Tragedi Bus di Bogura: Tujuh Buruh Tani Tewas Saat Menanti Upah di Pasar Tenaga Kerja Informal
Baca dalam 60 detik
- Bus kehilangan kendali menabrak kerumunan sekitar 200 buruh tani di pasar tenaga kerja informal Erulia, Bogura, menewaskan tujuh orang dan melukai 19 lainnya.
- Para korban, yang sebagian besar pencari nafkah tunggal, datang dari daerah miskin untuk mengejar upah lebih tinggi saat musim tanam padi Aman, mencerminkan kerentanan pekerja migran internal.
- Peristiwa ini menyoroti lemahnya keselamatan lalu lintas dan tidak adanya perlindungan sosial bagi pekerja harian lepas di Asia Selatan, memicu seruan bantuan pemerintah bagi keluarga korban.

Sebuah bus yang melaju kencang menabrak kerumunan sekitar 200 buruh tani yang sedang menunggu pekerjaan di pasar tenaga kerja informal di Erulia Bazar, Bogura, Bangladesh, pada Jumat pagi (8/8/2026), menewaskan tujuh orang dan melukai 19 lainnya. Peristiwa nahas itu terjadi sebelum matahari terbit, saat para pekerja berkumpul seperti biasa untuk mencari upah harian.
Menurut saksi mata dan sumber kepolisian setempat, bus yang dikemudikan dengan kecepatan tinggi tiba-tiba banting setir untuk menghindari sepeda motor, lalu kehilangan kendali, menabrak tiang listrik, dan akhirnya melindas kerumunan pekerja. Lima buruh tani dan dua petani yang hendak mempekerjakan mereka tewas di tempat. Dua korban lainnya dilaporkan dalam kondisi kritis di ruang perawatan intensif rumah sakit setempat.
Habibur Rahman (30), seorang buruh tani asal Desa Enayetpur, Kecamatan Gobindaganj, Gaibandha, menuturkan bahwa tidak ada pekerjaan di kampung halamannya. Bersama 12 pekerja lain, ia merantau ke Bogura 10โ12 hari lalu untuk mengejar upah lebih tinggi selama musim tanam padi Aman. "Di kampung, upah harian hanya 500โ700 taka. Di Bogura, kami bisa mendapat 800โ1.200 taka sehari untuk menanam padi. Itulah harapan kami untuk menghidupi keluarga," ujarnya.
Salah satu korban tewas adalah pamannya, Abu Sayed (45), yang menjadi tulang punggung keluarga beranggotakan lima orang. "Paman adalah satu-satunya pencari nafkah. Orang tuanya yang sudah lanjut usia masih menunggu di rumah. Ia seharusnya pulang dalam beberapa hari lagi, tetapi kecelakaan ini mengubah segalanya," kata Habibur dengan mata berkaca-kaca.
Rina Begum, istri Abu Sayed, langsung bergegas ke Rumah Sakit Shaheed Ziaur Rahman Medical College untuk mengambil jenazah suaminya. Saat kain penutup stretcher dibuka, tangisnya pecah. "Ke mana kamu pergi, meninggalkan aku sendirian?" ratapnya, sambil sesekali pingsan dipeluk kerabatnya.
Md Borhan (25), pekerja lain dari desa yang sama, menceritakan momen mencekam itu. "Sebuah bus melaju kencang, lalu oleng menghindari motor. Bus itu menabrak tiang listrik, berputar, dan langsung melindas kerumunan. Sebagian bisa lari, tapi tujuh orang tertindih di bawah bus. Kebanyakan korban adalah tulang punggung keluarga," tuturnya.
Kecelakaan ini menyoroti kondisi memprihatinkan pekerja migran internal di Bangladesh, yang kerap meninggalkan desa miskin untuk mencari nafkah di daerah dengan upah lebih tinggi. Mereka bekerja tanpa kontrak formal, tanpa asuransi, dan tanpa jaminan keselamatan. Pasar tenaga kerja informal seperti di Erulia menjadi titik kumpul yang rawan kecelakaan, karena berada di tepi jalan raya yang sibuk tanpa fasilitas memadai.
Borhan mendesak pemerintah memberikan kompensasi bagi keluarga korban. "Tanpa bantuan, banyak keluarga akan jatuh ke dalam kesulitan ekonomi yang parah," katanya. Sementara itu, polisi setempat masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan dan mencari sopir bus yang kabur.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan lemahnya keselamatan lalu lintas di kawasan Asia Selatan, di mana bus sering dikemudikan dengan ugal-ugalan dan jalan raya menjadi lokasi aktivitas ekonomi informal. Di Indonesia, fenomena serupa terjadi di banyak kawasan industri dan pertanian, di mana para pekerja harian lepas berkumpul di pinggir jalan menunggu tawaran kerja, menghadapi risiko serupa.
Pertanyaan yang muncul: akankah tragedi ini mendorong pemerintah Bangladesh untuk memperbaiki keselamatan lalu lintas dan memberikan jaring pengaman sosial bagi pekerja informal? Atau akankah pasar tenaga kerja informal ini terus menjadi ladang risiko bagi mereka yang hanya ingin menghidupi keluarga?



