Resep Nusantara di Ambang Kepunahan: 80 Persen Generasi Muda Tak Mau Mewarisi
Baca dalam 60 detik
- Riset Nusa Gastronomi mengungkap 80% pelaku kuliner tradisional tidak memiliki penerus untuk resep warisan.
- Hilangnya bahan baku alami, seperti 120 jenis daun untuk rendang, mempercepat erosi pengetahuan memasak.
- Para ahli menekankan bahwa yang punah bukan sekadar makanan, melainkan budaya makan dan identitas bangsa.

Warisan kuliner Nusantara yang kaya rasa dan filosofi tengah menghadapi ancaman serius: punahnya bahan-bahan alami dan putusnya rantai pewarisan pengetahuan memasak antar-generasi. Data terbaru dari Nusa Gastronomi menunjukkan bahwa sekitar 80 persen pelaku kuliner tradisional mengaku anak-anak mereka enggan melanjutkan tradisi memasak keluarga. Kondisi ini bukan sekadar kehilangan resep, melainkan sinyal meredupnya identitas bangsa yang selama ini dijaga melalui cita rasa dan kearifan lokal.
Fenomena ini mengemuka dalam sebuah diskusi bertajuk resep warisan Nusantara yang digelar di Kopikina, Kemang, Jumat lalu. Mei Batubara, pendiri Nusa Gastronomi, memaparkan bahwa akar persoalan terletak pada dua hal utama: hilangnya bahan baku dan hilangnya pengetahuan. "Yang pertama adalah bahannya hilang. Yang kedua pengetahuannya hilang," ujarnya di hadapan para pegiat kuliner dan budaya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa krisis kuliner tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan kerusakan lingkungan dan perubahan sosial.
Contoh konkret yang diangkat Mei adalah rendang 120 daun, hidangan legendaris yang membutuhkan 120 jenis daun berbeda. Dalam riset yang dilakukan timnya, seorang ibu hanya berhasil mengumpulkan 55 jenis daun setelah mencarinya selama dua hari. Padahal, dahulu hutan yang menjadi sumber bahan-bahan tersebut masih mudah dijangkau dari permukiman warga. Kini, jarak tempuh yang semakin jauh dan menyusutnya tutupan hutan membuat bahan-bahan tersebut semakin langka. Akibatnya, banyak resep yang tidak lagi dapat dipraktikkan karena bahan utamanya sulit ditemukan.
Lebih jauh, Mei menilai persoalan ini tidak hanya soal makanan, tetapi juga budaya makan masyarakat. "Jadi bukan makanannya, bukan tentang resepnya, tapi tentang budaya makannya," tegasnya. Budaya makan yang dimaksud mencakup ritual, kebersamaan, dan nilai-nilai yang melekat dalam setiap hidangan. Ketika generasi muda lebih memilih makanan instan dan praktis, secara perlahan mereka juga meninggalkan kebiasaan makan yang sarat makna tersebut.
Senada dengan Mei, Dewi Kharisma Michellia, penulis buku Memasak Harapan, menyoroti bahwa pengetahuan kuliner Nusantara selama ini diwariskan secara lisan dan melalui praktik langsung. "Pengetahuan yang terwariskan pun ya dari bagaimana sentuh, atau dari lisan, dari pengetahuan yang verbal saja," jelasnya. Metode pewarisan semacam ini sangat rentan terhadap putusnya rantai generasi, karena tidak ada dokumentasi tertulis yang sistematis. Dewi juga menekankan perlunya penelusuran sejarah untuk memahami transisi pewarisan pengetahuan ini. "Pelacakan sejarah tentang transisi-transisi inilah yang sebetulnya perlu kita gali lagi," katanya.
Implikasi dari fenomena ini sangat luas, tidak hanya bagi industri kuliner tetapi juga bagi upaya pelestarian budaya nasional. Jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal rendang, soto, atau gudeg dari buku sejarah, bukan dari meja makan. Para pegiat kuliner dan akademisi pun mulai mendorong adanya dokumentasi resep-resep tradisional, baik dalam bentuk tulisan maupun audio-visual, sebagai upaya penyelamatan. Selain itu, rehabilitasi hutan dan perlindungan sumber daya alam juga menjadi kunci agar bahan-bahan utama tetap tersedia.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: mampukah Indonesia menjaga warisan rasanya di tengah arus modernisasi yang kian deras? Jawabannya mungkin terletak pada kesadaran kolektif untuk menghargai dan melestarikan budaya makan, bukan sekadar mengejar kepraktisan. Jika tidak, nyala resep Nusantara akan semakin padam, meninggalkan dapur-dapur yang sunyi dan identitas yang memudar.



