Mike Leigh Umumkan Pensiun: 'Tender Loving Care' Jadi Film Terakhirnya
Baca dalam 60 detik
- Sutradara legendaris Inggris Mike Leigh mengonfirmasi bahwa film barunya, Tender Loving Care, kemungkinan besar menjadi karya terakhirnya karena kondisi medis myositis yang menyerang otot.
- Leigh menyampaikan pengumuman ini di Festival Film San Sebastian, Spanyol, tempat film tersebut tayang perdana, sambil merefleksikan tema kepedulian sosial dan kritik terhadap pemotongan anggaran layanan kesehatan di Inggris pasca-Perang Dunia II.
- Keputusan ini menandai berakhirnya karier sinematik selama lebih dari lima dekade, meninggalkan warisan karya realis yang kerap menyoroti kelas pekerja dan dinamika sosial Inggris.

Sutradara kawakan asal Inggris, Mike Leigh, mengungkapkan bahwa film terbarunya, Tender Loving Care, kemungkinan besar akan menjadi proyek terakhir dalam kariernya yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Pengumuman ini disampaikan Leigh di Festival Film San Sebastian, Spanyol, saat mempromosikan film tersebut. Kondisi kesehatan yang menurun menjadi alasan utama di balik keputusan ini.
Leigh, yang kini berusia 83 tahun, didiagnosis menderita myositis, sebuah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan otot dan melemahkan kemampuan motorik. Dalam sesi wawancara dengan wartawan, ia menjelaskan bahwa penyakit ini membuat mobilitasnya terbatas, sehingga aktivitas menyutradarai menjadi semakin sulit. "Ini murni masalah praktis yang berkaitan dengan kondisi medis saya—sebuah kondisi fisik," ujarnya. Ia menambahkan bahwa sangat mungkin film ini akan menjadi yang terakhir baginya.
Tender Loving Care sendiri merupakan drama komedi yang dibintangi Kate O'Flynn, Marion Bailey, Paul Jesson, dan Alice Bailey Johnson. Film ini menyoroti kemunduran Inggris pasca-Perang Dunia II serta dampak pemotongan anggaran pada layanan kesehatan dan sosial. Leigh menegaskan bahwa karyanya bukanlah pelarian romantis, melainkan potret keras realitas yang tetap menjunjung tinggi nilai kasih sayang. "Kita belum berhenti menjadi manusia. Kualitas hidup tidak hilang hanya karena kita menghadapi masa sulit—justru sebaliknya, kita perlu merefleksikan hal-hal positif," tuturnya.
Dalam wawancara tersebut, Leigh juga berbagi pandangannya tentang masa depan Inggris. Ia mengaku memiliki perasaan campur aduk—antara optimisme dan pesimisme. "Saya ingin melihat cahaya di ujung terowongan. Saya memiliki anak dan cucu, dan cucu termuda saya baru berusia dua tahun. Jika semuanya berjalan sebagaimana mestinya, dia akan seusia saya di abad ke-22, dan saya ingin dunia itu menjadi dunia yang baik," ungkapnya. Namun, ia tidak menampik bahwa banyak hal yang terjadi di dunia saat ini membuatnya sulit untuk tetap optimistis.
Leigh juga menyinggung tentang adegan minum wine yang banyak muncul dalam film. Menurutnya, alkohol merupakan bagian dari tekstur kehidupan sehari-hari dan bukan komentar tentang baik atau buruknya konsumsi minuman keras. "Ini tentang membuat film tentang bagaimana kita hidup di segala tingkatan dalam kehidupan nyata. Bagian dari itu adalah orang-orang minum, jadi ada semacam simbolisme di dalamnya," jelasnya.
"Saya ingin melihat cahaya di ujung terowongan. Saya memiliki anak dan cucu, dan cucu termuda saya baru berusia dua tahun. Jika semuanya berjalan sebagaimana mestinya, dia akan seusia saya di abad ke-22, dan saya ingin dunia itu menjadi dunia yang baik." - Mike Leigh
Keputusan Leigh untuk pensiun menandai berakhirnya era seorang pembuat film yang dikenal dengan pendekatan uniknya dalam menggambarkan kelas pekerja dan isu sosial. Sepanjang kariernya, ia telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Palme d'Or di Cannes dan Singa Emas di Venesia. Film-filmnya seperti Secrets & Lies dan Another Year telah meninggalkan jejak mendalam dalam sinema dunia.
Bagi penonton Indonesia, karya-karya Leigh mungkin tidak sepopuler film Hollywood, tetapi bagi para penggemar film independen dan kritikus, ia adalah sosok yang menginspirasi. Film-filmnya sering menjadi bahan diskusi tentang realisme sosial dan humanisme. Kepergiannya dari dunia penyutradaraan tentu menyisakan celah yang sulit diisi, terutama di tengah industri film yang semakin didominasi oleh waralaba besar dan efek visual.
Meski demikian, warisan Leigh akan terus hidup melalui karya-karyanya yang abadi. Pertanyaannya, siapa yang akan meneruskan tradisi sinema realis yang ia rintis? Apakah generasi baru pembuat film akan mampu menjaga semangat kritik sosial dan empati yang menjadi ciri khas Leigh? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Mike Leigh telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi dunia perfilman.



