Ekspor Pangan Jepang Cetak Rekor Baru, Matcha dan Ikan Jadi Primadona
Baca dalam 60 detik
- Nilai ekspor pangan Jepang semester I 2026 melonjak 10,9% menjadi ¥897,7 miliar, ditopang permintaan matcha dan seafood.
- Pertumbuhan melambat dibanding periode sama tahun lalu, namun hampir semua pasar utama mencatat rekor.
- Kenaikan harga beras dan ekspor teh hijau yang melejit membuka peluang bagi produk Indonesia di pasar global.

Tokyo – Ekspor produk pertanian, kehutanan, perikanan, dan pangan Jepang pada paruh pertama 2026 menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai ¥897,7 miliar atau setara US$5,7 miliar. Angka ini tumbuh 10,9% dibanding periode yang sama tahun lalu, menurut data resmi pemerintah yang dirilis Selasa (4/8/2026).
Pencapaian ini menandai tahun kedua berturut-turut Jepang mencatat rekor ekspor pangan pada semester awal. Seluruh sepuluh pasar utama, termasuk Amerika Serikat dan Hong Kong, menunjukkan pertumbuhan positif. Namun, laju ekspansi melambat dibandingkan lonjakan 15,5% pada semester I 2025, mengindikasikan pasar mulai jenuh setelah periode pertumbuhan tinggi.
Di balik angka tersebut, komoditas teh hijau menjadi bintang utama. Ekspor teh hijau melonjak 83,5% menjadi ¥48,2 miliar, didorong demam matcha global yang merambah produk latte dan dessert. Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menilai meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara turut memperluas pengenalan kuliner Jepang di luar negeri. Kesadaran kesehatan yang tumbuh serta perluasan jaringan distribusi di supermarket dan restoran internasional juga menjadi faktor pendorong.
Selain teh hijau, ekspor ikan kampachi (yellowtail) melesat 69% menjadi ¥43,4 miliar, terutama ke Amerika Utara dan Korea Selatan. Sementara itu, ekspor daging sapi, apel, serta saus dan bumbu campur juga mencatat rekor untuk periode Januari–Juni. Menariknya, ekspor beras justru turun volume akibat kelangkaan pasokan domestik, namun nilainya naik ke rekor ¥7,5 miliar karena harga yang lebih tinggi.
Dari sisi pasar, Amerika Serikat tetap menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor ¥162,6 miliar, tumbuh 15,3%. Korea Selatan mencatat kenaikan 20,5% berkat permintaan yellowtail dan bir, sementara Vietnam melonjak 35,4% didorong kerang dan makerel. Delapan dari sepuluh pasar utama, kecuali Hong Kong dan China, mencetak rekor ekspor semester pertama. Hong Kong tumbuh tipis 3%, sedangkan China naik 4,3%.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan pelajaran dan peluang. Pertumbuhan ekspor pangan Jepang yang didorong produk bernilai tambah seperti matcha menunjukkan bahwa diferensiasi produk dan penguatan citra asal (origin branding) mampu meningkatkan daya saing di pasar global. Indonesia, dengan kekayaan rempah dan kopi, dapat meniru strategi tersebut untuk menembus pasar premium. Di sisi lain, kelangkaan beras Jepang yang mendorong kenaikan harga justru membuka peluang bagi eksportir beras Indonesia untuk mengisi celah permintaan, meski harus bersaing dengan negara produsen lain seperti Thailand dan Vietnam.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Jepang mampu mempertahankan momentum ini di tengah melambatnya pertumbuhan dan potensi gejolak ekonomi global. Sementara itu, bagi Indonesia, keberhasilan Jepang menjadi bukti bahwa investasi pada kualitas dan promosi produk pangan dapat memberikan hasil nyata. Apakah Indonesia siap mengambil pelajaran serupa?



