Petani Karet Indonesia Berbondong-bondong Beralih ke Sawit: Ancaman Baru bagi Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Ribuan petani karet di Indonesia mengkonversi lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit, dipicu oleh harga yang lebih menguntungkan dan perawatan yang lebih mudah.
- Luas areal karet nasional menyusut 17% dalam lima tahun terakhir, berpotensi mengerek harga karet dunia dan menggeser pangsa pasar ke negara Afrika.
- Peralihan massal ini bisa mengancam industri ban global dan memicu pertanyaan tentang keberlanjutan kebijakan hilirisasi sawit di dalam negeri.

Keputusan Sumaryono, petani asal Sumatera Selatan, tiga tahun lalu menebas habis 10 hektare karetnya dan menanam kelapa sawit mungkin tampak seperti pilihan pribadi. Namun, gelombang konversi serupa yang melanda ribuan petani lain di Indonesia kini menjadi sinyal bahaya bagi pasokan karet alam dunia, sekaligus cermin pergeseran lanskap agrikultur nasional yang kian condong ke sawit.
Indonesia, pemasok karet terbesar kedua global dengan kontribusi 14 persen, tengah kehilangan daya tarik komoditas yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi sebagian masyarakat. Data Kementerian Pertanian menunjukkan luas areal perkebunan karet menyusut 17 persen dalam lima tahun terakhir, dari 3,78 juta hektare pada 2021 menjadi sekitar 3,13 juta hektare pada 2026. Produksi pun merosot dari lebih dari 3 juta metrik ton menjadi proyeksi 2 juta ton tahun ini.
Fenomena ini bukan sekadar soal angka. Di baliknya, ada perubahan preferensi petani yang menilai sawit jauh lebih praktis dan menguntungkan. Sumaryono, misalnya, mengaku panen sawit hanya dua kali sebulan dan langsung menghasilkan uang tunai, tanpa perlu perawatan harian seperti menyadap getah karet setiap dua hari. "Karet itu menyita waktu dan tenaga, sementara sawit lebih santai," ujarnya. Kelangkaan tenaga penyadap terampil juga menjadi faktor pendorong, seperti diungkapkan Kevan Mitchell, direktur Rubber Services Singapore 1877 (RSS1877).
Harga menjadi pemicu utama. Setelah mencapai puncak pada 2011, harga karet terpuruk panjang, sementara harga sawit melonjak saat pandemi dan terus ditopang mandat biodiesel. Arif Susanto, ketua asosiasi petani karet Apkarindo, memperkirakan hingga 500.000 hektare di Sumatera Selatan saja sudah beralih fungsi. "Pemicunya sederhana: harga," tegasnya. Kastolani, petani yang 40 tahun menekuni karet, juga mengkonversi tujuh dari 11 hektarenya karena melihat prospek sawit lebih cerah, ditambah usia pohon yang tua dan sulitnya mencari tenaga kerja.
Pergeseran ini tidak hanya mengubah nasib petani, tetapi juga memicu kekhawatiran di tingkat global. Indonesia selama ini menjadi pemasok utama karet alam untuk industri ban, termasuk Michelin yang memiliki perkebunan di dalam negeri. Seorang pakar Michelin yang enggan disebut namanya mengakui produksi karet Indonesia turun signifikan, sehingga pangsa pasokan dari Indonesia menyusut. Menariknya, harga karet Indonesia (SIR20) kini sejajar bahkan terkadang lebih tinggi dari karet Thailand (STR20), yang biasanya lebih mahal. Farah Miller, CEO Helixtap Technologies, menilai pembeli global kini tidak punya banyak ruang untuk mensubstitusi kekurangan Indonesia dengan Thailand.
Kekosongan itu sebagian diisi oleh negara-negara Afrika Barat, seperti Pantai Gading, yang mulai ramai mengekspor karet. Aktivitas kargo Afrika meningkat menjelang tenggat regulasi deforestasi Uni Eropa pada Desember 2026. Ini menjadi ironi: Indonesia, yang dulu berjaya, kini kehilangan pamor di pasar global, sementara negara lain mengambil alih.
Pemerintah Indonesia sendiri mengakui harga karet yang rendah menjadi pemicu konversi. Heru Tri Widarto, Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Perkebunan, menyatakan upaya meningkatkan daya saing karet terus dilakukan, namun petani diminta mempertimbangkan dampak jangka panjang, termasuk aspek lingkungan. Pertanyaannya, apakah kebijakan hilirisasi sawit yang agresif akan semakin mempercepat ditinggalkannya karet? Atau justru ada terobosan untuk mengembalikan gairah petani pada komoditas yang pernah menjadi primadona ini? Tanpa insentif harga yang memadai dan perbaikan tata kelola, Indonesia mungkin harus merelakan posisinya sebagai raksasa karet dunia.



