Liburan Bulan Madu Berubah Aksi Heroik: Polisi China Selamatkan Keluarga dari Mobil di Tepi Jurang
Baca dalam 60 detik
- Seorang polisi Jiangsu dan istrinya menolong lima orang dari mobil yang tergantung di tepi jurang di Hainan saat bulan madu.
- Aksi cepat Fan Kaiyue dan Gu Jianing, dibantu pengemudi lain, berhasil mengevakuasi dua orang dewasa dan tiga anak sebelum mobil jatuh.
- Kisah ini menjadi viral di media sosial, memicu apresiasi luas terhadap dedikasi aparat di luar jam tugas, serta relevan dengan semangat gotong royong di Indonesia.

Seorang polisi sipil berusia 28 tahun asal Provinsi Jiangsu, Fan Kaiyue, bersama istrinya Gu Jianing, tanpa ragu menolong sebuah keluarga yang mobilnya nyaris jatuh ke jurang di kawasan pegunungan Hainan, China, pada 20 Juli lalu. Aksi heroik yang terjadi di tengah perjalanan bulan madu mereka ini langsung menuai pujian publik dan menjadi sorotan media nasional.
Peristiwa bermula ketika Fan dan Gu melintasi jalan raya pegunungan dan melihat sebuah mobil yang telah menembus pembatas jalan, tergantung di tepi lereng curam. Dari kendaraan tersebut, kepulan asap tebal membubung disertai teriakan anak-anak yang ketakutan. Tanpa berpikir panjang, Fan menghentikan kendaraannya dan berlari menuju lokasi kecelakaan, sementara istrinya bergerak ke tengah jalan untuk menghentikan mobil-mobil lain dan meminta bantuan.
Dengan sigap, Fan berteriak menenangkan keluarga yang terjebak, "Jangan panik, saya polisi! Kami akan segera mengeluarkan Anda!" Sambil menghubungi layanan darurat, ia bersama pengemudi lain yang berhenti mulai mengevakuasi tiga anak terlebih dahulu, kemudian membantu kedua orang tua keluar dari mobil. Seluruh anggota keluarga akhirnya berhasil dibawa ke tempat aman di atas lereng untuk menunggu ambulans.
Meski tubuhnya mengalami luka lecet akibat tanaman tajam di lereng, Fan terus mondar-mandir membantu proses evakuasi hingga tim medis dan polisi setempat tiba. Ia bahkan sempat berfoto dengan kaus putihnya yang berlumuran darah dan kotor, lalu mengunggahnya di media sosial pribadi dengan keterangan, "Berhasil menyelamatkan dua orang dewasa dan tiga anak dari mobil. Tak menyangka saya menjalankan tugas polisi di Hainan."
Kepolisian Jiangsu kemudian mengabadikan tindakan Fan sebagai contoh dedikasi aparat di luar jam dinas. Dalam pernyataan resminya, mereka menulis, "Meski bukan di wilayah tugasnya, tidak berseragam, dan tanpa perlengkapan, saat mendengar teriakan minta tolong, ia hanya punya satu identitas: Polisi Rakyat." Sementara itu, pengemudi yang selamat menyampaikan rasa terima kasihnya melalui Kepolisian Jiangsu, mengabarkan bahwa anak-anaknya hanya mengalami luka ringan, sedangkan ia sendiri menderita patah tulang, namun semuanya kini di luar bahaya.
Kisah ini tidak hanya menyentuh hati publik China, tetapi juga relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi di Indonesia. Aksi Fan mengingatkan pada semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang kerap muncul dalam situasi darurat di tanah air. Di Indonesia, aparat kepolisian sering kali menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana dan kecelakaan, meskipun tidak sedang bertugas. Kisah seperti ini memperkuat citra positif institusi keamanan dan menginspirasi masyarakat untuk saling membantu.
Menurut analis sosial, tindakan spontan seperti yang dilakukan Fan menunjukkan bahwa naluri kemanusiaan dan profesionalisme seorang aparat tidak terikat oleh waktu atau tempat. Hal ini juga menjadi pelajaran bahwa kesiapsiagaan dan keberanian individu dapat menyelamatkan nyawa, terlepas dari status atau seragam yang dikenakan. Di era media sosial, kisah heroik semacam ini cepat menyebar dan menjadi teladan bagi banyak orang.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana institusi kepolisian di berbagai negara, termasuk Indonesia, dapat lebih mengapresiasi dan mendokumentasikan aksi-aksi heroik di luar tugas formal. Apakah akan ada penghargaan khusus atau program yang mendorong aparat untuk tetap waspada dan responsif dalam situasi darurat? Kisah Fan dan Gu setidaknya membuktikan bahwa keberanian dan ketulusan tidak pernah gagal menginspirasi.



