Ben Stokes Ingin Jadi Pelatih Timnas Inggris: Saya Siap Ambil Keputusan Besar
Baca dalam 60 detik
- Mantan kapten Inggris, Ben Stokes, menyatakan ambisinya menjadi pelatih tim nasional suatu hari nanti, dengan keyakinan bahwa pengalaman dan kemampuannya dalam mengambil keputusan besar akan menjadi modal utama.
- Stokes, yang pensiun dari kriket internasional pada Juni lalu, kini tengah menempuh lisensi kepelatihan level tiga sambil masih aktif bermain, menandakan persiapannya yang serius untuk karier di luar lapangan.
- Ia juga mengkritik keputusan tidak menunjuk Harry Brook sebagai kapten pengganti saat ia absen, menyoroti pentingnya memberikan kepercayaan kepada pemain muda berbakat.

Ben Stokes, mantan kapten tim nasional Inggris, secara terbuka menyatakan keinginannya untuk suatu hari nanti duduk di kursi pelatih. Dalam sebuah podcast yang dirilis Selasa lalu, pria 35 tahun itu menegaskan bahwa ia memiliki bekal pengalaman dan mentalitas yang dibutuhkan untuk sukses dalam peran tersebut, sebuah pernyataan yang langsung memicu spekulasi tentang masa depan kepelatihan di kriket Inggris.
Stokes, yang memutuskan pensiun dari kriket internasional pada Juni lalu di tengah seri Test melawan Selandia Baru, meninggalkan warisan gemilang: membawa Inggris menjuarai Piala Dunia 2019 dan mencatatkan inning heroik di Ashes pada tahun yang sama. Kini, ia tidak hanya berbicara tentang pensiun, tetapi juga tentang transisi karier yang ia rencanakan dengan matang.
"Saya sedang menempuh lisensi kepelatihan level tiga sambil masih bermain. Saya ingin semua sertifikasi itu beres sebelum saya benar-benar gantung sepatu," ujar Stokes dalam podcast "For The Love Of Cricket". "Saya ingin menjadi pelatih. Saya tahu apa yang ingin saya lakukan setelah pensiun, dan itu adalah melatih. Apakah saya ingin melatih Inggris suatu hari? Tentu saja."
Keyakinan diri Stokes bukan tanpa dasar. Ia memimpin tim Test Inggris sejak 2022, dan di bawah kepemimpinannya, tim tersebut menunjukkan agresivitas dan mentalitas baru. "Saya pikir saya akan melakukan pekerjaan dengan baik karena saya sekarang memahami arti tanggung jawab. Saya tidak keberatan mengambil keputusan besar," tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi kepemimpinannya yang tegas dan berani, kualitas yang sering dicari dalam diri seorang pelatih.
Namun, di balik ambisinya, Stokes juga melontarkan kritik halus terhadap proses suksesi kepemimpinan di tim Inggris. Ia mengaku heran mengapa Harry Brook, yang ia sebut sebagai pemain dengan bakat "sangat luar biasa", tidak langsung ditunjuk sebagai kapten saat ia absen pada satu pertandingan melawan Selandia Baru. Brook saat itu hanya menjabat sebagai wakil kapten, dan Stokes mempertanyakan pesan yang ingin disampaikan oleh keputusan tersebut.
"Jika Anda merasa seseorang akan menjadi kapten atau pemimpin yang baik, berikan saja kesempatan itu," kata Stokes. "Brook dijadikan wakil kapten. Bahkan saat saya absen di pertandingan itu, saya bertanya-tanya, mengapa Brook hanya wakil kapten? Saya memahami alasannya, tetapi apa pesan yang ingin disampaikan kepada dia? Kapten tidak bermain, tetapi dia tetap tidak menjadi kapten. Apa artinya itu?"
Pernyataan Stokes ini membuka diskusi tentang bagaimana Inggris mengelola transisi kepemimpinan. Setelah pensiunnya Stokes, Joe Root, pencetak run terbanyak sepanjang masa Inggris di Test, kembali dipercaya sebagai kapten. Sementara itu, kursi pelatih kepala diisi oleh Stephen Fleming, mantan kapten Selandia Baru. Keputusan ini diambil di tengah upaya membangun kembali tim setelah era Stokes.
Bagi pengamat kriket di Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana negara dengan tradisi kriket kuat mengelola regenerasi pemain dan pelatih. Meski kriket bukan olahraga utama di Indonesia, minat terhadap ajang seperti Piala Dunia T20 terus tumbuh, dan kisah Stokes bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia yang bercita-cita menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing. Keberanian Stokes untuk mengambil keputusan besar dan merencanakan karier pasca-pensiun sejak dini adalah pelajaran berharga tentang profesionalisme.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah Stokes benar-benar menjadi pelatih Inggris? Dengan lisensi level tiga yang sedang ia kejar, ia menunjukkan keseriusan. Namun, jalan menuju kursi pelatih tim nasional tidaklah mudah. Ia harus bersaing dengan kandidat lain yang mungkin lebih berpengalaman, dan ia harus membuktikan bahwa kemampuan kepemimpinannya di lapangan dapat diterjemahkan ke dalam strategi di ruang ganti. Satu hal yang pasti: jika Stokes serius, dunia kriket akan menyaksikan salah satu kapten paling karismatik di era modern mencoba peran baru yang penuh tantangan.



