Modus Family Trip WNA India di Bali: 10,1 Kg Ganja Gagal Lolos, Jaringan Thailand Terendus
Baca dalam 60 detik
- Dua warga India diamankan di Bandara Ngurah Rai dengan 10,1 kg ganja yang disembunyikan dalam kotak makanan dan mainan, modus perjalanan keluarga.
- Nilai barang mencapai Rp3,3 miliar dan diperkirakan menyelamatkan 2.076 orang dari penyalahgunaan narkoba.
- Polisi masih menyelidiki jaringan internasional, termasuk dugaan upah 150 dolar AS per kurir dan kemungkinan transit ke India.

Dua warga negara India terjaring di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, saat mencoba menyelundupkan 10,1 kilogram ganja dengan modus berpura-pura melakukan perjalanan keluarga. Penangkapan yang dilakukan Bea Cukai Ngurah Rai pada Senin (3/8) ini mengungkap celah baru dalam pengawasan bandara, sekaligus menandai meningkatnya upaya jaringan narkoba internasional memanfaatkan rute pariwisata.
Kedua tersangka, yang diidentifikasi dengan inisial AR (28) dan PC (31), tiba melalui rute Koh Samui (Thailand) โ Singapura โ Denpasar. Petugas mencurigai barang bawaan mereka saat pemeriksaan sinar-X, yang kemudian menemukan paket tersembunyi di dalam kotak makanan dan mainan. Sebanyak 14 kotak berisi 100 padatan berwarna hijau kecokelatan dengan berat bersih 10.110 gram dinyatakan positif mengandung ganja, termasuk narkotika golongan I.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Ngurah Rai, Wawan Darmawan, mengungkapkan bahwa modus "family trip" ini merupakan strategi baru dari jaringan tersebut. "Ini bisa menurunkan kecurigaan petugas," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pihaknya kini melakukan profiling terhadap pola perjalanan penumpang. Pengungkapan ini diperkirakan menyelamatkan sekitar 2.076 orang dari penyalahgunaan narkotika, dengan nilai barang mencapai Rp3,3 miliar.
Kapolres Kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, AKBP Made Hendra Agustina, menyatakan bahwa polisi masih mendalami dugaan modus tersebut karena pemeriksaan sementara menunjukkan kedua tersangka bukan pasangan suami istri. Penyidik juga menelusuri tujuan akhir pengiriman ganja, apakah akan diserahkan kepada pihak tertentu di Bali atau dibawa melanjutkan perjalanan ke India. Keterangan sementara menyebutkan, AR dan PC mengaku menerima upah masing-masing 150 dolar AS dari seseorang di Thailand untuk membawa barang tersebut.
Kasus ini menyoroti kerentanan Indonesia sebagai jalur transit dan pasar narkoba regional. Dengan meningkatnya konektivitas penerbangan dari Thailand dan Singapura, bandara-bandara di Indonesia, khususnya Bali yang menjadi destinasi wisata utama, menjadi sasaran penyelundup. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa jaringan internasional kerap menggunakan kurir dengan imbalan kecil untuk mengelabui petugas, sementara nilai barang yang diselundupkan berkali-kali lipat lebih besar.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya penguatan pengawasan di pintu masuk, terutama dengan lonjakan wisatawan asing pasca-pandemi. Meski Bea Cukai dan kepolisian telah berhasil menggagalkan upaya ini, pertanyaan yang muncul adalah: seberapa besar jaringan yang belum terungkap? Apakah modus serupa telah lolos di bandara lain? Pengembangan kasus ini akan menjadi ujian bagi koordinasi antarlembaga dalam membongkar sindikat internasional yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, aparat diharapkan tidak hanya mengandalkan teknologi pemindai, tetapi juga intelijen dan analisis pola perjalanan. Profiling yang disebut Wawan Darmawan perlu diperluas, termasuk kerja sama dengan otoritas Thailand dan Singapura untuk memutus rantai pasok dari hulu. Jika tidak, celah-celah baru akan terus dieksploitasi, dan Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia bisa menjadi gerbang masuk narkoba yang lebih masif.



