Atlet Kabur Usai Commonwealth Games: Fenomena Lama yang Kembali Menghantui Glasgow
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah atlet dari Uganda dan Pakistan dilaporkan hilang setelah Commonwealth Games 2026 di Glasgow berakhir, memicu penyelidikan kepolisian Skotlandia.
- Fenomena ini bukan baru; pada edisi 2014, puluhan atlet memilih tidak pulang dan mengajukan suaka, sebagian karena alasan ekonomi dan kesempatan karier.
- Kasus ini menyoroti ketimpangan fasilitas olahraga global dan berpotensi mempengaruhi kebijakan imigrasi Inggris untuk event olahraga besar di masa depan.

Glasgow, Skotlandia โ Gelaran Commonwealth Games 2026 yang baru saja usai pada Minggu (26/7) menyisakan teka-teki: sejumlah atlet yang bertanding dilaporkan tidak kembali ke negara asalnya. Kepolisian Skotlandia (Police Scotland) mengonfirmasi telah menerima laporan tentang beberapa atlet yang 'tidak dapat dipertanggungjawabkan' keberadaannya, dan kini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri Inggris (Home Office) untuk menelusuri kasus ini.
Fenomena atlet 'menghilang' setelah ajang olahraga internasional sebenarnya bukan hal baru. Pada Commonwealth Games 2014 yang juga digelar di Glasgow, puluhan atlet memilih untuk tidak pulang dan mengajukan suaka di Inggris. Pola yang sama kembali terulang, dengan NBS Sport melaporkan bahwa empat petinju UgandaโNuhu Batte, Angel Katushabe, Ibrahim Kemis, dan Emily Nakalemaโtidak muncul saat jadwal penerbangan pulang. Salah satu dari mereka bahkan mengaku kepada media bahwa keputusan ini diambil untuk mencari suaka dan melanjutkan karier tinju di negara yang dianggap memiliki fasilitas latihan lebih baik.
Dari kubu Pakistan, media lokal melaporkan petinju Qudratullah juga tidak ikut terbang pulang bersama rekan setimnya. Petugas yang mencari di kamarnya tidak menemukan jejaknya. Sementara itu, juru bicara Tim Uganda di ajang tersebut menolak berkomentar, dan sebagian besar skuad Uganda lainnya telah meninggalkan Glasgow. Polisi Skotlandia menyatakan penyelidikan masih berlangsung, dan pihaknya telah menjalin komunikasi awal dengan Home Office untuk menangani kasus ini.
Fenomena ini memantik pertanyaan besar tentang kesenjangan fasilitas olahraga antarnegara. Bagi atlet dari negara berkembang, ajang seperti Commonwealth Games sering menjadi 'pintu masuk' untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Seperti diungkapkan salah satu petinju Uganda yang hilang, mereka meyakini Skotlandia atau Inggris menawarkan peluang karier yang tidak bisa mereka dapatkan di kampung halaman. Namun, keputusan ini tidak lepas dari risiko hukum, karena mereka dianggap melanggar ketentuan visa dan masa tinggal yang telah ditetapkan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pemerataan pembinaan olahraga. Meski Indonesia bukan bagian dari Commonwealth, fenomena serupa bisa terjadi di ajang SEA Games atau Asian Games jika fasilitas dan dukungan bagi atlet tidak memadai. Pemerintah dan KONI perlu memastikan bahwa atlet merasa 'betah' dan memiliki masa depan cerah di dalam negeri, sehingga tidak ada godaan untuk mencari suaka di luar negeri. Selain itu, kasus ini juga menyoroti perlunya perlindungan hukum bagi atlet yang ingin pindah karier secara legal, tanpa harus menghilang secara misterius.
Di sisi lain, pihak penyelenggara Glasgow 2026, melalui juru bicaranya Sophie Ashcroft, menegaskan bahwa mereka bekerja sama dengan Police Scotland, Border Force, dan UK Visas & Immigration untuk memastikan keamanan dan ketertiban pasca-event. Home Office juga disebut telah melakukan pemeriksaan ketat terhadap peserta sebelum dan selama ajang. Namun, efektivitas langkah ini masih diuji, mengingat kasus serupa terus berulang dari tahun ke tahun.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah Inggris akan memperketat kebijakan visa untuk atlet negara berkembang, atau justru membuka jalur legal bagi mereka yang ingin mengembangkan karier di luar negeri? Sementara itu, nasib para atlet yang 'menghilang' ini masih menggantung, menunggu keputusan imigrasi yang akan menentukan jalan hidup mereka selanjutnya.



