Menuju Visit Brunei 2027: Negeri Petro-dollar Beralih ke Pariwisata Bernilai Tinggi
Baca dalam 60 detik
- Brunei Darussalam mencanangkan strategi pariwisata bernilai tinggi menjelang Visit Brunei Year 2027, dengan fokus pada peningkatan belanja wisatawan dan durasi tinggal.
- Pemerintah Brunei akan menggencarkan promosi ke pasar global melalui pameran dagang, kerja sama media, dan platform digital untuk menarik segmen wisatawan premium.
- Langkah ini menandai pergeseran ekonomi Brunei dari ketergantungan minyak dan gas menuju sektor jasa, sejalan dengan upaya diversifikasi ekonomi nasional.

Brunei Darussalam mempercepat langkahnya untuk menarik wisatawan kelas atas menjelang Visit Brunei Year 2027, sebuah agenda nasional yang menargetkan peningkatan belanja wisatawan dan durasi tinggal yang lebih lama. Menteri Koordinator Kebijakan Ekonomi sekaligus Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Brunei, Abdul Manaf Metussin, menegaskan bahwa negara tersebut tengah mengadopsi model pariwisata yang tidak hanya mengedepankan jumlah kunjungan, tetapi juga nilai ekonomi yang dihasilkan.
Dalam pernyataannya, Abdul Manaf menggarisbawahi bahwa transformasi ini dirancang untuk mengoptimalkan kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Brunei, yang selama ini dikenal sebagai negara pengekspor minyak dan gas, kini berupaya mengurangi ketergantungan pada sektor energi dengan mengembangkan industri jasa yang berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan visi jangka panjang Brunei Vision 2035 yang menargetkan diversifikasi ekonomi.
Untuk mewujudkan target tersebut, Brunei akan meningkatkan promosi internasional melalui partisipasi dalam pameran pariwisata dunia, menjalin kolaborasi dengan kantor berita internasional, serta mengoptimalkan kampanye pemasaran digital bersama platform perjalanan daring. Strategi ini diharapkan mampu menjangkau wisatawan potensial dari berbagai kawasan, termasuk Asia Timur, Eropa, dan Timur Tengah.
Selain itu, Brunei juga tengah memperkaya portofolio produk wisatanya. Tidak lagi hanya mengandalkan daya tarik budaya dan warisan sejarah, negara ini mulai mengembangkan wisata petualangan, ekowisata, seni, serta wisata kuliner dan olahraga. Langkah ini merupakan respons terhadap tren global di mana wisatawan semakin mencari pengalaman autentik dan berkelanjutan, bukan sekadar kunjungan singkat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai tetangga dekat dan sesama anggota ASEAN, Indonesia dapat belajar dari pendekatan Brunei dalam membidik segmen wisatawan premium. Selain itu, potensi kerja sama bilateral di bidang pariwisata terbuka lebar, terutama dalam promosi wisata lintas batas dan pengembangan destinasi terpadu. Wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Brunei juga akan merasakan dampak dari peningkatan kualitas layanan dan atraksi wisata yang ditawarkan.
Para analis pariwisata menilai bahwa keberhasilan Brunei dalam menarik wisatawan bernilai tinggi akan sangat bergantung pada kemampuan negara tersebut dalam membangun infrastruktur pendukung, seperti akomodasi mewah, transportasi yang nyaman, dan atraksi yang mampu bersaing dengan destinasi regional seperti Singapura dan Malaysia. Selain itu, kebijakan visa yang longgar dan konektivitas udara yang memadai menjadi faktor kunci yang perlu diperhatikan.
Dengan persiapan yang matang, Brunei optimistis dapat mencapai target kunjungan yang ambisius pada 2027. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: mampukah Brunei menarik wisatawan kelas atas di tengah persaingan ketat dengan destinasi-destinasi tetangga yang sudah lebih mapan? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi langkah awal yang diambil menunjukkan keseriusan Brunei dalam bertransformasi menjadi destinasi wisata berkualitas di kawasan Asia Tenggara.



