpies.



