Amorim Siapkan Peran Baru Rabiot di Milan: Trequartista di Belakang Ramos
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar AC Milan, Ruben Amorim, tengah mempertimbangkan menempatkan Adrien Rabiot sebagai trequartista dalam formasi 3-4-2-1, sebuah peran yang pernah ia jalani di Marseille.
- Perubahan posisi ini berpotensi membuka slot di lini tengah untuk Ardon Jashari, sekaligus menyingkirkan Rafael Leao yang kabarnya akan hengkang musim panas ini.
- Rencana ini masih sebatas wacana karena Rabiot belum bertemu langsung dengan Amorim, mengingat ia masih menikmati liburan pasca-Piala Dunia.

Ruben Amorim, pelatih anyar AC Milan, dikabarkan tengah menyusun strategi baru dengan menempatkan Adrien Rabiot sebagai trequartista di belakang striker Goncalo Ramos. Langkah ini diyakini bisa menjadi kunci untuk membongkar kebuntuan lini serang Rossoneri yang tampil melempem pada pramusim, termasuk kekalahan telak 3-0 dari Chelsea.
Sejak ditunjuk menukangi Milan, Amorim memang lebih condong memakai skema 3-4-2-1. Namun, ia masih mencari formula paling pas untuk memaksimalkan potensi pemain yang ada. Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, ide yang mengemuka adalah memainkan Rabiot bersama Christian Pulisic sebagai dua penyerang lubang di belakang ujung tombak.
Bagi Rabiot, peran ini sejatinya bukan hal baru. Saat masih membela Olympique Marseille di bawah arahan Roberto De Zerbi, gelandang asal Prancis itu pernah menjalani posisi serupa dan tampil impresif. Dalam 22 pertandingan, ia mampu mencetak delapan gol dan lima assist. Catatan itu menunjukkan naluri mencetak gol yang tajam, sesuatu yang bisa menjadi senjata tambahan bagi Milan.
Musim lalu, performa Rabiot di Milan juga terbilang produktif. Pemain berusia 31 tahun itu menyumbang enam gol dan lima assist dalam 32 penampilan. Jika ia bergeser ke posisi yang lebih maju, maka akan ada satu slot kosong di lini tengah. Nama Ardon Jashari disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk mengisi posisi tersebut, mendampingi Luka Modric di sektor tengah.
Konsekuensi lain dari skema ini adalah semakin minimnya ruang bagi Rafael Leao. Winger asal Portugal itu memang santer diberitakan akan hengkang pada bursa transfer musim panas ini. Dengan begitu, keputusan Amorim untuk menggeser Rabiot ke posisi lebih ofensif bisa jadi sinyal bahwa era Leao di San Siro akan segera berakhir.
Namun, semua rencana ini masih bersifat hipotetis. Rabiot sendiri hingga kini belum bertemu langsung dengan Amorim karena ia menunda kepulangannya ke Milan setelah menikmati liburan pasca-Piala Dunia. Ketidakpastian ini membuat skenario tersebut masih menggantung, dan publik menanti apakah sang pelatih akan benar-benar menerapkannya begitu Rabiot bergabung dengan skuad.
Bagi pengamat sepak bola Italia, perubahan peran Rabiot ini menarik untuk disimak. Jika berhasil, Milan bisa memiliki lini serang yang lebih dinamis dan sulit ditebak. Namun, jika gagal, Amorim harus segera mencari alternatif lain di tengah tekanan untuk bersaing di Serie A dan Eropa. Pertanyaannya, akankah Rabiot mampu mengulang ketajamannya seperti saat di Marseille, atau justru menjadi eksperimen yang berisiko?



