Mencetak Talenta Chip: Siswa Jepang Belajar Industri Semikonduktor di Taiwan
Baca dalam 60 detik
- 30 siswa SMA Jepang mengikuti kamp musim panas di Taiwan untuk mendalami industri semikonduktor, termasuk kunjungan ke fasilitas TSMC.
- Program ini merupakan upaya Taiwan menarik minat pelajar asing, seiring persaingan global memperebutkan tenaga kerja terampil di sektor chip.
- Kehadiran pabrik TSMC di Kumamoto, Jepang, menjadi pemicu ketertarikan generasi muda Jepang terhadap industri ini.

Tiga puluh pelajar sekolah menengah atas asal Jepang menghabiskan enam hari di Taiwan pada Juli lalu untuk mengenal lebih dekat industri semikonduktor, dari menerbangkan drone hingga mengunjungi museum milik raksasa chip Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Program ini dirancang untuk mendorong mereka menempuh pendidikan dan berkarier di negeri pulau tersebut.
Kamp musim panas yang diselenggarakan National Yunlin University of Science and Technology di Taiwan barat-tengah ini tidak hanya menawarkan ceramah sejarah semikonduktor, tetapi juga praktik langsung menerbangkan drone. Para peserta juga diajak melihat fasilitas riset semikonduktor yang didukung pemerintah Taiwan. Inisiatif ini muncul di tengah persaingan global memperebutkan pekerja terampil di bidang chip, yang semakin memanas seiring ekspansi pabrik di berbagai negara.
Bagi sebagian peserta, ketertarikan terhadap industri ini sudah tumbuh lebih awal berkat kehadiran TSMC di Jepang. Pabrik pertama perusahaan pengecoran chip terbesar dunia itu di Kumamoto, Jepang barat daya, telah memulai produksi massal pada 2024. Kini, pabrik kedua tengah dibangun di lokasi bersebelahan dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027. Salah satu siswa mengaku pabrik di Kumamoto inilah yang mendorongnya untuk mendalami lebih jauh tentang semikonduktor.
Program ini juga menjadi jembatan bagi Taiwan untuk menarik minat pelajar Jepang agar melanjutkan studi di universitas-universitas Taiwan, yang dikenal memiliki keterkaitan erat dengan industri. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat terserap ke perusahaan lokal setelah lulus. Antusiasme terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai dua kali lipat dari kapasitas yang tersedia, menunjukkan besarnya minat generasi muda Jepang terhadap peluang di sektor ini.
Yugo Yamada, siswa tahun ketiga dari Sapporo Nihon University High School, mengaku bergabung karena kecintaannya pada Taiwan dan merakit perangkat elektronik. Ia juga merasa beruntung bisa mengunjungi TSMC. Senada, Sora Takahashi dari Shizuoka Prefectural High School of Science and Technology menyatakan keinginannya untuk kuliah di Taiwan dan mendalami semikonduktor lebih lanjut.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana negara-negara berlomba membangun ekosistem pendidikan dan industri semikonduktor. Dengan ambisi Indonesia menjadi pemain di rantai pasok chip global, kolaborasi antara universitas dan industri menjadi kunci. Keberhasilan Taiwan menarik minat pelajar asing melalui program semacam ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah mengembangkan industri teknologi dan kebutuhan akan tenaga kerja terampil.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah program serupa akan meluas di Taiwan, tetapi juga bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia, dapat merancang inisiatif serupa untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi era ekonomi berbasis semikonduktor. Dengan investasi besar yang terus mengalir ke sektor ini, kebutuhan akan talenta berkualitas akan semakin mendesak.



