Gelombang Relawan Masuki Kumamoto: 1.293 Orang Siap Bantu Pembersihan Pasca-Gempa
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 1.200 relawan telah memasuki prefektur Kumamoto, Jepang, untuk membantu pemulihan pasca gempa berkekuatan 7,1 SR.
- Sepuluh dari sebelas pusat relawan telah beroperasi, dengan jumlah pendaftar melebihi kuota yang dibutuhkan pemerintah setempat.
- Fokus utama relawan adalah membersihkan puing-puing dan rumah rusak, sementara ribuan warga masih bertahan di tempat evakuasi.

Lebih dari 1.200 relawan penanggulangan bencana telah memasuki Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, sejak pemerintah kota setempat mulai menerima bantuan mereka pada bulan ini. Gelombang solidaritas ini muncul kurang dari dua pekan setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah tersebut pada 28 Juli lalu, menewaskan sedikitnya 39 orang dan merusak puluhan ribu bangunan.
Menurut data pemerintah prefektur yang dirilis Sabtu (8/8), sebanyak 1.293 orang telah terdaftar sebagai relawan hingga Jumat (7/8). Mereka akan diterjunkan ke berbagai tugas, mulai dari mengangkut puing-puing hingga membersihkan rumah-rumah warga yang rusak akibat guncangan. Pusat koordinasi relawan telah didirikan di 11 kotamadya, dan 10 di antaranya sudah mulai menyalurkan tenaga bantuan ke lapangan. Menariknya, jumlah pendaftar di 10 wilayah tersebut justru melampaui kuota yang diminta pemerintah setempat, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat Jepang untuk terlibat langsung dalam pemulihan.
Sebelumnya, otoritas prefektur sempat mengimbau para calon relawan untuk menahan diri memasuki area terdampak hingga sistem penerimaan benar-benar siap. Langkah ini diambil untuk menghindari kekacauan logistik dan memastikan keselamatan para sukarelawan. Kini, dengan pusat-pusat relawan yang telah beroperasi, arus bantuan mulai mengalir terstruktur. Hingga Sabtu, tercatat lebih dari 6.500 warga masih mengungsi di tempat penampungan sementara, sementara sekitar 18.000 rumah dilaporkan hancur atau rusak parah.
Kisah Risako Matsumoto, seorang perempuan 58 tahun yang rela menghabiskan cuti kerjanya dari kota Iwata, Jepang tengah, untuk membantu di Uki—salah satu wilayah terdampak terparah—menjadi cermin semangat gotong royong yang mengakar. "Karena saya sering berlibur ke sini, saya ingin membantu," ujarnya kepada Kyodo News. Ia adalah satu dari ribuan warga biasa yang memilih turun tangan langsung, alih-alih hanya menyumbang dari jauh.
Fenomena ini sejatinya bukan hal baru di Jepang, yang memiliki budaya tanggap bencana yang kuat. Namun, kecepatan mobilisasi relawan kali ini patut diapresiasi, terutama karena pemerintah setempat berhasil membangun koordinasi yang rapi dalam waktu singkat. Para ahli menilai bahwa keterlibatan relawan tidak hanya mempercepat pemulihan fisik, tetapi juga memberikan dukungan psikologis bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin penting. Negeri kita yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik memiliki kerentanan serupa terhadap gempa bumi dan tsunami. Pengalaman Jepang dalam mengelola relawan pasca-bencana—mulai dari pendaftaran terpusat, pelatihan singkat, hingga penugasan berbasis kebutuhan—bisa menjadi referensi berharga bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah. Apalagi, Indonesia kerap menghadapi kendala koordinasi saat bencana besar melanda, seperti yang terlihat dalam gempa Palu 2018 atau erupsi Semeru 2021.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kelanjutan upaya pemulihan di Kumamoto. Dengan ribuan rumah rusak dan warga yang masih mengungsi, kebutuhan akan relawan dipastikan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Pemerintah prefektur pun harus memastikan pasokan logistik dan dukungan psikologis bagi para relawan itu sendiri, agar semangat mereka tidak padam di tengah jalan. Apakah Jepang mampu mempertahankan ritme pemulihan ini, dan apakah Indonesia bisa menyerap pelajaran berharganya? Waktu yang akan menjawab.



