Da Paolo Pangkas Jaringan, Andalkan Konsep Baru Tutto demi Bertahan di Tengah Tekanan Sewa
Baca dalam 60 detik
- CEO Da Paolo Guillaume Pichoir memangkas jumlah gerai dari 14 menjadi 9 dalam dekade terakhir, fokus pada konsep yang relevan.
- Konsep baru Tutto, yang mengisi celah antara kafe dan restoran Italia, sukses menarik antrean di Jewel Changi Airport dan kini berekspansi.
- Di tengah ketidakpastian ekonomi, Da Paolo menegaskan bahwa relevansi konsep adalah kunci untuk menarik landlord dan pelanggan.

Di tengah lesunya industri kuliner global, grup restoran asal Singapura, Da Paolo, justru melangkah berani dengan meluncurkan konsep baru bernama Tutto. CEO Guillaume Pichoir, yang memimpin perusahaan sejak 2010, menilai bahwa bertahan di bisnis ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan nama besar, melainkan harus terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.
Da Paolo, yang berdiri sejak 1989 sebagai restoran Italia keluarga, kini telah bertransformasi menjadi grup F&B terintegrasi dengan lini usaha mulai dari restoran, kafe, deli, katering, hingga produk ritel. Namun, di balik keragaman itu, Pichoir mengakui bahwa tidak semua konsep lama masih relevan. Dalam dekade terakhir, grup ini menutup sejumlah restoran yang dinilai tidak lagi mencerminkan kondisi pasar, sehingga jumlah gerai menyusut dari 14 menjadi 9.
Keputusan kontraktif ini diambil di tengah persaingan yang semakin ketat, terutama dari menjamurnya restoran Italia di Singapura. Alih-alih mempertahankan konsep yang potensinya menurun, Da Paolo memilih untuk memfokuskan diri pada Gastronomia, katering, dan layanan pesan-antar yang dinilai memiliki prospek jangka panjang lebih kuat. "Kami sudah tahu persis apa yang bisa dilakukan Gastronomia dan kami sangat puas," ujar Pichoir, "tetapi kami tidak bisa hanya mengandalkan itu. Kami butuh sesuatu yang lebih baru, sedikit berbeda, dan lebih sesuai dengan arah pasar."
Tutto, yang berada di antara kafe dan restoran Italia klasik, menjadi jawaban atas perubahan kebiasaan makan masyarakat. Dengan menu yang fokus pada pasta segar, pizza, dan gelato, Tutto menawarkan kemudahan bagi konsumen yang tidak ingin berpikir rumit. Sejak dibuka di Jewel, restoran ini ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Pichoir mengamati bahwa di mal seperti Jewel, konsumen cenderung memilih tempat yang spesifik untuk minum, makan pasta, atau sekadar mencari hidangan penutup. "Memiliki banyak pilihan di mal membuat konsumen bisa berpindah-pindah, dan ini tren yang kami lihat," jelasnya.
Bagi pelaku industri F&B di Indonesia, strategi Da Paolo menawarkan pelajaran berharga. Di tengah kenaikan biaya operasional dan perubahan selera konsumen, relevansi konsep menjadi kunci utama. Pichoir menegaskan bahwa sewa adalah variabel yang paling sulit dinegosiasikan. "Jika konsep Anda relevan, pemilik mal akan mau bekerja sama dan pelanggan akan terus memilih Anda," katanya. Pernyataan ini relevan dengan kondisi di kota-kota besar Indonesia, di mana biaya sewa di pusat perbelanjaan premium kerap menjadi beban berat bagi pelaku usaha.
Meski demikian, Pichoir tetap optimistis menghadapi ketidakpastian ekonomi. Ia percaya bahwa penurunan saat ini akan berlalu, namun pertanyaannya adalah apakah konsumen akan tetap setia pada merek yang menawarkan nilai dan pengalaman yang tepat. Dengan strategi yang lebih selektif dan fokus pada inovasi, Da Paolo berharap dapat terus relevan di tengah lanskap kuliner yang dinamis.



