Kate O'Connor Akhiri Penantian 40 Tahun Irlandia Utara di Atletik Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Kate O'Connor merebut emas heptathlon Commonwealth Games 2026, menjadi atlet pertama Irlandia Utara yang meraih medali emas atletik sejak 1986.
- Dengan total 6.569 poin, ia unggul 291 poin dari pesaing terdekat, menunjukkan konsistensi di tengah kondisi hujan deras yang mengganggu nomor tolak peluru.
- Keberhasilan ini membuka peluang bagi O'Connor untuk tampil lebih percaya diri di Kejuaraan Eropa Agustus mendatang, sekaligus menjadi contoh bagi atlet muda, termasuk di Indonesia, akan pentingnya ketahanan mental.

Kate O'Connor memastikan namanya tercatat dalam sejarah Commonwealth Games setelah merebut medali emas nomor heptathlon di Glasgow, Kamis (12/8/2026). Atlet berusia 25 tahun itu tidak hanya membawa pulang emas perdana bagi Irlandia Utara di cabang atletik sejak 1986, tetapi juga membuktikan bahwa tekadnya untuk menjadi yang terakhir di panggung multievent benar-benar terwujud.
Sejak awal, target O'Connor sudah jelas. Setelah meraih perak di Kejuaraan Dunia indoor dan outdoor serta perunggu di Kejuaraan Eropa indoor sepanjang 2025, atlet kelahiran Newry itu mengincar emas di ajang senior. Absennya Katerina Johnson-Thompson, yang mengalahkannya pada edisi 2022, membuka jalan, tetapi O'Connor tetap harus melewati ujian berat di lapangan.
Cuaca menjadi musuh terbesarnya. Pada sesi kedua yang diguyur hujan deras, O'Connor kesulitan di nomor tolak peluru dengan lemparan hanya 12,85 meter—jauh dari standarnya. Ia mengibaratkan mencengkeram peluru seperti mengangkat sabun basah. Namun, mentalitas bajanya muncul di nomor 200 meter, di mana ia memenangi heat dengan catatan waktu 24,14 detik meski kondisi licin.
Hari ketiga menjadi milik O'Connor. Ia melompat jauh 6,37 meter, lalu melempar lembing sejauh 52,85 meter—catatan terbaik musim ini. Nomor tersebut memang menjadi fokus latihannya menjelang 2026. Pada lomba penutup 800 meter, ia mempertahankan ketenangan dan finis pertama dengan waktu 2:10,46, persis saat matahari muncul menyinari Stadion Scotstoun.
“Saya datang dengan ekspektasi tinggi, ingin mencetak skor 6.600 atau 6.700. Setelah hari pertama, saya sadar bahwa bersaing dan mengeluarkan kemampuan terbaik di tengah tantangan juga penting. Saya senang dengan medali emas ini,” ujarnya kepada BBC Sport NI.
Pencapaian O'Connor menjadi pengingat bahwa atletik, terutama heptathlon, menuntut ketangguhan fisik dan mental. Di Indonesia, cabang atletik terus berkembang, meskipun belum banyak atlet yang menembus level dunia. Kisah O'Connor bisa menjadi inspirasi bagi para atlet Tanah Air untuk tidak menyerah meski menghadapi rintangan—baik itu cuaca, tekanan, atau ketidakpastian hasil. Ketahanan yang ditunjukkannya di nomor tolak peluru dan 200 meter adalah pelajaran berharga tentang pentingnya bangkit setelah kegagalan sesaat.
O'Connor kini akan menikmati istirahat sejenak sebelum bersiap menatap Kejuaraan Eropa di Birmingham pada Agustus mendatang. Dengan momentum positif ini, mampukah ia mempertahankan performa dan kembali berdiri di puncak podium? Atau justru tekanan sebagai juara akan menjadi tantangan baru? Hanya waktu yang akan menjawab.



