Dolar AS Tertekan di Dekat Level Terendah Dua Bulan, Data Inflasi Jadi Penentu Arah
Baca dalam 60 detik
- Dolar AS melemah ke posisi terlemah sejak Juni, dipicu data tenaga kerja AS yang mengecewakan dan meredupkan spekulasi kenaikan suku bunga The Fed bulan depan.
- Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada rilis inflasi AS pekan ini, yang diperkirakan akan mempengaruhi keputusan bank sentral dan pergerakan mata uang global.
- Pelemahan dolar berpotensi menguntungkan negara berkembang seperti Indonesia melalui penguatan nilai tukar rupiah, namun tetap dibayangi ketidakpastian kebijakan The Fed.

Dolar Amerika Serikat masih berkutat di sekitar level terendahnya dalam dua bulan pada awal pekan ini, saat para pelaku pasar bersiap menyambut rilis data inflasi yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Indeks dolar yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia nyaris stagnan di angka 99,6, tidak jauh dari titik terendah yang tercatat sejak 2 Juni lalu.
Pelemahan dolar ini merupakan kelanjutan dari reaksi pasar terhadap laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat lalu. Data tersebut menunjukkan perekonomian AS justru kehilangan lapangan kerja pada Juli, sementara angka penciptaan lapangan kerja pada dua bulan sebelumnya juga direvisi turun secara signifikan. Kondisi ini memupus harapan pasar akan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September, yang kini diperkirakan hanya memiliki probabilitas sekitar 44 persen, turun drastis dari 67 persen pekan sebelumnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut tertekan, dengan yield surat utang tenor 10 tahun berada di level 4,637 persen. Analis menilai sinyal lemah dari pasar tenaga kerja telah menurunkan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang tren pelemahan dolar, meski belum sepenuhnya menjadi cerita pelonggaran moneter yang jelas. "Sinyal pasar tenaga kerja AS yang lemah telah menekan ekspektasi suku bunga riil dan memperpanjang penurunan dolar, tetapi ini belum menjadi cerita pelonggaran yang bersih," tulis Geoff Yu, ahli strategi pasar senior di BNY, dalam catatannya.
Pasar kini menantikan data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pekan ini. Konsensus memperkirakan indeks harga konsumen inti naik 0,2 persen secara bulanan pada Juli, yang akan membawa laju inflasi tahunan turun ke 2,5 persen dari 2,6 persen pada Juni. Data harga produsen pada Kamis dan angka penjualan ritel pada Jumat juga akan menjadi perhatian untuk mengukur tekanan inflasi yang lebih luas. "Meskipun ada banyak dinamika inflasi, The Fed untuk saat ini akan tetap menunggu dan melihat bagaimana situasi berkembang," ujar Rodrigo Catril, ahli strategi FX senior di NAB.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent naik 1,4 persen ke sekitar 85 dolar per barel, ditopang ketidakpastian seputar pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru sudah dalam tahap akhir, namun menekankan bahwa AS masih harus memenuhi sejumlah syarat lain.
Bagi Indonesia, pelemahan dolar AS membawa angin segar bagi nilai tukar rupiah yang sempat tertekan beberapa waktu terakhir. Penguatan mata uang Garuda berpotensi meredakan tekanan inflasi impor dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. Namun, ketidakpastian global masih membayangi, terutama jika data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini ternyata lebih tinggi dari perkiraan dan memaksa The Fed kembali agresif.
Di kawasan Asia, dolar Australia dan Selandia Baru masing-masing melemah tipis 0,1 persen. Pelaku pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35 persen hingga akhir tahun. Pertemuan RBA ini akan menjadi ujian bagi sentimen pasar terhadap mata uang berisiko di kawasan, termasuk rupiah.
Dengan data inflasi AS yang akan menjadi katalis utama pekan ini, pertanyaan besarnya adalah apakah The Fed benar-benar akan beralih ke sikap dovish atau tetap bertahan dengan retorika hawkish. Jawabannya akan menentukan arah dolar AS dan arus modal global, yang pada akhirnya berimbas pada stabilitas pasar keuangan di negara berkembang seperti Indonesia.



