Putra Mark Hughes Meninggal karena Sindrom Kematian Mendadak: Apa Artinya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Alex Hughes, putra legenda Manchester United Mark Hughes, ditemukan tak bernyawa di kediamannya di Macclesfield, Cheshire, pada 19 Juni lalu.
- Koroner memutuskan penyebab kematiannya adalah sindrom kematian mendadak dewasa (SADS), kondisi yang sulit terdeteksi dan merenggut sekitar 500 nyawa per tahun di Inggris.
- Kasus ini menyoroti pentingnya skrining jantung dini, terutama bagi atlet dan mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung.

Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Inggris. Alex Hughes, putra dari mantan penyerang Manchester United dan pelatih Mark Hughes, ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Macclesfield, Cheshire, pada 19 Juni lalu. Pria berusia 38 tahun itu ditemukan oleh kedua putranya dalam keadaan kolaps, dan upaya paramedis untuk menyadarkannya tidak membuahkan hasil. Berdasarkan hasil inkuest, penyebab kematiannya adalah sindrom kematian mendadak dewasa (SADS), sebuah kondisi yang sering kali tidak menunjukkan gejala sebelumnya.
Alex Hughes, yang mengikuti jejak ayahnya sebagai pesepak bola, sempat bermain untuk Stockport dan Wrexham sebelum beralih ke dunia rekrutmen. Ia pernah bekerja sebagai analis performa di Blackburn Rovers saat ayahnya menukangi tim tersebut pada 2007, kemudian mengikuti sang ayah ke Manchester City pada 2008, dan melanjutkan kariernya di Fulham sebelum akhirnya meniti karier di luar negeri. Terakhir, ia menjabat sebagai pimpinan rekrutmen pemain di Grimsby Town FC.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui Asosiasi Manajer Liga (LMA), Mark Hughes dan istrinya, Jill, mengungkapkan kesedihan yang mendalam. "Alex adalah putra yang luar biasa, saudara bagi Curtis dan Xenna, suami yang setia dan ayah bagi Jessica serta dua anak mereka yang cantik, Sebastian dan Leonardo," demikian bunyi pernyataan tersebut. "Alex adalah pimpinan rekrutmen pemain di Grimsby Town FC, dan memiliki banyak teman serta kolega. Ia akan sangat dirindukan oleh kami semua."
Sindrom kematian mendadak dewasa (SADS), atau sindrom aritmia mendadak, adalah diagnosis yang ditegakkan ketika penyebab kematian tidak dapat dijelaskan melalui otopsi karena struktur jantung tampak normal. Kondisi ini biasanya terjadi ketika irama jantung yang abnormal dan berbahaya tidak tertangani, yang kemudian berujung pada henti jantung. British Heart Foundation menyebutkan bahwa kondisi jantung bawaan sering menjadi penyebab SADS, terutama jika penderitanya tidak menyadari kondisi tersebut.
Di Inggris, SADS diperkirakan merenggut sekitar 500 nyawa setiap tahun. Angka ini mungkin tampak kecil, tetapi di baliknya ada keluarga yang kehilangan orang tercinta secara mendadak dan tanpa peringatan. Di Indonesia, data serupa memang tidak seterperinci di Inggris, namun kasus kematian mendadak pada usia produktif kerap terjadi. Beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus kematian mendadak saat berolahraga menarik perhatian publik, memicu diskusi tentang pentingnya pemeriksaan jantung rutin, terutama bagi atlet dan mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung.
Pelatih kepala Grimsby Town, David Artell, menggambarkan Alex sebagai "pria yang sangat baik" dan menambahkan, "Hidup bisa sangat kejam." Pernyataan ini mencerminkan betapa mendadaknya kepergian Alex, yang masih aktif berkarier di dunia sepak bola. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan para penggemar yang mengenalnya.
Kematian Alex Hughes menjadi pengingat bahwa kesehatan jantung tidak bisa diabaikan. Bagi masyarakat Indonesia, terutama mereka yang aktif berolahraga atau memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung, pemeriksaan jantung secara berkala menjadi langkah preventif yang penting. Sayangnya, kesadaran akan hal ini masih rendah, dan fasilitas skrining jantung yang terjangkau belum merata. Pertanyaannya, akankah kasus ini mendorong kita untuk lebih peduli pada kesehatan jantung, atau akankah menjadi sekadar berita duka yang cepat dilupakan?



