Inggris Kembali Cetak Rekor Musim Panas Terpanas, Kekeringan Meluas
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi Inggris (Met Office) memproyeksikan musim panas 2026 akan memecahkan rekor suhu rata-rata tertinggi, melanjutkan tren tahun lalu.
- Hampir tiga perempat wilayah Inggris dan seluruh Wales telah berstatus kekeringan, dengan Juli tercatat sebagai bulan terkering sepanjang sejarah.
- Gelombang panas ekstrem telah menyebabkan ribuan kematian berlebih dan mengganggu sektor pendidikan, transportasi, serta layanan kesehatan di Inggris.

London โ Inggris kembali berada di ambang rekor baru: musim panas terpanas sepanjang sejarah untuk tahun kedua berturut-turut. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) pada Selasa (11/8) mengonfirmasi bahwa negara itu "sedang dalam jalur" menuju rekor suhu rata-rata tertinggi, dengan hanya membutuhkan kondisi normal pada sisa bulan Agustus untuk melampaui rekor yang baru saja ditetapkan tahun lalu.
Data Met Office menunjukkan suhu rata-rata musim panas Inggris sejak 1 Juni hingga 10 Agustus telah mencapai 16,48 derajat Celsius, melampaui rekor tahun lalu yang sebesar 16,10 derajat Celsius. Rekor sebelumnya, 15,76 derajat Celsius, tercatat pada 2018. Ilmuwan senior Met Office, Mike Kendon, menggarisbawahi bahwa Juni dan Juli tahun ini juga menjadi yang terpanas kedua dalam catatan sejarah, dan gelombang panas kelima musim ini sudah di depan mata.
"Statistik ini merupakan pengingat nyata akan perubahan iklim yang sedang terjadi di Inggris," ujar Kendon, menegaskan bahwa fenomena ini bukan lagi anomali, melainkan tren yang mengkhawatirkan.
Dampaknya tidak hanya pada suhu. Kombinasi suhu tinggi dan curah hujan rendah telah menjerumuskan hampir tiga perempat wilayah Inggris dan seluruh Wales ke dalam kondisi kekeringan. Juli tahun ini tercatat sebagai bulan terkering sepanjang sejarah Inggris dan Wales. Infrastruktur yang dirancang untuk iklim sedang kini kewalahan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Gelombang panas pada Mei dan Juni lalu telah mengganggu operasional sekolah, transportasi, dan rumah sakit. Estimasi sementara menunjukkan terjadi 2.877 kematian berlebih di Inggris akibat suhu ekstrem, hampir dua kali lipat dari total kematian berlebih sepanjang musim panas 2025. Angka ini menjadi peringatan serius bagi sistem kesehatan publik yang harus beradaptasi dengan realitas iklim baru.
Fenomena ini sejalan dengan konsensus ilmiah bahwa perubahan iklim memperkuat intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem. Para peneliti memperingatkan bahwa rekor-rekor suhu akan semakin sering terpecahkan, dan negara-negara dengan infrastruktur yang tidak dirancang untuk iklim panas akan menghadapi tekanan yang lebih besar.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin yang relevan. Meskipun Indonesia beriklim tropis, gelombang panas yang melanda negara-negara subtropis seperti Inggris menunjukkan bahwa perubahan iklim berdampak global. Kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya, juga rentan terhadap kenaikan suhu ekstrem dan kekeringan. Adaptasi infrastruktur, sistem kesehatan, dan tata kelola air menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Pemerintah Inggris sendiri telah mengeluarkan peringatan kesehatan dan imbauan untuk menghemat air. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah langkah-langkah jangka pendek ini cukup untuk menghadapi tren jangka panjang? Atau justru diperlukan transformasi struktural dalam perencanaan kota, energi, dan pertanian?
Dengan sisa musim panas yang masih panjang, Inggris mungkin akan mencatat rekor baru yang tidak diinginkan. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk mempercepat aksi iklim yang lebih ambisius.



