Ringgit Dibuka Bervariasi di Tengah Penguatan Dolar AS: Konflik Hormuz dan Sinyal Suku Bunga Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar ringgit terhadap dolar AS bergerak fluktuatif pada pembukaan perdagangan Selasa, seiring menguatnya indeks dolar AS yang dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di Selat Hormuz.
- Konflik antara AS dan Iran atas kompensasi kerusakan regional meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, yang berpotensi menekan mata uang Asia termasuk ringgit.
- Data tenaga kerja AS yang lemah pekan lalu tidak mampu melemahkan dolar, mengindikasikan sentimen pasar masih didominasi oleh faktor keamanan energi dan kebijakan moneter.

Nilai tukar ringgit Malaysia dibuka bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama pada Selasa pagi, sementara dolar AS terus menguat di tengah melonjaknya harga minyak mentah pasca dibukanya kembali Selat Hormuz. Pada pukul 08.00 waktu setempat, ringgit diperdagangkan di level 4,0900/0975 per dolar AS, sedikit melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di 4,0885/0930.
Kepala ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengamati bahwa indeks dolar AS (DXY) naik 0,27 persen ke posisi 99,811 poin. Ia menilai bahwa sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak tuntutan kompensasi dari Iran, dengan menegaskan bahwa Teheran harus bertanggung jawab atas kerusakan di kawasan, menjadi katalis positif bagi dolar. "Berita ini tampaknya positif bagi dolar karena dapat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September mendatang," ujarnya kepada Bernama.
Kondisi ini menciptakan sinyal yang saling bertentangan di pasar. Data tenaga kerja AS yang lemah pada Jumat lalu gagal melemahkan dolar, menunjukkan bahwa pelaku pasar lebih fokus pada risiko geopolitik dan potensi normalisasi kebijakan moneter AS. "Kami memperkirakan ringgit akan tetap bergerak dalam kisaran terbatas mengingat sinyal yang bertentangan ini," tambah Afzanizam.
Terhadap mata uang utama lainnya, ringgit menunjukkan performa yang beragam. Ringgit menguat terhadap yen Jepang ke level 2,5696/5746 dari 2,5736/5766, dan terhadap euro ke 4,7223/7310 dari 4,7247/7299. Namun, ringgit melemah terhadap poundsterling Inggris ke 5,5260/5361 dari 5,5170/5231.
Sementara itu, di kawasan regional, ringgit menguat terhadap dolar Singapura ke 3,1943/2004 dari 3,1961/2002, tetapi melemah terhadap baht Thailand ke 12,3921/4204 dari 12,3894/4079. Terhadap rupiah Indonesia, ringgit hampir tidak berubah di 230,3/230,8, dan relatif stabil terhadap peso Filipina di 6,73/6,75.
Bagi Indonesia, pergerakan ringgit ini memberikan gambaran tentang tekanan yang dihadapi mata uang regional di tengah ketidakpastian global. Rupiah yang relatif stabil terhadap ringgit menunjukkan bahwa Bank Indonesia mungkin perlu tetap waspada terhadap potensi capital outflow jika dolar terus menguat. Selain itu, harga minyak yang tinggi akibat konflik Hormuz dapat berdampak pada inflasi dan defisit fiskal Indonesia, mengingat negara ini masih menjadi importir minyak.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini, serta perkembangan diplomasi AS-Iran. Jika ketegangan mereda, dolar berpotensi melemah dan memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat. Namun, jika konflik berlanjut, tekanan terhadap ringgit dan rupiah diperkirakan akan berlanjut. Pertanyaannya, apakah bank sentral di kawasan akan mengambil langkah intervensi untuk menstabilkan mata uang mereka?



