PASI Rombak Pelatnas Mandiri: Atlet Lapis Dua Dipulangkan, Fokus Penuh ke Asian Games 2026
Baca dalam 60 detik
- PB PASI menghentikan sementara program pemusatan latihan mandiri untuk atlet lapis kedua dan mengalihkan sumber dayanya demi optimalisasi persiapan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
- Sebanyak 13 atlet elite, termasuk Lalu Muhammad Zohri dan Maria Natalia Londa, tetap menjalani pelatihan intensif dengan tambahan pelatih khusus yang didanai mandiri oleh federasi.
- Langkah ini menegaskan prioritas PASI pada ajang multievent Asia, sekaligus menguji efektivitas pembinaan terpusat di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) mengambil langkah berani dengan merombak skema pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Atlet-atlet yang sebelumnya berada di pelatnas mandiri lapis kedua dipulangkan ke daerah masing-masing, sementara fokus penuh diarahkan pada 13 atlet inti yang diproyeksikan berlaga di Jepang. Keputusan ini diambil untuk memastikan kesinambungan persiapan tim tanpa terpecah konsentrasi, sekaligus menjawab tantangan efisiensi pembinaan di tengah keterbatasan anggaran.
Manajer Tim Nasional Atletik Indonesia, Mustara Musa, mengungkapkan bahwa sebelumnya pembinaan atlet berjalan melalui dua jalur: pelatnas yang didanai pemerintah dan pelatnas mandiri yang dibiayai PB PASI. "Jadi kami kan dua lapis, satu pelatnas Asian Games 2026, satu lagi pelatnas mandiri. Nah, pelatnas mandiri ini adalah atlet lapis dua," jelasnya. Namun, dengan penyesuaian program, atlet lapis kedua tersebut kini dikembalikan ke daerah asal, dan skema pelatnas mandiri dialihkan untuk memperkuat kebutuhan tim utama.
Keputusan ini bukan tanpa risiko. Memulangkan atlet lapis kedua berarti mengurangi kedalaman skuad, namun PASI menilai langkah ini perlu untuk memaksimalkan sumber daya yang ada. Mustara menegaskan, "Pelatnas yang mandiri ini kami pulangkan ke daerah, diganti atletnya yang pelatnas menuju Asian Games." Dengan demikian, dukungan pembiayaan mandiri PB PASI kini difokuskan untuk menambal celah yang tidak tercakup oleh program pemerintah, salah satunya penambahan pelatih spesialis.
Atletik memang memiliki beragam nomor dengan karakteristik yang berbeda, sehingga tidak mungkin semua atlet ditangani oleh satu pelatih yang sama. Melalui Surat Keputusan Ketua Umum PB PASI Nomor 19/SK/PB.PASI/VII/2026, federasi menetapkan 13 atlet, tujuh pelatih, dan empat tenaga pendukung dalam Pelatnas Program Mandiri menuju Asian Games. Para atlet tersebut adalah Maria Natalia Londa, Diva Renatta Jayadi, Emilia Nova, Dina Aulia, Violine Intan Puspita, Odekta Elvina Naibaho, Robi Syianturi, Lalu Muhammad Zohri, Abdul Hafiz, Hendro, Pandu Sukarya, Wahyudi Putra, dan Silfanus Ndiken. Mayoritas dari mereka menjalani pemusatan latihan di Pangalengan, Jawa Barat, sementara Maria Natalia Londa berlatih terpisah di Bali.
Bagi pengamat olahraga, langkah PASI ini mencerminkan pragmatisme dalam pengelolaan anggaran. Dengan memulangkan atlet lapis kedua, federasi menghemat biaya operasional yang kemudian dialihkan untuk kebutuhan prioritas, seperti menggaji pelatih tambahan. Ini juga menjadi sinyal bahwa PASI serius mengejar target medali di Asian Games, setelah sebelumnya Indonesia hanya meraih hasil kurang memuaskan di ajang serupa. Pertanyaan besarnya, apakah pengorbanan ini akan berbuah manis di Aichi-Nagoya?
Mustara membantah bahwa perubahan mekanisme ini menghentikan persiapan para atlet. "Persiapan kami sebetulnya sejak awal untuk persiapan Asian Games gak berhenti," tegasnya. Namun, publik tentu menunggu bukti nyata di lapangan. Dengan waktu yang tersisa hingga 2026, konsistensi program latihan dan kualitas dukungan akan menjadi penentu. Apakah Indonesia mampu bersaing dengan kekuatan atletik Asia seperti China, Jepang, dan India? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi langkah PASI kali ini menunjukkan arah yang lebih terukur dan fokus.



