Ed Sheeran: 'The A Team' Hampir Jadi Satu-satunya Hit Saya
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Shape of You' mengaku sempat mengira kariernya hanya akan bertumpu pada satu lagu, 'The A Team'.
- Momen reflektif itu muncul saat konser Loop Tour di Stadion SoFi, Los Angeles, yang bertepatan dengan 16 tahun penampilan pertamanya di AS.
- Di sisi lain, ia juga mengaku sempat iri pada kesuksesan lagu 'Ordinary' milik Alex Warren yang memuncaki tangga lagu Inggris selama 11 pekan.

Ed Sheeran, penyanyi-penulis lagu asal Inggris, membuka hati tentang keraguan yang pernah menghantuinya di awal karier. Saat membawakan konser Loop Tour di Stadion SoFi, Los Angeles, pada Sabtu (8/8), ia mengaku sempat mengira lagu debutnya, 'The A Team', akan menjadi satu-satunya karya yang dikenang orang. Pengakuan ini disampaikan di hadapan puluhan ribu penonton, tepat di kota yang menjadi saksi bisu perjalanan awalnya di Amerika Serikat 16 tahun silam.
Momen tersebut terasa simbolis. Inglewood, kawasan di Los Angeles tempat ia pertama kali tampil di AS, kini menjadi lokasi konser megah di Stadion SoFi. Bagi Sheeran, ini adalah lingkaran yang tertutup sempurna—dari panggung kecil Savoy Entertainment Center hingga stadion berkapasitas puluhan ribu penonton. "Saya memainkan lagu ini malam itu di Inglewood. Lagu ini telah menemani saya selama 16 tahun karier saya. Saya memainkannya di setiap pertunjukan sejak saat itu," ujarnya, mengenang perjalanan panjang yang tidak pernah ia bayangkan akan sejauh ini.
Keraguan Sheeran bukan tanpa alasan. Industri musik penuh dengan kisah penyanyi yang hanya dikenal karena satu lagu. Namun, takdir berkata lain. Setelah 'The A Team', ia melahirkan deretan hits global seperti 'Shape of You', 'Perfect', dan 'Thinking Out Loud'. Lagu-lagu itu tidak hanya mengokohkan namanya di industri, tetapi juga mengubahnya menjadi salah satu artis dengan penjualan album terlaris sepanjang masa. Meski demikian, pengakuan jujurnya menunjukkan bahwa bahkan musisi sekelas Sheeran pun pernah dilanda ketidakpastian.
Di tengah tur yang sedang berlangsung, Sheeran juga melontarkan pengakuan mengejutkan lainnya. Ia mengaku sempat "iri" pada kesuksesan lagu 'Ordinary' milik Alex Warren, penyanyi pendatang baru berusia 25 tahun. Perasaan itu muncul saat ia pertama kali mendengar lagu tersebut dan langsung terpikat. "Saya bertemu seseorang tahun lalu yang merilis lagu yang membuat saya iri. Saya menyukai lagu itu," katanya di konser di Petco Park, San Diego. Ia pun menghubungi Warren dan mengusulkan untuk bernyanyi bersama. Tak disangka, Warren dan keluarganya justru datang menonton konsernya, dan keduanya pun tampil duet secara spontan.
Kesuksesan 'Ordinary' memang luar biasa. Lagu tersebut bertahan 11 pekan berturut-turut di puncak tangga lagu Inggris, menjadikannya lagu dengan durasi terlama di posisi pertama untuk penyanyi solo pria asal AS dalam lebih dari tujuh dekade. Prestasi ini menyamai rekor 'Bad Habits' milik Sheeran sendiri sebagai lagu dengan durasi terlama di puncak chart pada dekade ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa industri musik masih memberi ruang bagi pendatang baru untuk bersaing dengan nama-nama besar.
Bagi penggemar musik di Indonesia, pengakuan Sheeran ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu datang instan. Banyak musisi Tanah Air yang juga memulai dari satu lagu dan perlahan membangun karier. Fenomena ini juga menyoroti pentingnya ketekunan dan keyakinan pada karya sendiri. Di era streaming yang serba cepat, di mana lagu bisa viral dalam semalam, kisah Sheeran menunjukkan bahwa konsistensi dan kualitas tetap menjadi kunci.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah 'Ordinary' akan mampu menggeser dominasi Sheeran di industri musik global? Atau justru kolaborasi spontan seperti ini akan menjadi tren baru di kalangan musisi? Yang jelas, momen reflektif Sheeran di Inglewood tidak hanya menjadi nostalgia pribadi, tetapi juga cermin bagi industri musik yang terus berubah.



