Tambang Litium CATL di Jiangxi Masih Terkatung-Katung: Izin Lingkungan Belum Keluar, Produksi Dunia Terancam
Baca dalam 60 detik
- Tambang litium Jianxiawo milik CATL di Yichun, Jiangxi, belum beroperasi karena menunggu persetujuan analisis dampak lingkungan (Amdal).
- Perubahan status mineral dari lempung keramik menjadi bijih litium memaksa CATL menyusun ulang dokumen Amdal, memperpanjang masa jeda produksi yang sudah berjalan hampir setahun.
- Keterlambatan pembukaan kembali tambang ini berpotensi menekan pasokan litium global dan memengaruhi harga karbonat litium, termasuk bagi industri baterai dan kendaraan listrik di Indonesia.

Tambang litium Jianxiawo milik raksasa baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), di Kota Yichun, Provinsi Jiangxi, masih belum beroperasi hingga Jumat (7/8). Padahal, pasar telah berspekulasi bahwa tambang tersebut akan segera kembali berproduksi penuh setelah izin keselamatan terbit pada akhir Juni lalu. Namun, Dinas Ekologi dan Lingkungan Kabupaten Yifeng menegaskan bahwa proses persetujuan analisis dampak lingkungan (Amdal) belum rampung, dan aktivitas pengangkutan serta penghancuran bijih di lokasi masih dihentikan total.
Kebuntuan ini berawal dari perubahan status mineral di tambang tersebut, dari yang semula dikategorikan sebagai lempung keramik mengandung litium menjadi bijih litium. Perubahan itu mengharuskan CATL menyusun dokumen Amdal baru, yang baru dipublikasikan untuk konsultasi publik pada 27 Juli lalu. Shanghai Securities News, mengutip pernyataan biro lingkungan setempat, melaporkan bahwa CATL diminta segera menyelesaikan seluruh prosedur persetujuan Amdal. Sebelumnya, pada 29 Juni, CATL telah mengantongi izin keselamatan produksi, yang menjadi prasyarat penting untuk memulai kembali operasi setelah penangguhan sejak Agustus 2025 akibat izin penambangan yang kedaluwarsa.
Keterlambatan ini menepis ekspektasi pasar yang optimistis terhadap pemulihan cepat pasokan litium dari tambang tersebut. Sebelum ditutup, Jianxiawo merupakan salah satu tambang litium terbesar di China, dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 100.000 ton setara litium karbonat (LCE). Penutupan yang berkepanjangan ini diperkirakan mengurangi pasokan global litium sekitar 5-6%, sehingga memicu gejolak harga di pasar komoditas. Pada perdagangan Jumat pagi, kontrak litium karbonat berjangka paling aktif di Guangzhou Futures Exchange naik 1,36%, sementara saham CATL justru stagnan, hanya turun tipis 0,02%.
Bagi Indonesia, yang tengah gencar membangun ekosistem kendaraan listrik dan industri baterai, situasi ini menjadi sinyal penting. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia berupaya menarik investasi hilirisasi, termasuk pabrik baterai yang membutuhkan litium sebagai bahan baku utama. Jika pasokan litium global terganggu, biaya produksi baterai bisa meningkat, yang pada akhirnya memengaruhi daya saing produk kendaraan listrik di pasar domestik maupun ekspor. Pemerintah Indonesia pun tengah mendorong kerja sama dengan produsen baterai global, termasuk CATL, yang telah berinvestasi di proyek smelter nikel di Sulawesi Tengah.
Menurut analis komoditas di Singapore Exchange, ketidakpastian regulasi di China menjadi faktor utama yang menahan laju produksi litium. โProses Amdal yang berlarut-larut menunjukkan bahwa pemerintah China tidak akan mengorbankan standar lingkungan demi mengejar produksi. Ini bisa menjadi preseden bagi tambang-tambang lain yang beroperasi dengan izin serupa,โ ujarnya. Sementara itu, pengamat industri di Jakarta menilai bahwa Indonesia justru memiliki peluang untuk memperkuat posisi tawar dalam rantai pasok global, dengan mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan litium domestik, meskipun sumber daya litium lokal masih terbatas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat CATL dapat memenuhi persyaratan Amdal dan kapan tambang tersebut benar-benar beroperasi kembali. Jika proses ini berlarut hingga akhir tahun, dampaknya terhadap harga litium global bisa semakin signifikan, mendorong produsen baterai untuk mencari sumber alternatif atau menaikkan harga jual. Bagi Indonesia, momentum ini bisa menjadi peluang untuk menarik lebih banyak investasi di sektor hilir, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya keamanan pasokan bahan baku strategis. Apakah Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok baterai global? Hanya waktu yang akan menjawab.



