Pochettino Mulai Era Baru: AS Hadapi Peru, Chile, Meksiko, dan Kanada di Kandang Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Empat laga uji coba akan digelar di AS mulai akhir September hingga pertengahan Oktober, menandai awal kepemimpinan Mauricio Pochettino.
- Rangkaian pertandingan ini menjadi ajang pemanasan menuju Piala Dunia 2030, dengan target memperbaiki performa tim yang sempat tersingkir di babak 16 besar.
- Bagi pengamat sepak bola, derbi CONCACAF melawan Meksiko diprediksi menjadi ujian paling krusial bagi skuat asuhan Pochettino.

Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer) resmi mengumumkan agenda uji coba internasional yang akan menjadi panggung pertama bagi pelatih anyar Mauricio Pochettino. Dalam empat laga kandang yang berlangsung September hingga Oktober mendatang, tim nasional AS bakal menjamu Peru, Chile, Meksiko, dan Kanada. Keputusan ini diambil sebagai langkah awal membangun fondasi tim menuju Piala Dunia 2030 yang akan mereka gelar bersama dua negara tetangga.
Jadwal yang dirilis Selasa lalu menunjukkan laga pembuka melawan Peru pada 26 September di Orlando, disusul duel melawan Chile tiga hari kemudian di St. Louis. Setelah itu, rivalitas klasik zona CONCACAF kembali memanas saat AS menjamu Meksiko di Glendale, Arizona pada 3 Oktober, dan ditutup dengan menghadapi Kanada di St. Paul, Minnesota. Pemilihan lawan-lawan ini bukan tanpa alasan; selain menguji kekuatan tim, variasi gaya bermain dari masing-masing lawan diharapkan memberi pengalaman berharga bagi para pemain.
Kontrak Pochettino sendiri telah dikonfirmasi berlangsung hingga Piala Dunia 2030, sebuah sinyal ambisi jangka panjang US Soccer. Mantan pelatih Tottenham Hotspur dan Paris Saint-Germain itu dianggap mampu membawa perubahan taktis yang dibutuhkan setelah pencapaian tim di Piala Dunia 2026 yang hanya mampu menembus babak 16 besar. Meski tergolong sukses karena menjadi juara grup dengan enam poin—rekor tertinggi sepanjang sejarah partisipasi AS di turnamen tersebut—kekalahan telak 1-4 dari Belgia di babak gugur masih menyisakan pekerjaan rumah.
Pochettino, dalam pernyataannya, menegaskan antusiasmenya memulai babak baru bersama para penggemar di kandang sendiri. "Energi luar biasa yang mereka berikan sepanjang musim panas telah menjadi standar baru," ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya menghadapi lawan-lawan terbaik untuk mengukur kemampuan tim. "Pertandingan ini memberikan beragam pengalaman bagi kelompok pemain ini," tambahnya, merujuk pada perpaduan pemain muda dan senior yang akan diuji.
Bagi pengamat sepak bola, fokus utama tertuju pada laga melawan Meksiko yang selalu sarat gengsi. Pertemuan kedua tim kerap berlangsung ketat dan menjadi barometer kekuatan sepak bola di kawasan Amerika Utara. Sementara itu, laga melawan Kanada juga tidak kalah penting, mengingat kedua tim akan berbagi peran sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030. Kemenangan di laga-laga ini tentu akan membangun kepercayaan diri sebelum turnamen besar tersebut.
Di sisi lain, perkembangan ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Meski tidak terlibat langsung, dinamika sepak bola global selalu berdampak pada pasar transfer dan strategi tim-tim Asia, termasuk Indonesia. Ketertarikan publik Indonesia terhadap sepak bola Amerika memang tidak sebesar terhadap liga Eropa, namun kehadiran pelatih sekelas Pochettino bisa memicu minat baru. Terlebih, gaya bermain yang ia terapkan sering menjadi referensi bagi pelatih-pelatih muda di berbagai negara berkembang.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Pochettino membawa AS tampil konsisten di pentas dunia, atau justru akan menghadapi kritik tajam jika hasil uji coba ini mengecewakan? Dengan lawan-lawan yang tidak mudah, publik Amerika tentu berharap banyak. Namun, seperti kata pepatah, perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah—dan langkah pertama Pochettino akan teruji di hadapan pendukung sendiri.



