NUS Wajibkan Kursus AI untuk Semua Mahasiswa, Beri Akses Gratis ChatGPT Edu
Baca dalam 60 detik
- Mulai Agustus 2026, seluruh mahasiswa sarjana NUS wajib mengambil minimal dua mata kuliah AI, termasuk modul baru tentang generative AI.
- Universitas menyediakan akses gratis ChatGPT Edu untuk semua mahasiswa dan staf, serta mengembangkan tujuh alat AI internal untuk mendukung pembelajaran.
- Langkah ini menegaskan komitmen NUS menjadikan AI sebagai bagian integral dari pendidikan, sejalan dengan kebijakan serupa di NTU.

Mulai Agustus 2026, seluruh mahasiswa sarjana di National University of Singapore (NUS) diwajibkan menuntaskan minimal dua mata kuliah kecerdasan buatan (AI) sebelum lulus, apa pun bidang studinya. Kebijakan ini diumumkan pada 11 Agustus sebagai bagian dari strategi AI terbaru universitas, yang juga mencakup akses gratis ke ChatGPT Edu untuk semua mahasiswa dan staf.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam kurikulum pendidikan tinggi di Singapura. NUS, yang menaungi sekitar 29.600 mahasiswa sarjana di 15 fakultas dan sekolah, akan menyisipkan AI ke dalam cara setiap disiplin ilmu diajarkan. Namun, universitas menegaskan bahwa pengembangan kualitas manusia seperti penilaian dan komunikasi tetap menjadi prioritas utama.
“Bisnis inti universitas adalah mengembangkan manusia, bukan mengembangkan AI,” ujar Wakil Presiden Bidang Akademik dan Provost NUS, Aaron Thean, dalam jumpa pers sebelum pengumuman resmi. Ia menambahkan bahwa targetnya adalah menjadikan semua mahasiswa “melek AI” saat lulus, sementara kelompok kecil yang mendalami bidang ini akan mencapai tingkat penguasaan lebih tinggi.
Kurikulum baru ini mencakup modul wajib bertajuk “Applied Generative AI: From Prompting to Evaluation” untuk semua mahasiswa baru. Selain itu, mahasiswa di College of Humanities and Sciences, College of Design and Engineering, Business School, dan Healthcare Professional Education—yang mewakili lebih dari 85 persen populasi sarjana—akan mengambil mata kuliah AI sebagai bagian dari kurikulum umum. Setiap jurusan juga akan menambahkan minimal satu mata kuliah wajib yang membahas bagaimana AI mengubah profesi terkait, seperti “Artificial Intelligence and Public Policy” untuk mahasiswa ilmu politik.
Bagi mahasiswa yang ingin mendalami lebih jauh, NUS menawarkan program minor atau jurusan kedua di bidang AI terapan, termasuk dua program baru mulai Agustus: Bachelor of Science in Geospatial Intelligence dan jurusan kedua/minor di Applied AI (Design and Engineering).
Selain itu, mulai 31 Agustus, seluruh mahasiswa, dosen, dan staf akan mendapatkan akses dasar ke ChatGPT Edu, versi ChatGPT yang dikelola universitas dengan batas pesan lebih tinggi dan privasi lebih baik dibandingkan versi gratis. NUS juga berkolaborasi dengan OpenAI untuk menguji alat yang lebih canggih di mata kuliah tertentu, seperti komputasi. Di sisi lain, universitas mengembangkan tujuh alat AI internal untuk pengajaran, termasuk generator skenario untuk simulasi dan “Socratic coach” yang memandu mahasiswa dengan pertanyaan, bukan jawaban.
Kebijakan ini sejalan dengan langkah Nanyang Technological University (NTU) yang pada April lalu mewajibkan literasi AI untuk semua mahasiswa mulai Agustus, dengan akses gratis ke perangkat Google AI premium. Di NUS, mahasiswa keperawatan telah merasakan manfaat pelatihan AI. Nicholas Lau, mahasiswa keperawatan tahun keempat, mengaku pelatihan simulasi berbasis AI membantunya tetap tenang dan berpikir kritis saat menangani pasien stroke yang kondisinya memburuk secara tak terduga. “AI memaksa Anda menjelaskan pemikiran Anda, bukan menghafal jawaban,” katanya.
Bagi Indonesia, langkah NUS ini menjadi sinyal penting bagi perguruan tinggi di tanah air. Dengan semakin masifnya adopsi AI di dunia kerja, kurikulum yang responsif terhadap teknologi menjadi kebutuhan mendesak. Namun, tantangan infrastruktur dan kesiapan pengajar masih menjadi pekerjaan rumah. Akankah universitas-universitas di Indonesia segera mengikuti jejak NUS, atau justru memilih pendekatan yang lebih bertahap? Jawabannya akan menentukan daya saing lulusan kita di era ekonomi digital.



