Kontroversi Balet Timothee Chalamet: Rekan Main Angkat Bicara, Bukan Soal Penghinaan Melainkan Kekhawatiran Penonton
Baca dalam 60 detik
- Monica Barbaro menilai komentar Chalamet tentang balet dan opera lebih mencerminkan kekhawatiran akan menurunnya minat penonton, bukan merendahkan seni itu sendiri.
- Kritik tajam datang dari Charlize Theron yang menyebut pernyataan tersebut 'ceroboh' dan menekankan pentingnya mendukung seni pertunjukan di tengah ancaman AI.
- Perdebatan ini membuka diskusi tentang masa depan seni pertunjukan di era digital, relevan juga bagi industri seni di Indonesia yang berjuang menarik generasi muda.

Kontroversi yang melibatkan aktor Timothee Chalamet soal komentarnya tentang balet dan opera kembali memanas. Kali ini, rekan mainnya dalam film A Complete Unknown, Monica Barbaro, angkat bicara membela Chalamet. Menurut Barbaro, pernyataan Chalamet yang sempat memicu reaksi keras publik itu kerap disalahartikan. Ia menilai komentar tersebut lahir dari kekhawatiran akan sepinya penonton, bukan dari sikap merendahkan seni pertunjukan klasik.
Chalamet, yang dikenal lewat perannya dalam Dune dan Wonka, sebelumnya menyebut balet dan opera sebagai seni yang "tidak ada yang peduli" dalam sebuah diskusi bersama aktor Matthew McConaughey pada Februari lalu. Ucapan itu sontak memicu kritik dari berbagai kalangan, termasuk aktris Charlize Theron yang menyebutnya "ceroboh". Namun, Barbaro memiliki pandangan berbeda. Dalam wawancara dengan podcast Happy Sad Confused, ia mengungkapkan bahwa Chalamet sebenarnya berbicara dengan penuh rasa hormat, terutama karena kakak perempuannya adalah penari balet profesional.
Barbaro menjelaskan bahwa saat syuting, Chalamet kerap bercerita tentang kakaknya yang menekuni balet. "Dia membicarakannya dengan rasa kagum dan hormat yang besar," ujar Barbaro. Menurutnya, yang ingin disampaikan Chalamet sebenarnya adalah tentang menurunnya minat penonton terhadap pertunjukan balet dan opera, bukan merendahkan nilai seni itu sendiri. "Saya pikir dia sedang menyampaikan sesuatu yang terdengar seperti kurang menghormati, padahal sebenarnya itu tentang audiens yang semakin berkurang untuk jenis seni tersebut," tambahnya.
Komentar Chalamet muncul saat ia ditanya apakah penonton masih tertarik pada film dengan tempo lambat. Ia menjawab bahwa ia tidak ingin bekerja di balet atau opera yang harus terus "menjaga agar tetap hidup meski tak ada yang peduli lagi". Meski ia menambahkan "hormat kepada para pegiat balet dan opera", pernyataan itu tetap menuai kritik. Charlize Theron, dalam wawancara dengan The New York Times, menegaskan bahwa seni pertunjukan justru perlu terus didukung. "Dalam 10 tahun, AI mungkin bisa menggantikan pekerjaan Timothee, tapi tidak akan bisa menggantikan penari di atas panggung. Kita tidak seharusnya merendahkan bentuk seni lain," ujarnya.
Perdebatan ini tidak hanya relevan di Hollywood, tetapi juga menggema di industri seni pertunjukan Indonesia. Di Tanah Air, balet dan opera memang memiliki basis penggemar yang lebih sempit dibandingkan musik populer. Namun, komunitas seni seperti Jakarta Ballet dan berbagai sanggar tari terus berupaya menarik minat generasi muda. Pertanyaan tentang bagaimana seni tradisional dan klasik bertahan di tengah gempuran hiburan digital menjadi isu yang akrab bagi para pegiat seni lokal. Apakah komentar Chalamet mencerminkan realitas global yang juga dihadapi Indonesia? Atau justru menjadi pengingat bahwa seni pertunjukan membutuhkan dukungan lebih, bukan sekadar kritik?
Menariknya, Barbaro juga menyebut dirinya sebagai Gemini yang mencoba melihat dari berbagai sisi. Ia mengakui ada kebenaran dalam pernyataan Chalamet, meski ia memilih untuk tidak memulai dengan sikap defensif. "Saya tidak tahu apakah itu yang dia maksud, tapi itulah kesimpulan pribadi saya," katanya. Sikap ini menunjukkan bahwa di balik kontroversi, ada ruang untuk dialog yang lebih konstruktif tentang masa depan seni pertunjukan. Apakah perdebatan ini akan mereda, atau justru memicu gerakan baru untuk mendukung seni klasik? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: perhatian publik terhadap nasib balet dan opera kini lebih besar dari sebelumnya.



