Hiu Jadi 'Mata-mata' Laut untuk Prediksi Intensitas Badai: Terobosan Baru Ilmuwan Delaware
Baca dalam 60 detik
- Peneliti University of Delaware memasang sensor CTD pada hiu untuk mengukur suhu dan salinitas laut, guna memperbaiki model prediksi intensitas badai.
- Data dari hiu, yang sering muncul ke permukaan, dikirim ke satelit secara real-time, mengisi celah observasi laut yang selama ini sulit dijangkau.
- Jika berhasil, metode ini bisa memberikan peringatan dini lebih akurat bagi wilayah pesisir AS, sekaligus membuka peluang riset serupa di Indonesia yang rawan siklon tropis.

Di balik citra menakutkan yang melekat pada hiu, sekelompok peneliti dari University of Delaware melihat potensi lain: menjadikan predator laut ini sebagai 'mata-mata' bawah air untuk memprediksi keganasan badai sebelum menghantam daratan. Mereka tengah menguji coba pemasangan sensor elektronik pada hiu yang berenang di perairan Pantai Timur AS, dengan harapan data yang dikumpulkan mampu memberi sinyal awal tentang kekuatan topan yang sedang mendekat.
Sensor yang disebut CTD tags ini berukuran kecil dan bekerja mengukur konduktivitas listrik air—yang erat kaitannya dengan salinitas—serta suhu dan kedalaman saat hiu berenang dan menyelam. Data ini kemudian dikirim ke satelit setiap kali hiu muncul ke permukaan, memberikan gambaran kondisi laut secara langsung. Menurut Aaron Carlisle, profesor di School of Marine Science and Policy sekaligus peneliti utama proyek, pemanfaatan hewan sebagai pembawa sensor sebenarnya bukan hal baru. "Sensor yang menempel pada hewan telah berhasil digunakan oleh para ahli kelautan selama bertahun-tahun, terutama pada anjing laut gajah di kawasan kutub yang minim observasi ilmiah," jelasnya.
Yang membuat hiu menarik adalah kelimpahannya, sebarannya yang luas, dan kemudahan akses dibandingkan mamalia laut yang dilindungi. Sebelumnya, penandaan hiu hanya digunakan untuk melacak pergerakan dan habitat. Kini, para peneliti menyeleksi spesies yang paling sering muncul ke permukaan agar transmisi data ke satelit berjalan optimal. Beberapa kandidat kuat di Atlantik Utara antara lain hiu mako sirip pendek, hiu biru, hiu martil halus, dan hiu putih remaja.
Fokus utama penelitian ini adalah mengukur kandungan panas di lapisan atas laut yang dikenal sebagai mixed layer. "Lapisan inilah yang menjadi pendorong utama intensitas badai—semakin hangat mixed layer, semakin kuat badai," ungkap Carlisle. Data ini diharapkan dapat mengisi kekosongan informasi yang selama ini menjadi kelemahan model prakiraan cuaca. Proses penandaan dimulai setiap awal Mei, saat hiu migran mendekati pantai dari habitat musim dinginnya. Para peneliti berlayar 50–65 kilometer lepas pantai, memasang umpan, dan menunggu dua hingga tiga jam hingga seekor hiu memakan umpan tersebut. Pemasangan sensor di sirip punggung dilakukan cepat, kurang dari lima menit, dengan prosedur yang dijaga ketat agar tidak membahayakan hewan.
Caroline Wiernicki, kandidat doktor di universitas yang sama, menyindir penggambaran hiu yang berlebihan di film-film seperti Jaws atau Sharknado. Menurutnya, hiu lebih mirip "Bob dari bagian akuntansi yang masuk kerja dengan membawa data profil suhu harian sebelum kembali berenang." Ia bercanda bahwa timnya belum sampai "menerbangkan hiu ke dalam waterspout", tetapi proyek ini tetap menarik dan serius. Jika berhasil, data dari hiu dapat memperbaiki prakiraan kekuatan badai yang mendekati Pantai Timur AS, memberikan informasi yang lebih andal bagi komunitas pesisir dari North Carolina hingga Massachusetts untuk meningkatkan ketahanan terhadap badai yang semakin kuat.
Bagi Indonesia, riset ini membuka peluang kolaborasi yang relevan. Negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia ini sangat rentan terhadap siklon tropis, seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur dan wilayah timur lainnya. Pemanfaatan hiu sebagai pembawa sensor dapat menjadi alternatif pengamatan laut yang murah dan efektif, terutama di daerah yang minim stasiun pemantau. Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan spesies hiu yang sesuai dan regulasi penangkapan yang ketat. Kolaborasi dengan lembaga riset internasional seperti University of Delaware bisa menjadi langkah awal untuk mengadopsi teknologi ini.
Carlisle menegaskan bahwa di balik stereotip menakutkan, hiu adalah "hewan luar biasa yang beradaptasi sempurna dengan laut, dan kita bisa belajar banyak dari mereka. Jika kami bisa menunjukkan bahwa hiu dapat membantu manusia, itu adalah situasi yang saling menguntungkan." Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah inovasi ini bertahan dari skeptisisme dan membuktikan bahwa hiu bukan hanya predator, tetapi juga pahlawan dalam mitigasi bencana? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah awal ini telah membuka jalan bagi pendekatan baru dalam sains kelautan.



