Bahlil: Tak Pernah Minder Jadi Anak Pembantu Rumah Tangga, Justru Itu Modal Menjadi Menteri
Baca dalam 60 detik
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia secara terbuka menyebut latar belakang ibunya sebagai PRT justru menjadi fondasi nilai hidupnya.
- Pengalaman masa kecil sebagai kondektur angkot disebutnya sebagai batu loncatan menuju kursi menteri dan ketua umum Golkar.
- Peluncuran 10 buku karyanya dihadiri Presiden Prabowo dan sejumlah pejabat tinggi, menandai penguatan posisinya di panggung politik nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa ia tidak pernah merasa malu atau minder karena dilahirkan dari seorang ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Pernyataan itu disampaikan dalam acara peluncuran dan bedah sepuluh buku karyanya di Jakarta, Jumat, yang turut dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat tinggi negara.
Bagi Bahlil, asal-usulnya justru menjadi fondasi yang membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia mengaku ibunya menanamkan nilai-nilai seperti persaudaraan, penghargaan terhadap sesama, kejujuran, loyalitas, dan etos kerja yang tinggi. "Andaikan saya lahir dari kandungan wanita yang lain, belum tentu saya bisa menjadi Menteri ESDM dan Ketua Umum Partai Golkar," ujarnya dengan nada penuh syukur, sembari menyampaikan terima kasih kepada sang ibu.
Kisah hidup Bahlil memang tidak lepas dari kerja keras. Ia pernah bekerja sebagai kondektur angkutan kota saat masih duduk di bangku SMP. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi pelajaran berharga tentang arti perjuangan dan tanggung jawab. Ia bahkan masih ingat ketika ayahnya memarahinya sepulang bekerja dari terminal, menanyakan tentang cita-cita dan masa depannya. Momen itulah yang menanamkan tekad kuat dalam dirinya untuk memberikan yang terbaik bagi kedua orang tuanya.
Kehadiran Presiden Prabowo dan tokoh-tokoh penting lainnya dalam peluncuran buku Bahlil menunjukkan pengakuan atas perjalanan hidupnya yang inspiratif. Bagi publik Indonesia, kisah Bahlil menjadi cermin bahwa latar belakang ekonomi dan sosial bukanlah penghalang untuk meraih posisi puncak. Ini juga menjadi pengingat bahwa masih banyak anak-anak dari keluarga prasejahtera yang membutuhkan akses pendidikan dan kesempatan yang sama untuk mengubah nasib.
Bahlil juga mempersembahkan buku-bukunya kepada sang ayah yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penghormatan atas didikan dan nilai-nilai yang diberikan. Ia mengaku buku-buku tersebut telah disusun sejak dirinya masih menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menunjukkan bahwa refleksi atas perjalanan hidupnya sudah lama ia pikirkan.
Kisah Bahlil ini tidak hanya soal kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan pemerintah ke depan dapat menciptakan ruang bagi generasi muda dari berbagai latar belakang untuk berkembang. Apakah akan ada kebijakan yang lebih berpihak pada pendidikan vokasi dan pelatihan kerja bagi anak-anak kurang mampu? Atau akankah kisah inspiratif ini hanya menjadi seremonial belaka? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah semangat "dari rahim PRT menjadi menteri" dapat menjadi kenyataan bagi lebih banyak orang Indonesia.



