Numbat, Satwa Endemik Australia, Keluar dari Status Terancam Punah: Harapan di Tengah Krisis Kepunahan
Baca dalam 60 detik
- Numbat, marsupial langka asal Australia, berhasil diturunkan statusnya dari 'terancam punah' menjadi 'hampir terancam' setelah upaya konservasi selama puluhan tahun.
- Keberhasilan ini menjadi pengecualian di tengah krisis kepunahan yang melanda Australia, yang kehilangan sekitar empat spesies per dekade akibat hama, penyakit, dan perubahan iklim.
- Para ahli memperingatkan bahwa tanpa dukungan politik dan pendanaan yang memadai, keberhasilan ini bisa bersifat sementara, seperti yang terjadi pada spesies lain yang kembali terancam.

Di tengah kabar buruk yang terus menghantui keanekaragaman hayati Australia, seekor marsupial kecil bernama numbat memberikan secercah harapan. Setelah puluhan tahun menghilang dari daftar spesies terancam punah, numbat kini resmi diklasifikasikan sebagai 'hampir terancam'—sebuah pencapaian langka di negara yang dijuluki 'ibu kota kepunahan dunia'.
Numbat, yang sering disamakan dengan tupai atau trenggiling, dulunya tersebar luas di separuh selatan Benua Australia. Namun, kini populasinya hanya bertahan di beberapa kantong, salah satunya Hutan Lindung Dryandra di barat daya Australia. Di sinilah tim konservasi, yang sebagian besar terdiri dari relawan, setiap musim semi melakukan sensus ketat untuk memantau perkembangan populasi. Hasilnya menggembirakan: jumlah numbat di Dryandra meningkat sepuluh kali lipat, dan total populasi nasional kini mencapai sekitar 3.000 ekor.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras para ilmuwan dan relawan yang selama bertahun-tahun melawan berbagai ancaman. Dr. Tony Friend, tokoh konservasi di Australia Barat, mengingat bahwa saat ia pertama kali tiba di Dryandra pada 1980-an, populasi numbat hanya kurang dari 50 ekor. Kini, meski masih rentan, numbat menunjukkan bahwa upaya terpadu bisa membuahkan hasil. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ini bukan akhir perjuangan. "Mereka belum sepenuhnya aman," kata Tony, mengingatkan bahwa spesies lain seperti woylie pernah mengalami nasib serupa—sempat pulih, lalu kembali terancam.
Kisah numbat hanyalah satu titik terang di tengah krisis yang jauh lebih besar. Australia kehilangan sekitar empat spesies setiap dekade, dan jumlah spesies yang terancam terus meningkat. Penyebabnya beragam: hilangnya habitat akibat pembangunan dan industri, hama invasif seperti kucing liar dan rubah, penyakit seperti klamidia pada koala, serta dampak perubahan iklim yang memicu kebakaran hutan dan banjir ekstrem. Kebakaran Black Summer 2019-2020 saja diperkirakan menewaskan tiga miliar hewan. Para ilmuwan sepakat bahwa bumi sedang mengalami kepunahan massal keenam, dan Australia berada di garis depan.
Pemerintah Australia, di bawah kepemimpinan Partai Buruh, telah berjanji untuk mencegah kepunahan baru dan mengesahkan undang-undang lingkungan yang diperbarui. Namun, banyak pihak meragukan komitmen politik yang kuat. Mantan Menteri Lingkungan Robert Hill, yang memimpin reformasi besar pada 1999, mengakui bahwa pemerintahannya pun kurang tegas. "Kapak selalu jatuh pada hasil lingkungan jika ada alternatif ekonomi," ujarnya. Kritik juga ditujukan pada pendanaan yang timpang: pemerintah federal hanya mengalokasikan sekitar A$700 juta untuk perlindungan alam, sementara konservasionis memperkirakan kebutuhan ideal mencapai A$33 miliar atau 1% dari PDB. Ironisnya, subsidi untuk industri ekstraktif dan pertanian intensif justru mencapai A$26 miliar, jauh lebih besar daripada anggaran konservasi.
Bagi Indonesia, kisah numbat memberikan pelajaran berharga. Indonesia juga menghadapi krisis keanekaragaman hayati yang serius, dengan laju deforestasi yang tinggi dan banyak spesies endemik yang terancam punah. Keberhasilan konservasi seperti yang dilakukan di Australia menunjukkan bahwa dengan dedikasi, pendanaan yang memadai, dan dukungan politik, pemulihan spesies bukanlah mimpi. Namun, tanpa kemauan politik yang kuat dan alokasi anggaran yang serius, upaya penyelamatan hanya akan menjadi simbol belaka.
Pelajaran dari Australia juga menyoroti pentingnya melibatkan masyarakat adat dalam konservasi. Bagi masyarakat Aborigin, seperti yang diungkapkan oleh ekolog Jack Pascoe, hilangnya spesies bukan hanya kerugian ekologis, tetapi juga budaya. "Kami menganggap diri kami sebagai penjaga semua kehidupan di Bumi," katanya. Di Indonesia, masyarakat adat juga memiliki peran penting dalam menjaga hutan dan satwa, namun sering terpinggirkan dalam kebijakan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa keberhasilan numbat tidak menjadi anekdot belaka. Diperlukan komitmen jangka panjang, pendanaan berkelanjutan, dan penegakan hukum yang konsisten. Pertanyaannya, apakah Australia—dan negara-negara lain termasuk Indonesia—memiliki keberanian politik untuk melakukannya? Atau akankah kita terus menyaksikan spesies demi spesies menghilang, sementara kita hanya bisa bertepuk tangan untuk satu atau dua kisah sukses?



