Tottenham di Dasar Klasemen: Mengapa Eddie Howe Layak Gantikan De Zerbi?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur terpuruk di posisi juru kunci Premier League setelah belanja besar musim panas, memicu spekulasi pergantian manajer.
- Roberto De Zerbi dianggap belum mampu mengoptimalkan pemain mahal seperti Mateus Fernandes dan Omar Marmoush, dengan lini serang tumpul.
- Eddie Howe muncul sebagai kandidat kuat karena rekam jejak stabilitas dan manajemen pemain, meski biaya pemecatan De Zerbi mencapai ยฃ50 juta.

Tottenham Hotspur menutup jeda internasional dengan posisi terendah di klasemen Premier League, sebuah situasi yang kontras dengan ambisi besar mereka pada bursa transfer musim panas. Kekalahan demi kekalahan membuat tekanan terhadap manajer Roberto De Zerbi semakin intens, sementara dewan klub dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau bermanuver di tengah kompetisi.
Musim lalu, Spurs nyaris terdegradasi dan hanya mampu finis di zona aman setelah perjuangan panjang. Alih-alih membangun fondasi, mereka justru mengeluarkan lebih dari ยฃ300 juta untuk mendatangkan pemain seperti Sandro Tonali, Mateus Fernandes, dan Savio. Namun, investasi jumbo itu belum berbuah hasil; tim baru mencetak gol pertama di liga pada pertandingan kelima, dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
De Zerbi, yang dikenal sebagai arsitek taktis, menghadapi kritik tajam karena dianggap salah menempatkan pemain. Mateus Fernandes, yang dibeli mahal, dipaksa bermain sebagai gelandang serang dan ditarik keluar pada babak pertama laga terakhir. Sementara itu, Omar Marmoush dan Dominic Solanke kesulitan mencetak gol, membuat lini depan Spurs tumpul. Meski pertahanan sedikit membaik dengan kehadiran Jan Paul van Hecke, Marcos Senesi, dan Andy Robertson, masalah utama ada pada ketajaman serangan.
Jika hasil buruk berlanjut, manajemen ENIC selaku pemilik klub dilaporkan akan terpaksa mengambil tindakan. Namun, mahalnya biaya pemutusan kontrak membuat mereka cenderung memberi De Zerbi kesempatan hingga jeda internasional berikutnya. Nama-nama pelatih top seperti Julian Nagelsmann dan Arne Slot mulai dikaitkan, tetapi ada satu sosok yang dianggap lebih cocok: Eddie Howe.
"Eddie Howe adalah pelatih Inggris terbaik dengan selisih yang sangat jauh," ujar Jamie Carragher, seperti dikutip dari Football FanCast. "Dia juga layak menjadi manajer Inggris berikutnya."
Howe, 48 tahun, memiliki rekam jejak mengesankan. Ia membawa Bournemouth dari League Two ke Premier League, lalu di Newcastle United ia mengakhiri puasa gelar selama 56 tahun dengan trofi Carabao Cup dan membawa The Magpies bersaing di Liga Champions. Meski mendapat dukungan dana besar dari PIF, Howe tetap dihadapkan pada aturan Financial Fair Play dan kehilangan pemain kunci, namun mampu menjaga stabilitas dengan tiga finis di paruh atas klasemen.
Bagi Tottenham, sosok Howe menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar taktik: kemampuan manajemen pemain yang humanis. Para pemain Spurs saat ini dinilai butuh sosok yang mampu merangkul dan membangkitkan kepercayaan diri, dan Howe dikenal memiliki pendekatan personal yang kuat. Jika De Zerbi gagal membalikkan keadaan, Howe bisa menjadi jawaban atas kekosongan kepemimpinan di London Utara.
Konteks Indonesia: Kisruh Tottenham ini menjadi cerminan bagaimana klub besar dengan belanja besar pun bisa terjerumus jika tidak ada keselarasan antara manajer, rekrutmen, dan budaya klub. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik disimak karena menunjukkan bahwa uang tidak selalu menjamin kesuksesan, dan stabilitas jangka panjang sering kali lebih berharga daripada gebrakan transfer. Liga Indonesia pun bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya visi dan kesabaran dalam membangun tim.
Pertanyaannya kini: apakah De Zerbi mampu memanfaatkan jeda internasional untuk membenahi lini serang, ataukah manajemen Spurs akan segera menghubungi Howe? Waktu terus berjalan, dan tekanan semakin panas.



