Duka Nepal: Longsor Salju di Broad Peak Renggut Nyawa Nirmal Purja dan Generasi Pendaki Elit
Baca dalam 60 detik
- Longsor salju di Broad Peak, Pakistan, menewaskan 10 pendaki, termasuk legenda Nirmal Purja dan enam pemandu elit Nepal.
- Komunitas pendaki global berduka, dengan Nepal kehilangan generasi pendaki berpengalaman yang sulit digantikan.
- Operasi evakuasi masih berlangsung untuk memulangkan jenazah, sementara dampaknya terasa hingga ke Indonesia.

Kathmandu, 5 Agustus 2026 โ Duka mendalam menyelimuti Nepal setelah longsor salju di Broad Peak, Pakistan, menewaskan sepuluh pendaki, termasuk ikon pendakian dunia Nirmal Purja. Peristiwa tragis pada 30 Juli ini tidak hanya mengguncang industri pendakian Nepal, tetapi juga memicu gelombang belasungkawa dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan kerajaan Inggris.
Ratusan warga Nepal menggelar doa bersama dan aksi lilin di ibu kota pada Selasa malam. Para biksu Buddha melantunkan doa, sementara sekitar 500 orang berkumpul di sebuah alun-alun, menyalakan lilin dan dupa. Di tengah kerumunan, lilin disusun membentuk bendera Nepal, simbol solidaritas bagi para korban yang gugur di ketinggian.
Nirmal Purja, pendaki berusia 43 tahun yang memegang rekor dunia mendaki 14 puncak tertinggi dunia dalam enam bulan, menjadi nama paling dikenal di antara korban. Ia bersama enam pemandu elit Nepal lainnya tewas tertimpa longsoran salju. Kepergian mereka meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masa depan dunia pendakian Nepal.
โNepal telah kehilangan satu generasi pendaki ulung,โ ujar Tul Singh Gurung, presiden Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal, dalam sambutannya di acara berkabung. Ia menambahkan bahwa kehilangan ini akan terasa dalam waktu yang lama, mengingat tidak semua orang berani mengambil risiko seperti para pendaki tersebut.
Man Raj Gurung, seorang pemandu gunung internasional, menyatakan kekhawatirannya bahwa butuh bertahun-tahun untuk melahirkan pendaki sekaliber mereka. โIni kerugian besar bagi sektor pendakian kami. Tidak semua orang akan rela mengambil pekerjaan berisiko tinggi seperti ini,โ katanya.
Prestasi Purja pada 2019 tidak hanya mengubah sejarah pendakian, tetapi juga mengangkat nama Nepal di kancah internasional. Kisahnya yang diabadikan dalam film dokumenter Netflix menginspirasi generasi baru pendaki dan menunjukkan bahwa pendaki Nepal mampu bersaing dengan pendaki Barat. Dua tahun kemudian, ia kembali mencetak sejarah dengan menjadi bagian dari tim Nepal pertama yang menaklukkan K2 di musim dingin, sebuah tantangan yang dianggap mustahil oleh banyak pihak.
Di kampung halaman Purja, Ramnagar, Nepal selatan, warga terus berdatangan untuk memberi penghormatan di depan foto almarhum. โSeluruh Ramnagar menangis,โ ujar Shanta Ghale, tetangga Purja. โSejak mendengar kabar kematiannya, mata kami tak henti meneteskan air mata.โ
Di Pakistan, tim penyelamat gabungan yang terdiri dari ahli lokal dan pemandu Nepal masih berjuang mengevakuasi jenazah korban. Alpine Club of Pakistan melaporkan bahwa tim darat telah membawa empat jenazah, termasuk Purja, dua warga Nepal lainnya, dan satu warga China, turun dari gunung. Proses evakuasi berlangsung sulit karena kondisi cuaca dan medan yang berbahaya.
Mingma David Sherpa, pendaki sekaligus anggota parlemen Nepal, bersama rekan-rekannya yang terlibat dalam operasi penyelamatan, menegaskan komitmen mereka untuk memulangkan para korban dengan penuh martabat. โFokus kami tetap pada hal yang utama: membawa keluarga dan orang-orang tercinta pulang dengan penghormatan yang layak,โ tulis mereka dalam pernyataan bersama di Instagram.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya risiko pendakian gunung ekstrem. Meski tidak ada korban dari Indonesia, peristiwa ini menyoroti pentingnya keselamatan dan persiapan matang bagi para pendaki Tanah Air yang kerap menaklukkan puncak-puncak tinggi di luar negeri. Industri pendakian Indonesia, yang semakin berkembang, perlu belajar dari musibah ini untuk meningkatkan standar keamanan dan pelatihan.
Kehilangan Nirmal Purja dan rekan-rekannya meninggalkan pertanyaan besar: siapa yang akan meneruskan warisan mereka? Mampukah Nepal, dan dunia, melahirkan pendaki sekaliber mereka di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim yang membuat gunung semakin tidak terduga? Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan pendakian gunung di Asia.



