Dolly Parton Meninggal, Keponakan yang Umumkan Wafatnya Kini Dipecat dari Kepala Keamanan
Baca dalam 60 detik
- Bryan Seaver, keponakan Dolly Parton yang mengumumkan kematian sang legenda, dilaporkan dicopot dari jabatan kepala keamanan aset-aset keluarga.
- Pemecatan terjadi di tengah ketegangan dengan manajer lama Dolly, Danny Nozell, dan Pinnacle Bank terkait pengelolaan DP Dean Trust.
- Kasus ini menyoroti potensi sengketa warisan dan kontrol aset senilai miliaran dolar pasca-meninggalnya ikon country tersebut.

Kabar duka dari dunia musik country belum usai, tetapi konflik internal keluarga Dolly Parton mulai mencuat ke permukaan. Bryan Seaver, keponakan sekaligus kepala keamanan properti milik mendiang Dolly Parton, dilaporkan telah diberhentikan dari posisinya. Pemecatan ini terjadi hanya beberapa pekan setelah ia menyampaikan pengumuman resmi wafatnya sang bibi melalui pesan video yang diunggah di akun Instagram Dolly pada 25 Agustus lalu.
Menurut laporan TMZ, surat pemberhentian dikirim kepada Bryan pekan lalu. Tim keamanan baru telah ditempatkan di kediaman Dolly di Nashville, museum, rumah di pusat kota, serta gudang miliknya. Langkah ini menandai pergantian besar dalam pengelolaan aset fisik dan bisnis mendiang penyanyi legendaris tersebut.
Bryan dan timnya menyatakan "terkejut dan kecewa" atas tindakan yang mereka nilai tidak terduga dan belum dijelaskan alasannya. Mereka menegaskan tetap berkomitmen menjalankan perintah terakhir Dolly untuk melindungi keluarganya, serta menolak diintimidasi oleh pihak yang dianggap bertindak dengan itikad buruk dan berniat mengambil keuntungan dari nama besar Dolly.
Persoalan ini diduga berkaitan dengan Danny Nozell, manajer yang telah lama mendampingi Dolly, dan Pinnacle Bank. Surat pemberhentian yang dilihat TMZ mencantumkan sejumlah properti dan kepentingan bisnis profesional mendiang sebagai bagian dari DP Dean Trust. Meskipun Bryan kehilangan peran keamanan, haknya sebagai penerima manfaat trust tidak serta-merta hilang.
"Kami tetap teguh memenuhi arahan terakhirnya untuk melindungi keluarganya, dan kami menolak diintimidasi oleh mereka yang kami yakini bertindak dengan niat buruk dan berniat mencari keuntungan dari kehidupan seseorang yang dengan sukarela memberi begitu banyak," ujar Bryan dan timnya dalam pernyataan kepada TMZ.
Dolly Parton wafat pada usia 80 tahun. Tiga hari setelah kepergiannya, keluarga menggelar pemakaman tertutup di Woodlawn Memorial Park and Mausoleum, Nashville. Ia dimakamkan bersebelahan dengan suami tercinta, Carl Dean, yang lebih dulu meninggal pada Maret 2025 di usia 82 tahun.
Kepergian Dolly tidak hanya meninggalkan warisan musik yang luar biasa, tetapi juga kerajaan bisnis yang mencakup properti, museum, dan berbagai kepentingan komersial. Nilainya diperkirakan mencapai puluhan juta dolar. Konflik internal semacam ini kerap muncul ketika seorang tokoh besar meninggal tanpa struktur pengelolaan yang sepenuhnya disepakati semua pihak.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana sengketa warisan dan kontrol aset bisa terjadi bahkan dalam keluarga yang tampak harmonis. Di Indonesia, fenomena serupa sering terjadi pada keluarga pengusaha atau tokoh publik yang meninggalkan bisnis besar tanpa perencanaan suksesi yang matang. Perbedaan budaya dan sistem hukum tentu memengaruhi, tetapi inti persoalannya sama: komunikasi dan kejelasan mandat menjadi kunci mencegah konflik pasca-wafat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Danny Nozell atau Pinnacle Bank. Publik menanti apakah Bryan akan menempuh jalur hukum untuk mempertahankan haknya, atau apakah keluarga akan mencapai kesepakatan damai. Yang jelas, kisah di balik layar Dolly Parton belum berakhir seiring kepergiannya.



