Krisis Manchester United: Mengapa INEOS Harus Berani Pecat Carrick dan Panggil Conte?
Baca dalam 60 detik
- Manchester United mencatat awal terburuk di Premier League sejak 2014/15 dengan hanya satu kemenangan dan tersingkir dari Carabao Cup.
- Manajemen INEOS di bawah Sir Jim Ratcliffe tengah mempertimbangkan opsi pelatih elit, termasuk Antonio Conte yang dikabarkan menunggu panggilan.
- Keputusan mengganti Carrick dengan Conte berisiko menimbulkan gejolak, tetapi bisa menjadi langkah tegas untuk menyelamatkan musim.

Manchester United kembali berada di tepi jurang setelah menorehkan start terburuk di Premier League sejak musim 2014/15. Hanya satu kemenangan dari beberapa laga awal dan tersingkir dari Carabao Cup membuat posisi Michael Carrick semakin tertekan. Manajemen INEOS di bawah Sir Jim Ratcliffe kini dihadapkan pada dilema: memberikan waktu atau mengambil tindakan drastis dengan mendatangkan pelatih elit.
Keputusan merekrut Carrick secara permanen awalnya disambut optimisme, tetapi bayang-bayang kegagalan Ole Gunnar Solskjaer kembali menghantui. Carrick memang sempat menunjukkan sinar harapan saat menjabat sebagai pelatih interim pada awal 2026, mengumpulkan 41 poin—terbanyak di liga—seolah mengembalikan United ke jalur juara. Namun, performa itu kini sirna, berganti dengan catatan yang mirip tim zona degradasi. Perubahan drastis ini memicu pertanyaan tentang kemampuan Carrick dalam mengelola ekspektasi tinggi di Old Trafford.
Data menunjukkan bahwa tidak ada satu pun manajer sebelumnya—Jose Mourinho, Solskjaer, Erik ten Hag, maupun Ruben Amorim—yang memiliki rekor awal musim seburuk Carrick. Meski demikian, Carrick dinilai unggul dalam membangun hubungan personal dengan pemain, sesuatu yang mungkin menjadi alasan manajemen masih ragu untuk memutus kontrak. Namun, pengalaman Carrick di level tertinggi sebagai pelatih utama hanya sebatas menangani Middlesbrough, yang jelas berbeda dengan tekanan di Manchester United.
Di tengah tekanan, nama Antonio Conte mencuat sebagai kandidat kuat. Pelatih asal Italia itu dikabarkan sedang menunggu panggilan dari Old Trafford. Conte bukan sosok asing di Inggris; ia pernah membawa Chelsea juara Premier League dan FA Cup. Gaya kepemimpinannya yang keras dan konfrontatif sering dibandingkan dengan Mourinho. Mantan bek timnas Italia, Gianluca Zambrotta, pernah menilai bahwa Conte, Mourinho, dan Pep Guardiola memiliki kepribadian yang serupa dan berada di level yang setara.
Namun, mendatangkan Conte bukan tanpa risiko. Ia dikenal gemar mengubah struktur tim secara radikal dan terkadang berselisih dengan manajemen. Di Tottenham Hotspur, ia meninggalkan klub dengan kontroversi. Meski begitu, rekam jejaknya sebagai pemenang di beberapa liga top Eropa membuatnya tetap menjadi pilihan menarik. United yang haus akan trofi mungkin membutuhkan sosok tegas seperti Conte untuk mengembalikan budaya juara yang lama hilang.
Alternatif lain di pasar pelatih juga tersedia, seperti Julian Nagelsmann dan Didier Deschamps. Luis Enrique sebenarnya menjadi favorit, tetapi setelah sukses bersama Paris Saint-Germain, ia diperkirakan enggan pindah. Situasi ini membuat Conte menjadi opsi paling realistis jika INEOS ingin perubahan segera.
Bagi penggemar Manchester United di Indonesia, keputusan ini akan sangat dinanti. Klub dengan basis penggemar besar di Tanah Air ini selalu menjadi sorotan, dan setiap pergantian pelatih memengaruhi dinamika pasar merchandise serta jadwal siaran. Jika Conte datang, ekspektasi akan melonjak, tetapi juga diiringi tuntutan hasil instan. Sebaliknya, mempertahankan Carrick berarti memberi ruang bagi proyek jangka panjang yang berisiko jika hasil tidak kunjung membaik.
Dalam beberapa pekan ke depan, tekanan pada INEOS akan semakin besar. Apakah mereka akan bertahan dengan Carrick dan berharap keajaiban, atau mengambil langkah berani dengan mendatangkan Conte? Keputusan ini tidak hanya menentukan arah musim ini, tetapi juga masa depan klub dalam jangka panjang.



